Laporan Praktikum Kecepatan Angin dalam Pertanaman jagung

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang 
   Kecepatan angin adalah kecepatan udara yang bergerak secara horizontal pada ketinggian dua meter diatas tanah.  Perbedaan tekanan udara antara asal dan tujuan angin merupakan faktor yang menentukan kecepatan angin. Kecepatan angin akan berbeda pada permukaan yang tertutup oleh vegetasi dengan ketinggian tertentu, misalnya tanaman padi, jagung, dan kedelai. Oleh karena itu, kecepatan angin dipengaruhi oleh karakteristik permukaan yang dilaluinya. Kecepatan angin dapat diukur dengan menggunakan alat yang disebut anemometer.
     Kecepatan angin sangat berpengaruh terhadap laju evapotranspirasi. Lahan yang berada di wilayah yang rata-rata kecepatan anginnya besar, perlu diberi  pematah  angin. Angin dalam budidaya pertanian dapat berpengaruh langsung pada tanaman. Namun pengaruh angin secara tidak langsung sangat komplek baik yang menguntungkan maupun merugikan bagi tanaman. Ditinjau dari segi keuntungannya angin sangat membantu dalam penyerbukan tanaman. Angin akan membawa serangga penyerbuk  lebih aktif membantu terjadinya persarian bunga dan pembenihan alamiah.
      Kecepatan angin didalam pertanaman berpengaruh terhadap sirkulasi udara yang selanjutnya akan mempengaruhi ketersediaan karbondioksida bagi tanaman sebagai material fotosintesis. Oleh karena itu, dilakukan praktikum pengamatan pengaruh kecepatan angin. Pada lahan tanaman jagung. Sehingga dapat diketahui pengaruh kecepatan angin pada pertumbuhan tanaman jagung kemudian diadakan penelitian yang dapat meningkatkan kualitas penanaman jagung dikemudian hari. 

2.2. Tujuan Praktikum 
   Praktikum bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam terhadap kecepatan angin pada pertanaman jagung dan pertumbuhan tanaman jagung.

3.3. Waktu dan Tempat Praktikum
   Acara ini dilaksanakan pada bulan April – Mei 2017 bertempat di kebun percobaan Fakultas Pertanian UNS desa Sukosari, kecamatan Jumantono, kabupaten Karanganyar.

II. ALAT DAN CARA KERJA 
2.1. Alat 
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah anemometer.

2.2. Cara Kerja
Cara kerja pada praktikum ini yaitu:
  1. Menyiapkan 4 petak tanam
  2. Menanam jagung pada 2 petak (dengan dan tanpa pematah angin) dengan jarak tanam 50cm x 40 cm
  3. Menanam jagung pada 2 petak (dengan dan tanpa pematah angin) dengan jarak tanam 25cm x 40 cm.
  4. Melakukan pengamatan kecepatan angin di atas tajuk tanaman dan di dalam tajuk tanaman, lalu dibandingkan antar perbedaan jarak tanam.

III. HASIL PENGAMATAN
Tabel 3.1. Hasil Pengamatan Kecepatan Angin
Tabel 3.2. Tinggi Tanaman Jagung pada Petak 25cm x 40cm
Tabel 3.3. Tinggi Tanaman Jagung pada Petak 50cm x 40cm
Tabel 3.4. Jumlah Daun Tanaman Jagung pada Petak 50cm x 40cm
Tabel 3.5. Jumlah Daun Tanaman Jagung pada Petak 25cm x 40cm
Gambar 3.1. Grafik Kontrol Pertamanan Jagung
Gambar 3.2. Grafik Pematah Pertamanan Jagung
Gambar 3.3. Grafik Tinggi Tamanan Jagung pada Petak 50cm x 40cm
Gambar 3.4. Grafik Kontrol Pertamanan Jagung pada Petakan 25 x 40cm

IV. PEMBAHASAN 
      Angin adalah suatu udara yang bergerak diakbibatkan  rotasi bumi serta perbedaan pada tekanan udara di sekitarnya. Angin tersebut bergerak dari tempat bertekanan udara tinggi ke tempat bertekanan udara rendah. Faktor yang menyebabkan angina, antara lain : lokasi, tinggi lokasi, gradient barometris, dan waktu. Kecepatan pada angin ditentukan oleh perbedaan tekanan udara diantara tempat asal serta juga tujuan angin dan juga resistensi medan yang dilaluinya (Hermawan 2007).
     Angin mengakibatkan meningkatnya penguapan, yang dengan kelembaban yang cukup mungkin dapat menguntungkan. Namun di daerah-daerah kering, banyak angin berpengaruh sangat buruk, karena mengakibatkan pengeringan yang kuat. Atmosfer stabil sering menyebabkan udara diam berkepanjangan dan tidak menguntungkan bagi metabolisme daun, karena menghambat penyerapan dan pembuangan gas pada proses fotosintesis dan respirasi. Tiupan angin akan meningkatkan aliran difusi gas CO2 dan O2 di permukaan daun sehingga memperlancar proses fotosintesis dan respirasi. Akan tetapi kecepatan angin yang terlalu tinggi dapat merusak organ tanaman dan penyebaran penyakit (Ridwan 2008).
      Kecepatan angin adalah jarak yang ditempuh oleh angin dalam per satuan waktu. Kecepatan angin dinyatakan dalam knot/jam, km/jam dan m/dtk. Kecepatan angin dalam klimatologi adalah kecepatan angin horizontal pada ketingian dua meter dari permukaan tanah yang ditanami dengan rumput. Kecepatan angin pada dasarnya ditentukan oleh perbedaan tekanan udara antara tempat asal dan tujuan angin (sebagai faktor pendorong ) dan resistensi medan yang dilaluinya. Sedangkan untuk menentukan arah angin digunakan bendera angin yang satuannya diukur dalam derajat ( skala 00 - 3600).
      Percobaan dilakukan pada dua petak dengan jarak berbeda yaitu 50cm x 40cm dan 25cm x 40cm. Terdapat dua perlakuan pada tanaman jagung yaitu tanpa pematah angin dan dengan pematah angin. Kedua perlakuan tersebut masih dibagi di dalam dan di luar. Pada lahan tanpa pematan angin (kontrol) di luar, petak dengan jarak tanam 50cm x 25cm terbesar adalah 2,1 pada pukul 10.00-10.30 WIB. Jarak tanam 25cm x 40cm di luar terbesar adalah 1,633 pada pukul 11.00-11.30 WIB. Sedangkan di dalam, pada jarak tanam 50cm x 40cm terbesar ialah 0,567 dan pada jarak tanam 25cm x 40cm terbesar ialah 0,567 pada pukul 09.00-09.30 WIB. Pada lahan dengan pematah angin di luar, pada jarak tanam 50cm x 40cm terbesar ialah 2,567 sedangkan pada jarak tanam 25cm x 40cm terbsar ialah 1,167. Sedangkan di dalam pada jarak tanam 50cm x 40cm kecepatan terbesar ialah 0,367 dan pada jarak tanam 25cm x 40cm ialah 0,1. Kecepatan angin pada petak pertanaman 25cm x 40cm cenderung stabil. Fluktuasi kecepatan angina terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya cara pengukuran kecepatan nagin yang salah dan jarak antar tanaman.
     Petak pertanaman 50cm x 40cm pada umunya memiliki kecepatan angina yang besar, karena jarak antar tanaman cukup lebar bila dibandingkan pertak pertanaman 25cm x 40cm. Kecepatan angina juga dapat mempengaruhi evapotranspirasi. Kecepatan angina membawa uap-uap air yang keluar dari tanaman sehingga proses transpirasi tanaman cepat terjadi. Kecepatan angina mempengaruhi siklus udara di sekitar pertanaman, yang berpengaruh pada penyediaan bahan fotosintesis dan hasil fotosintesis. Kecepatan angin juga mempengaruhi ketersediaan CO2 bagi tanaman. Ketersediaan CO2 tanaman sangatlah penting untuk proses fotosintesis. CO2 merupkan material pokok yang harus ada agar terjadi proses fotosinteis. Angin dapat menyediakan kebutuhan CO2 bagi tanaman atau malah sebaliknya, kecepatan angin mengurangi kebutuhan jumlah CO2 yang dibutuhkan tanaman.
     Petak tanam 25cm x 40cm pada umumnya memiliki kecepatan angin yang kecil bila dibandingkan petak tanam 50cm x 40cm, karena jarak antar lebih rapat. Udara yang datang tidak dapat maksimal masuk kedalam celah pertanaman. Namun dari hasil praktikum didapatkan kecepatan angin tertinggi pada petak 25cm x 40cm, hal ini dikarenakan angina yang datang lebih besar. Tidak setiap angina yang datang sama untuk setiap petak dalam waktu yang bersamaan.
    Praktikum acara 7 ini dilaksanakan pada musim kemarau yaitu pada bulan Mei. Pada musim kemarau, angin yang besar tidak dikehendaki, karena mempercepat penguapan sehingga tanah cepat kering. Sebaliknya bila angin itu terjadi pada musim penghujan bisa mengurangi kelembaban, karena banyak penguapan sehingga tanah tidak penuh dengan air. Dengan demikian tanaman akan tumbuh dengan lebih baik. Selain hal tersebut adanya angin yang besar sering merusak tanaman, bukan hanya karena pengaruh penguapan saja, tetapi langsung merusak tanaman, dapat roboh sehingga rusak (Aak 2009).
    Umumnya di daerah tropika basah seperti Indonesia, selain faktor iklim dan topografi, faktor bahan induk tanah paling dominan pengaruhnya terhadap ciri dan sifatnya tanah yang terbentuk serta potensinya untuk pertanian. Ketinggian akan mempengaruhi kecepatan angin, semakin tinggi suatu tempat akan berpengaruh terhadap tekanan dan kerapatan udara dan akibat perbedaan kerapatan udara berpengaruh terhadap kecepatan dan arah angin. Tanaman jagung dapat tumbuh baik pada dataran rendah maupun dataran tinggi dengan ketinggian antara 0-800 dan 800-1200 meter di atas permukaan laut (Wirosoedarmo et al 2011).
  Proses transpirasi pada tumbuhan dapat disebabkan oleh angin. Pergerakan udara akan menyebabkan terjadinya angin, dimana makin tinggi tingkat pergerakan udara atau makin kencangnya angin, akan mengakibatkan makin cepatnya molekul uap air keluar dari jaringan tanaman. Keadaan pergerakan molekul ditentukan oleh temperatur atau suhu. Makin tinggi suhu, maka akan mepercepat proses kehilangan air dari tanaman dan sebaliknya (Primadona 2014).

V. KESIMPULAN DAN SARAN 
5.1. Kesimpulan
Dari pengamatan yang dilakukan dapat disimpulkan :
  1. Pertanaman dengan petak 25cm x 40cm memiliki kecepatan angin yang lebih stabil.
  2. Kecepatan angin pada jarak tanam 50cm x 40cm lebih besar.
  3. Pematah angin menyebabkan kecepatan angin berkurang dan lebih kecil.
  4. Kecepatan angin dapat mempengaruhi evapotranspirasi.

5.2. Saran
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat diberikan saran :
  1. Sebaiknya praktikum dilakukan tepat waktu agar shift selanjutnya tidak selalu mundur.
  2. Pembagian penggunaan alat sebaiknya diberikan bersamaan dengan pembagian shift. 

DAFTAR PUSTAKA

Aak. 2009. Seri budi daya sayuran. Yogyakarta : Kanisius.
Hermawan. 2007. Pengaruh kecepatan angin dengan keadaan sekitar. J Lingkungan, 2(3): 221-234.
Primadona NP. 2014. Variabilitas angin dan gelombang laut sebagai energi terbarukan di Pantai Selatan Jawa Barat. J Akuatika, (5)1: 8-15.
Ridwan A. 2008. Pengaruh penurunan tekanan udara terhadap suhu keluar mesin pendingin. Malang: Jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang.
Wirosoedarmo R, Sutanhaji A, Kurniati E, Wijayanti R. 2011. Evaluasi kesesuaian lahan untuk tanaman jagung menggunakan metode analisis spasial. J Agritech, 31(1): 45-47.

Post a Comment

© super mipa. All rights reserved.