Laporan Praktikum Kesuburan Tanah

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 
    Tanah merupakan faktor terpenting dalam pertumbuhan tanaman yang berfungsi sebagai media tanam. Tanah harus dapat memenuhi kebutuhan tanaman akan unsur hara essensial baik makro maupun mikro. Unsur essensial sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tersedianya unsur hara bergantung pada tingkat kesuburan tanah dalam suatu wilayah. Kesuburan tanah merupakan kemampuan tanah menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk mendukung pertumbuhan dan reproduksinya. Kesuburan tanah ditentukan oleh keadaan fisika, kimia, dan biologi tanah. Keadaan fisika tanah meliputi kedalaman efektif, tekstur, struktur, kelembaban, dan tata udara tanah. Keadaan kimia tanah meliputi reaksi tanah (pH tanah), KTK, kejenuhan basa, bahan organik, banyaknya unsur hara, cadangan unsur hara dan ketersediaan terhadap pertumbuhan tanaman. 
    Keadaan biologi tanah meliputi aktivitas mikrobia perombak bahan organik dalam proses humifikasi dan pengikatan nitrogen udara. Kesuburan tanah adalah salah satu faktor penentu keberhasilan usaha pertanian. Setiap daerah memiliki tingkat kesuburan tanah yang berbeda-beda dan bergantung pada jenis tanah dan letak geografinya (Nidomudin et al, 2017). Penentuan tingkat kesuburan tanah dapat dilakukan dengan mengamati secara langsung sifat-sifat fisika, kimia, dan biologi tanah, serta gejala-gejala yang timbul dalam pertumbuhan tanaman.
      Profil kesuburan tanah merupakan hal yang  penting dalam pertanian karena merupakan media utama dalam bercocok tanam. Penggunaan pupuk kimia dan pestisida secara terus menerus dan berlebihan akan dapat menimbulkan perubahan sifat fisika dan kimia tanah yang pada akhirnya akan dapat menyebabkan tanah menjadi Profil kesuburan tanah merupakan hal yang  penting dalam pertanian karena merupakan media utama dalam bercocok tanam. Penggunaan pupuk kimia dan pestisida secara terus menerus dan berlebihan akan dapat menimbulkan perubahan sifat fisika dan kimia tanah yang pada akhirnya akan dapat menyebabkan tanah menjadi kritis (Prabowo dan Renan, 2017).Praktikum kesuburan tanah dilakukan guna mengetahui penentuan tingkat kesuburan tanah suatu wilayah melalui sifat-sifat fisika, kimia, dan biologi yang dapat di amati secara langsung. Tingkat kesuburan tanah dapat menentukan cara pengolahan tanah tersebut. Mata kuliah kesuburan tanah bermanfaat untuk mengetahui kandungan tanah yang baik sehingga dapat memudahkan dalam pengolahan tanah sebagai media tanam suatu tanaman. Oleh karena itu, mahasiswa pertanian diharapkan dapat mengolah tanah dengan memperhatikan tingkat kesuburan tanah sehingga dapat menentukan jenis tanaman yang cocok untuk ditanam pada lahan tersebut.

1.2. Tujuan
Praktikum kesuburan tanah memiliki tujuan, yaitu:
  1. Mahasiswa dapat melakukan analisis sifat kimia tanah.
  2. Mahasiswa dapat mengetahui pengaruh dari tindakan pemupukan atau pengolahan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman.
  3. Mahasiswa dapat mengetahui perubahan kondisi tanah sebelum dan sesudah penggunaan lahan.

II. PEMBAHASAN 
2.1. Pengamatan Kualitatif
Tabel 2.1. Hasil Pengukuran Tinggi Tanaman Jagung(Zea mays L)
Gambar 2.1. Grafik Histogram TinggiTanaman Jagung(Zea mays L)
     Tinggi tanaman merupakan indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter atau indikator untuk mengetahui pengaruh lingkungan. Bertambahnya tinggi taaman menandakan bertambahnya jumlah sel dalam tubuh tumbuhan. Tinggi tanaman dapat dikategorikan sebagai contoh dari proses pertumbuhan(Harjanti et al, 2014).
    Pengukuran tinggi pada tanaman jagung (Zea mays) dapat dilakukan dengan menggunakan penggaris. Cara pengukuran tinggi tanaman jagung (Zea mays) dimulai dari pangkal batang hingga ujung daun. Tinggi daun dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu misalnya pengaruh pemberian pupuk, tersedianya unsur hara dalam tanah. 
      Praktikum ini mengambil 4 sampel tinggi tanaman di empat daerah yang berbeda. Keempat daerah tersebut memiliki sifat tanah yang berbeda sehingga mempengaruhi tinggi tanaman di masing-masing daerah. Daerah pertumbuhan tanaman yang digunakan adalah daerah Colomadu (Inseptisol), Jumantono (Alfisol), Ngringo (Entisol), Jatikuwung (Vertisol).
      Praktikum kesuburan tanah ini menggunakan tanaman jagung sebagai indikator pengaruh jenis tanah terhadap tinggi tanaman. Status tanah itu subur atau tidak subur, maka haruslah dikaitkan dengan keadaan sifat fisik dan kimia tanahnya (kesuburan secara fisik dan kimia), karena bisa saja tanah itu subur secara fisik tetapi secara kimia tidak dan sebaliknya. Jadi tanah yang benar-benar subur itu adalah apabila didukung oleh faktor-faktor pertumbuhan, salah satu diantaranya sifat fisik dan kimia tanahnya juga dalam kondisi yang baik, karena sifat fisik dan kimia tanah itu saling mempengaruhi satu sama lain. Banyaknya jenis dan jumlah tanaman diduga juga dapat memberikan banyak kontribusi bagi kesuburan tanah, baik secara fisik maupun kimia pada tanah dibawahnya (Yamani, 2010).
       Hasil pengamatan tersebut menunjukkan bahwa tanaman jagung memiliki tinggi 101 cm pada tanah inseptisol, 71 cm pada tanah entisol, 54 cm pada tanah vertisol, 31 cm pada tanah alfisol. Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa setiap jenis tanah yang digunakan sebagai media tanam memiliki hasil yang berbeda untuk tinggi tanaman yang dihasilkan. Sebagai media pertumbuhan tanaman, jenis sifat dan kemampuan tanah dapat mempengaruhi tinggi tanaman tersebut (Saragih, 2017).

2.2. Pengamatan Kuantitatif
2.2.1. Analisis  Tanah
a. Bahan Organik
Tabel 2.2. Hasil Analisis Bahan Organik
Gambar 2.2. Hasil Regresi Bahan Organik
      Bahan senyawa organik yang terdapat di dalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik terlarut di dalam air, dan bahan organik yang stabil atau humus. Pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh bahan organik. Jenis tanah juga akan mempengaruhi bahan organik yang ada (Suriadi dan Nizam, 2015).
     Bahan organik memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan tanah untuk mendukung tanaman, sehingga jika kadar bahan organik tanah menurun, maka kemampuan tanah dalam mendukung produktivitas tanaman juga akan menurun. Menurunnya kadar bahan organik tanah merupakan salah satu bentuk kerusakan tanah yang umum terjadi. Kerusakan tanah merupakan masalah penting bagi negara berkembang karena intensitasnya yang cenderung meningkat sehingga tercipta tanah-tanah rusak yang jumlah dan intensitasnya yang bertambah (Lestari, 2009).
Pengujian kandungan bahan organik dilakukan dengan mengisi Ctka yang ditambah dengan K2Cr2O7 1 N untuk memutuskan ikatan CO pada Bahan Organik dan menambahkan H2SO4 pekat untuk memberikan suasana asam menjadi jingga yang menunjukkan masih terdapatnya sisa oksidator kemudian mengukur absorbansi larutan jernih dengan spektometer pada panjang gelombang 561 nm. Sebagai larutan standart 0 dan 25 0ppm, dengan memipet 0 dan 5 ml larutan standar 5000 ppm ke dalam labu ukur 50 ml. Berat tanah yang digunakan yaitu 0,5 g.
    Pada pengamatan ini, jenis tanah alfisol memiliki kadar bahan organik sebesar 2,72% dengan kriteria bahan organik tersebut sedang. Tanah tanah vertisol memiliki kadar bahan organik sebesar 3,979 % dengan kriteria bahan organik tersebut tinggi. Sedangkan pada tanah entisol memiliki kadar bahan organik sebesar 4,22% dengan kriteria bahan organik tersebut tinggi.
     Menurut Zulkarnain (2013). kandungan bahan organik tinggi menyebabkan banyaknya pori-pori tanah. Dengan penurunan kandungan bahan organik tanah maka berakibat kurang terikatnya butir-butir primer menjadi agregat oleh bahan organik sehingga porositas tanah menurun, penurunan porositas dapat berakibat penurunan laju infiltrasi. Kandungan bahan organik yang tinggi akan merangsang aktivitas jasad renik dalam menciptakan struktur remah. Kandungan Bahan organik yang tinggi akan menciptakan pori-pori tanah yang banyak sehingga daya serap air (infiltrasi) tinggi. Bahan organik merupakan faktor penting karena apabila kadar bahan organik tinggi maka KTK juga tinggi.
     Adanya bahan organik tanah yang berbeda dipengaruhi oleh iklim mikro dalam hal memcu atau menghambat laju dekomposisi. Iklim mikro terdiri dari kelembaban udara, suhu udara, dan intensitas cahaya. Faktor lain adalah tipe penggunaan lahan yang berpengaruh pada sumber penyediaan bahan organik. Sedangklan bentuk lahan mempengaruhi proses pengumpulan atau pencucian bahan organik (Dwiastuti et al, 2016).

b. N-Total, P-Tersedia, K-Tersedia
1. Analisis N-Total dalam Tanah
    Nitrogen merupakan unsur hara makro esensial, menyusun sekitar 1,5% bobot tanaman dan berfungsi terutama dalam pembentukan protein. Nitrogen total adalah jumlah total kjeldahl nitrogen (nitrogen organic) dalam tanah. Kandungan N total umumnya berkisar antara 2000-4000 kg/ha pada lapisan 0-20 cm tetapi tersedia bagi tanaman hanya kurang 3% dari jumlah tersebut.
Tabel 2.3. Hasil analisis N-Total Tanah
      Nitrogen (N) terdapat di dalam tanah dalam bentuk organik dan anorganik. Bentuk-bentuk organik meliputi NH4, NO3, NO2, N2O dan unsur N. Tanaman menyerap unsur ini terutama dalam bentuk NO3, namun bentuk lain yang juga dapat menyerap adalah NH4, dan urea (CO(N2))2 dalam bentuk NO3. Selanjutnya, dalam siklusnya, nitrogen organik di dalam tanah mengalami mineralisasi sedangkan bahan mineral mengalami imobilisasi. Sebagian N terangkut, sebagian kembali sebagai residu tanaman, hilang ke atmosfer dan kembali lagi, hilang melalui pencucian dan bertambah lagi melalui pemupukan. Ada yang hilang atau bertambah karena pengendapan. N total tanah dilakukan dengan mendestruksi larutan terlebih dahulu kemudian di destilasi dan yang terakhir adalah dititrasi. Larutan H2SO4 pekat digunakan untuk mendestruksi untuk mengetahui N total tanah hal tersebut dilakukan dengan menambahkan serbuk K2SO4 dan CuSO4 1 sendok kecil. Akhir mendestruksi larutan tersebut yaitu dengan menunggu hingga asap hilang dan larutan menjadi putih kehijauan atau tidak berwarna.
       Menurut Patti (2013),pada tiap horizon tanah terjadi perubahan N total disebabkan oleh kehilagan N total oleh alih rupa, juga dipengaruhi tingkat perombakan bahan organik. Sedangkan ke horizon bawah menunujukkan kenaikan N total ini diduga karena perombakan bahan organik yang belum intensif.
      Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui jika pada tanah alfisol memiliki N total sebesar 3,59% dengan kriteria N totalsangat rendah. pada tanah vertisol memiliki N total sebesar 26,9% dengan kriteria N totalsedang.pada tanah entisol memiliki N total sebesar 10,7% dengan kriteria N totalrendah.

2. P-Tersedia
Tabel 2.4. Hasil analisis P Tersedia
Tabel 2.5. Hasil penembakan larutan standar P-Tersedia
Gambar 2.3. Hasil Regresi P-Tersedia
      Fosfor (P) merupakan unsur hara yang diperlukan dalam jumlah besar (hara makro). Jumlah fosfor dalam tanaman lebih kecil  dibandingkan Nitrogen dan Kalium, tetapi fosfor dianggap sebagai kunci kehdupan. Unsur ini merupakan komponen tiap sel hidup dan cenderung terkonsentrasi dalam biji dan titik tumbuh tanaman. Unsur P dalam phospat adalah (Fosfor) sangat berguna bagi tubuhan karena berfungsi untuk merangsang pertumbuhan akar terutama pada awal-awal pertumbuhan, mempercepat pembungan, pemasakan biji dan buah.
      Kadar P tersedia diantaranya dipengaruhi oleh faktor koreksi kadar air dan faktor pengencer. Hasil data tersebut menunjukkan bahwa tanah yang memiliki kadar P tertinggi adalah tanah alfisol. Menurut Fajarditta et al (2012) secara umum dapat dikatakan bahwa bahan organik yang memperbesar ketersediaan P tanah melalui hasil dekomposisinya yang menghasilkan asam-asam organik dan karbondioksida.
        Fosfor (P) merupakan termasuk unsur hara makro, yakni unsur yang diperlukan dalam jumlah yang besar oleh tanaman. P tersedia dalam tanah menurut Nasution  (2014), berada dalam bentuk H2PO4- dan HPO42-. P tanah dapat dibedakan menjadi tak tersedia, potensial tersedia dan segera tesedia. P segera tersedia adalah bentuk P organik dan beberapa bentuk P anorganik yang relatif tidak tersedia seperti bentuk P terendapkan (Al-P, Ca-P, dan Mn-P) dan bentuk ini sering cenderung terakumulasi dalam keadaan stabil dan dalam keadaan tertentu dapat menjadi tersedia seperti penggenangan pada tanah sawah, sedangkan bentuk-bentuk lain seperti fosfolipid, asam nukleat dan protein fosfat dalam tanah hanya berkisar 2% dari total P organik.
      Ketersediaan P di dalam tanah pada umumnya sangat rendah, karena P banyak dijerap oleh klei, Al dan Fe maupun oleh alofan pada tanah andosol. Penambahan bahan organik dapat meningkatkan ketersediaan P dalam tanah karena asam organik hasil dekomposisi bahan organik memiliki kemampuan dalam mengikat kation seperti Al dan Fe melalui ikatan khelasi seingga fosfor (P) tersedia. Setiap jenis tanah memiliki respon yang berbeda dengan penambahan bahan organik dalam meningkatkan ketersediaan P.
      Faktor – faktor yang dapat berpengaruh terhadap kesediaan P dalam tanah antara lain bahan induk, tingkat perkembangan, dan pengelolaan tanah. Jika bahan induk yang dihasilkan tinggi maka P tersedia dalam tanah memiliki potensi ketersediaannya juga tinggi. Ketersediaan P dalam tanah juga dipengaruhi oleh bentuk rumus kimia dari senyawa P. Walaupun ketersediaan P tinggi namun belum tentu P tersebut dapat diserap oleh tanaman secara keseluruhan (Nursyamsi dan Setyorini, 2009)
Salah satu usaha untuk meningkatkan P larutan tanah dan mengurangi kekahatan P adalah dengan pemberian pupuk. Namun demikian, pemberian pupuk P pada tanah masam mengalami pelarutan dengan air tanah sehingga berubah menjadi larutan pupuk dan akan bereaksi dengan mineral liat dan oksida serta hidroksida alumunium dan besi menyebabkan perubahan kembali fosfat dari fase larutan ke bentuk- bentuk sukar larut seperti varisit dan strengit. Peristiwa ini disebut dengan istilah fiksasi P (Kaya,2009)

3. Analisis K-Tersedia Tanah
      Kalium (K) dalam tanah bersumber dari mineral primer tanah (feldspar, mika, vermikulit, biotit) dan bahan organik sisa tanaman. Unsur K dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah yang besar, yakni terbesar kedua setelah hara N. Kalium (K) dalam tanah bersumber pada pupuk buatan, pupuk kandang, sisa tanaman dan mineral K dalam tanah (Orthoclas, Mika, Muskovit dan Biotite). Sumber K dalam tanah berasal dari mineral yang melapuk dan melepaskan ion-ion kalium, selain itu dari bahan induk dan tanah yang muda. Kalium (K) menurut Supriyadi (2009) bertugas melancarkan metabolisme tubuh, memperbesar daya serap makanan, memperkuat jaringan tubuh tanaman. Kekurangan K mengakibatkan terhambatnya proses fotosintesis dan respirasi. Unsur K ditemukan dalam jumlah yang banyak di dalam tanah, tetapi hanya sebagian kecil yang digunakan oleh tanaman yaitu yang larut dalam air atau yang dapat dipertukarkan (dalam kolid tanah). Menurut Pahlevi (2016) Tanaman cenderung mengambil K dalam jumlah yang jauh lebih banyak dari yang dibutuhkan tetapi tidak menambah produksi.
Tabel 2.5. Hasil analisis K-Tersedia
Tabel 2.6. Hasil penembakan larutan standart K-Tersedia
Gambar 2.4. Hasil regresi K-Tersedia

     K diserap tanaman lebih besar daripada P, Ca dan Mg, tetapi lebih rendah jika dibandingkan dengan N. K di dalam tanah bersifat mobile sehingga mudah hilang melalui proses pencucian tau terbawa arus pergerakan air. Untuk hasil analisis unsur K tersedia tanah ini kandungan K tersedia tertinggi adalah 0,66ppm yang dimiliki oleh tanah vertisol dengan kriteria harkat tinggi. Untuk tanah entisol dan alfisol tergolong ke dalam kategori sedang. Hal tersebut terjadi karena antara K dan N yang berbanding terbalik sehingga apabila kandungan N total tanah sangat tinggi, maka kandungan K tersedia tanah akan sangat rendah. K tersedia tanah mampu mengikat N total tanah, sehingga jumlah N total tanah akan semakin bertambah dan K tersedia tanah akan semakin berkurang. Berdasarkan hasil analisis jumlah N lebih besar di bandingkan dengan jumlah K tersedia Tanah. Nilai K di dalam tanah dipengaruhi oleh banyak faktor.

2.2.2. Analisis Jaringan
a. N jaringan
      Nitrogen merupakan unsur hara esensial bagi tanaman yang diserap dalam bentuk ammonium dan nitrat, sebagian besar diserap dalam bentuk nitrat. Nitrat (N03) bermuatan negatif sehingga selalu berada dalam larutan tanah dan mudah diserap oleh tanaman namun lebih mudah juga tercuci. Sebaliknya ammonium bermuatan positif sehingga terikat oleh kaloid tanah, dan tidak mudah tercuci.Menurut Mulyadi (2012), N dapat merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, merupakan bagian dari sel (organ) tanaman itu sendiri, berfungsi untuk sintesa asam amino dan protein dalam tanaman, merangsang pertumbuhan vegetatif (warna hijau) seperti daun.
    Unsur hara N dalam tanah harus cukup tersedia pada fase pertumbuhan.N berfungsi untuk pembentukan atau pertumbuhan bagian vegetatif tanaman, seperti daun, batang dan akar. Selain itu, N juga berperan penting dalam hal pembentukan hijau daun yang berguna sekali dalam proses fotosintesis atau untuk membentuk protein, lemak dan berbagai persenyawaan organik serta meningkatkan mutu tanaman penghasil daun-daunan. Menurut Darmawijaya (2012) defisiensi unsure hara esensial khususnya N dapat menyebabkan khlorosis pada daun tua, karena unsure hara ini bersifa mobile.Gejala defisiensi unsure hara N adalah daun tua berwarna kekuningan, selain itu pertumbuhan tanaman yang kekurangan unsur.
Tabel 2.7. HasilAnalisis N-Jaringan
      N jaringan tanaman berdasarkan analisis laboratorium hasil dari beberapa jenis tanah yaitu tanah alfisol memiliki kadar N jaringan sebesar 10,024 yang tergolong cukup tinggi.  N jaringan tanaman pada tanah entisol sebesar 36,388. Nilai tersebut sangat tinggi bila dibandingkan dengan kebutuhan N oleh tanaman. Sehingga Nitrogen yang berlebih ini menghambat pertumbuhan.

b. P jaringan
   Unsur P merupakan unsur esensial bagi tanaman karena merupakan faktor pembatas yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman Setiap tanaman sedikitnya membutuhkan 16 unsur hara agar pertumbuhannya normal. Hara tersebut dapat berasal dari tanah maupun udara. Phosphor mempunyai kegunaan yang penting bagi pertumbuhan tanaman karena berfungsi untuk merangsang pertumbuhan akar terutama pada awal-awal pertumbuhan, mempercepat pembungaan, pemasakan biji dan buah. Fosfor merupakan unsur hara yang mobil pergerakannya di dalam jaringan tanaman (Aisyahet al, 2010)
     Menurut Darmawijaya (2012) perlakuan pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap kandungan P total tanaman jagung. Tanaman yang dipupuk NPK memperlihatkan peningkatan kandungan P total pada jaringan tanaman yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman yang dipupuk urea. Kandungan P total dalam jaringan tanaman selain berasal dari proses penyerapan unsur P yang berasal dari tanah juga adanya sumbangan P yang berasal dari proses katabolisme energi yang digunakan dalam berbagai reaksi metabolis. Kandungan P total dalam jaringan tanaman selain berasal dari proses penyerapan unsur P yang berasal dari tanah juga adanya sumbangan P yang berasal dari proses katabolisme energi yang digunakan dalam berbagai reaksi metabolis. 
Tabel 2.8. kadar P-Jaringan
Tabel 2.9. Hasil penembakan larutan standar P-Jaringan
Gambar 2.5. Hasil Regresi P-Jaringan
     Fosfor merupakan unsur hara yang mobil pergerakannya di dalam jaringan tanaman. Konsentrasi P dalam tanaman umumnya antara 0,1% sampai 0,4%.  Dari hasil pengamatan didapatkan kandungan P dalam jaringan pada tanah alfisol sebesar 0,88% ppm. Sedangkan pada tanah vertisol sebesar 0,187% ppm dan pada tanah entisol sebesar 0,69% ppm. Unsur P terdapat di seluruh sel hidup tanaman yang menyusun jaringan tanaman seperti asam nukleat, fosfolipida dan fitin. Jaringan tanaman P berperan dalam hampir semua proses reaksi biokimia. Peran P yang istimewa adalah proses penangkapan energi cahaya matahari dan kemudian mengubahnya menjadi energi biokimia. P merupakan komponen penyusun membran sel tanaman, penyusun enzimenzim, penyusun co-enzim, nukleotida (bahan penyusun asam nukleat), P juga ambil bagian dalam sintesis protein, terutama yang terdapat pada jaringan hijau, sintesis karbohidrat, memacu pembentukan bunga dan biji serta menentukan kemampuan berkecambah biji yang dijadikan benih. 

c. K Jaringan
     Menurut Hardjowigeno (2010),  kalium adalah hara esensial. Ion K dalam tanaman berfungsi sebagai aktifator enzim. Ketersediaan K ditanah masam umumnya rendah. Tanaman menyerap kalium dalam bentuk ion K+. Kalium di dalam tanah ada dalam berbagai bentuk, yang potensi penyerapannya untuk setiap tanaman berbeda-beda. Ion-ion K+ di dalam air tanah dan ion-ion K+ yang di adsorpsi, dapat langsung diserap. Di samping itu tanah mengandung juga persediaan mineral tertentu dalm bentuk berbagai macam silikat, dimana kalium membebaskan diri sebagai akibat dari pengaruh iklim.
   Faktor-faktor yang mempengaruhi kandungan K dalam tanaman antara lain suhu, kelembaban tanah, kandungan bahan organik, mikrobia pengikat unsur tersebut dari udara, pupuk kandang maupun pupuk buatan, hasil fiksasi dan limbah industri. Amonium sulfat  sulfat menurut Hakim (2009), merupakan suatu zat yang dipergunakan dalam mencari kadar K tersedia dalam tanah, lebih tepatnya digunakan di dalam proses perkolasi.Kalium merupakan unsur hara ketiga setelah Nitrogen dan Fosfor yang diserap oleh tanaman dalam bentuk ion K+.
Tabel 2.10. kadar K-Jaringan
Tabel 2.11. Hasil Penembakan Larutan Standart K-Jaringan
Gambar 2.6. Hasil Regresi K-Jaringan
     Berdasarkan hasil praktikum diperoleh K jaringan tanaman pada tanah alfisol sebesar 0,321 ppm. Kandungan tertinggi terdapat pada tanah entisol sebesar 1,0944 dan pada tanah vertisol dengan 0,89 ppm. Kita mengerti bahwa unsur K sangat banyak digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Sangat wajar jika kandungan K dalam jaringan cukup tinggi, sehingga mengakibatkan tanaman menjadi subur. Hal ini di pengaruhi faktor-faktor tersebut antara lain suhu, kelembaban tanah, kandungan bahan organik, mikrobia pengikat unsur tersebut dari udara, pupuk kandang maupun pupuk buatan, hasil fiksasi dan limbah industri. Namun, keberadaan unsur tersebut juga dipengaruhi oleh banyak hal yang membuat unsur tersebut sedikit atau bahkan menjadi tidak tersedia untuk tanaman, misalnya karna pencucian atau pelindian dan terikat oleh unsur lain yang menyebabkan tanah masam tau tidak dapat diserap oleh akar tanaman. 

III. KESIMPULAN DAN SARAN
3.1. Kesimpulan
      Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
  1. Adanya pengaruh pemupukan ditunjukkan dengan bertambahnya tinggi tanaman jagung. Jenis tanah yang memiliki tinggi tanaman tertinggi adalah inseptisol.
  2. Bahan Organik sangat mempengaruhi ketersediaan unsur- unsur hara dalam tanah. Baha organik tertinggi dimiliki oleh tanah entisol.
  3. Kandungan N total tanah  yaitu tertinggi pada tanah vertisol, salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah keadaan mikroorganisme penambat nitrogen.Kandungan P dalam tanah entisol memiliki ketersediaan P dalam tanah paling tinggi yaitu sebesar 6,426ppm.K dalam tanah tertinggi adalah 0,66 ppm yang dimiliki oleh tanah vertisol dengan kriteria harkat tinggi. Unsur K dalam tanah mempunyai sifat antagonis dengan unsur lain sehingga apabila kandungannya rendah maka akan terdesak oleh unsur lain.
  4. Kandungan N dalam jaringan tanaman yaitu 36,176%, bahwa kandungan N jaringan tanaman lebih banyak jika tanaman dipupuk. kandungan P dalam jaringan tanaman berkisar antara0-1ppm yang tertinggi 0,88% ppm. Kandungan K dalam jaringan tanaman sebesar 0-1,1% ppm, yang tertinggi 1,09%ppm.
3.2. Saran
   Berdasarkan Praktikum Kesuburan Tanah yang dilakukan di Lahan Jumantono, Kabupaten Karanganyar dan di Laboratorium Kimia Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta maka saran yang dianjurkan sebagai berikut : 
  1. Setiap perlakuan kiranya diberi dosis yang tepat agar hasilnya akurat dan sesuai dengan pengamatan.
  2. Pupuk yang baik digunakan untuk menanam jagung (zea mays) adalah pupuk lengkap N, P, dan K karena jika salah satu unsur hara tersebut tidak terpenuhi maka akan terjadi kekahatan dan jika terlalu banyak maka akan terjadi keracunan.
  3. Sebaiknya tanaman yang digunakan untuk pengamatan dilakukan pengamatan secara intensif agar hasilnya akurat.


DAFTAR PUSTAKA

Aisyah D.Suyono, A D. 2010. Komposisi kandungan fosfor pada tanaman padi sawah (Oryza sativa L.) berasal dari pupuk P dan bahan organik. Jurnal ilmu-ilmu hayati dan fisik 12(1):126-135
Darmawijaya, M Isa. 2012. Klasifikasi Tanah, Dasar Teori Bagi Peneliti Tanah dan Pelaksanaan Pertanian di Indonesia. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Dwiastuti S, Maridi, Suwarno dan Puspitasari D. 2016. Bahan organik tanah di lahan marginal dan faktor – faktor yang mempengaruhinya. Procending Biology education Conference 13(1):748-751
Hakim. 2009.  Dasar-dasar Kimia Tanah.  Yogyakarta: Universitas Gadjah mada.
Hardjowigeno 2010. Klasifikasi Tanah Dan Pedogenesis. Jakarta : Akapress.
Harjanti R A, Tohari, dan Utami S N. 2014. Pengaruh takaran pupuk nitrogen dan silika terhadap pertumbuhan awal (saccharum officinarium L.) pada inceptisol. Jurnal vegetalika 3(2):35-44
Kaya, Elizabeth. 2009. Ketersediaan fosfat, serapan fosfat, dan hasil tanaman jagung (Zea mays L.) akibat pemberian bokashi ela sagu dengan pupuk fosfat pada ultisols. Jurnal ilmu tanah dan lingkungan 9(1):30-36
Kaya. 2012. Budidaya Jagung Hibrida. Yogyakarta : Kanisius
Lestari Ardiyaningsih Puji. 2009. Pengembangan Pertanian Berkelanjutan Melalui Substitusi Pupuk Anorganik dengan Pupuk Organik. J. Agronomi 13 (1) : 38-44
Mulyadi Achmad.2012.Pengaruh Pemberian Legin, Pupuk NPK (15:15:15) dan Urea Pada Tanah Gambut Terhadap Kandungan N, P Total Pucuk dan Bintil Akar Kedelai (Glycine Max (L.) Merr.). Jurnal Kaunia 8 (1): 21-29
Nidomudin, Ahmad, Achmadi Prasita Nugroho, dan Mohammad Nur Cholis. 2017. Sistem Pakar Deteksi Tingkat Kesuburan Tanah Menggunakan Fuzzy Logic. Journal of Information Technology and Computer Science (JOINTECS). Vol. 2 No.2 Hal. 91-94.
Nursyamsi, D dan Setyorini, D. 2009. Ketersediaan P tanah- tanah netral dan alkalin. Jurnal tanah dan iklim 1(30):25-36
Pahlevi Reza Widhi, Bambang Guritno Dan Nur Edy Suminarti. 2016.Pengaruh Kombinasi Proporsi Pemupukan Nitrogen Dan Kalium Pada Pertumbuhan, Hasil Dan Kualitas Tanaman Ubi Jalar (Ipomea Batatas (L.) Lamb) Varietas Cilembu Pada Dataran Rendah. Jurnal Produksi Tanaman 4 (1): 16 – 22.
Patti P S. 2013. Analisis status nitrogen tanah dalam kaitannya denga serapan N oleh taaman padi sawah di Desa Waimital, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Jurnal Agrologia 2(1):51-58. 
Prabowo, Rossi dan Renan Subantoro. 2017. Analisis Tanah sebagai Indikator Tingkat Kesuburan Lahan Budidaya Pertanian di Kota Semarang. Jurnal Ilmiah Cendekia Eksakta. Vol. 2 No. 2 Hal. 59-64.
Saragih, Eva S P. 2017. Pengaruh perbedaan jenis tanah sebagai media tanam terhadap produksi budidaya okra hijau (abelmoschus esculantus (L.) Moench). Skripsi.
Supriyadi S. 2009. Status Unsur-Unsur Basa (Ca2+, Mg2+, K+, and Na+) di Lahan Kering Madura. Jurnal Agrovigor Vol. 2 (1) : 35-41
Suriadi A, Nazam M. 2015. Penilaian Kualitas Tanah Berdasarkan Kandungan Bahan Organik. Nusa Tenggara Barat : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB.
Yamani, Ahmad. 2010. Analisis Kadar Hara Makro Dalam Tanah Pada Tanaman Agroforestri di Desa Tambun Raya Kalimantan Tengah. Studi Budidaya Hutan, Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat. J. Hutan Tropis. 11(29): 32-37
Zulkarnain M. 2013. Pengaruh Kompos, Pupuk Kandang, dan Custom-Bio terhadap Sifat Tanah, Pertumbuhan dan Hasil Tebu (Saccharum officinarum L.) pada Entisol di Kebun Ngrangkah-Pawon, Kediri. Indonesian Greeen Technologi Journal Vol 2 (1) : 45-52.

Post a Comment

© super mipa. All rights reserved.