Laporan Praktikum Komunikasi Pertanian

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
     Komunikasi pertanian merupakan kegiatan dalam mengkomunikasikan hal-hal terkait dengan bidang pertanian dimana bertujuan untuk pembangunan pertanian. Pentingnya komunikasi pertanian yaitu mempercepat akselerasi pembangunan pertanian di segala bidang dan membentuk serta menguatkan citra baik pertanian di Indonesia. Pembangunan pertanian membutuhkan komunikasi pertanian yang dapat berupa sosialisai yang telah tersusun secacra matang. Faktor yang mempengaruhi keefektifan komunikasi yaitu keterisoliran, kompetensi komunikasi, dan strategi komunikasi. Hal ini didukung oleh terbaginya tipe penerima respon penyuluhan, mulai dari kelompok innovator; early adopter, early mayority, late adopter, dan kelompok penolak inovasi yang bersifat apatis (lagger). Hal ini membuat pentingnya sebuah pengetahuan mengenai bagaimana seharusnya penyajian komunikasi pertanian yang efektif dalam kegiatan penyuluhan terhadap ragam petani yang tersebar di berbagai daerah agar para petani dapat tercerahkan dan berkembang cara berpikirnya.
       Menurut dara survey Economist Intelligence Unit tahun 2016 di Indonesia, satu orang per tahun membuang / menyisakan 300 kg makanan. Sumber permasalahan dalam membuang makanan ini selain mengenai persoalan distribusi dan mafia, salahsatu sumber masalahnya juga karena individu seperti kita, mengambil makanan lebih dari kebutuhan atau tidak menghabiskannya. Kegiatan menyisakan makanan ini berpengaruh terhadap ketahanan pangan dan bidang pertanian. Ketahanan pangan tidak akan seimbang pada daerah-daerah tertentu yang belum secara rata dalam memperoleh makanan, sementara di daerah lain sisa makanan semakin menumpuk. Hal ini menyebabkan adanya kelangkaan pangan. Dampak negatif lainnya yaitu pada limbah makanan terhadap kelangkaan air, lahan, rusaknya keanekaragaman hayati, serta memicu perubahan iklim dan pemanasan global.
    Melalui praktikum komunikasi pertanian ini, dapat kami manfaatkan sebagai wadah untuk merubah sikap dan perilaku masyarakat terutama mahasiswa dalam menyikapi makanan. Dimana mahasiswa sering mengadakan acara besar maupun kecil yang didalamnya selalu ada makanan tersisa. Berdasarkan tujuan praktikum, praktikum ini bertujuan agar mahasiswa pertanian mampu mengenali masalah yang biasa terjadi di lingkungan kampus. Lalu, mengetahui serta melakukan apa yang harus ia lakukan untuk memperkuat ketahanan pangan di Indonesia. Tidak menyisakan makanan merupakan salah satu solusi dari pihak mahasiswa agar tidak memperburuk perubahan iklim atau pemanasan global, akibat meningkatknya CO2 yang bersumber dari makanan yang kita buang.

1.2. Tujuan Praktikum
1. Tujuan Umum
     Mahasiswa mampu mengimplementasikan pengetahuan komunikasi pertanian pada umumnya, mulai analisis khalayak, menentukan materi sesuai dengan kebutuhn sasaran, perencanaan/perancangan media dan metode yang akan digunakan dalam mengkomunikasikan inovasi pertanian.

2. Tujuan Khusus
Mahasiswa diharapkan mampu:
a. Mahasiswa dapat mengidentifikasi permasalahan riil berkaitan dengan pembangunan pertanian.
b. Mahasiswa mengenali dan mendeskripsikan karakteristik khalayak sasaran.
c. Mahasiswa merumuskan kebutuhan informasi khalayak sasaran komunikasi pertanian.
d. Mahasiswa merumuskan tujuan komunikasi pertanian.
e. Mahasiswa merencanakan media komunikasi pertanian.
f. Mahasiswa merancang/mendesain pesan komunikasi pertanian.
g. Mahasiswa mengaplikasikan hasil desain pesan komunikasi pertanian.

1.3. Tempat dan Waktu


II. LANDASAN TEORI
2.1. Komunikasi Pertanian
       Komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah sama makna. Komunikasi adalah proses pernyataan antar manusia, dan yang dinyatakannya itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai penyalurnya, dalam arti kata bahwa komunikasi itu minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua pihak yang terlibat. Minimal karena kegiatan komunikasi tidak hanya informatif, yakni agar orang lain mengerti dan tahu, tetapi juga persuasif, yaitu agar orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan, melakukan suatu perbuatan atau kegiatan  (Yogasuria, 2013).
     Sistem informasi komunikasi pertanian berperan untuk mengumpulkan, mengirimkan, memproses dan menyimpan data tentang sumber daya organisasi,  program, dan pencapaian kinerja atau prestasi. Informasi merupakan data yang memiliki makna dan berguna, serta dapat dikomunikasikan kepada penerima atau  pengguna  (stakeholders) untuk membuat suatu keputusan. Setiap manajer dan  partisipan yang terkait dalam pengembangan usaha tani padi (koperasi, swasta,  pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian dan pengembangan), pada  berbagai level memerlukan informasi yang relevan dalam rangka membuat keputusan yang efektif (Suryana, 2008).
       Peran komunikasi pembangunan pertanian juga penting dalam mewujudkan swasembada pangan dan diversifikasi pangan sebagai landasan terciptanya kemandirian pangan dan ketahanan pangan yang andal. Kemandirian panganhanya dapat terwujud jika pembangunan dilaksanakan atas prakarsa masyarakat sebagai bentuk kesadaran untuk membangun usaha tani modern dengan didukung strategi komunikasi yang efektif dan efisien. Adopsi inovasi teknologi akan meningkatkan produktivitas dan kualitas produk, menekan susut, meningkatkan nilai tambah dengan pendekatan pemberdayaan dan partisipasi petani serta memperkokoh kelembagaan dan daya saing (Rangkuti, 2009).
     Proses diseminasi inovasi pertanian kepada petani, komunikasi memegang peranan penting. Proses komunikasi dalam penyuluhan pertanian tersebut sedikitnya melibatkan lima unsur stakeholders, yaitu: (1) lembaga penelitian di dalamnya ada para peneliti, yang melakukan penelitian untuk menghasilkan teknologi yang diharapkan berguna bagi masyarakat petani, (2) lembaga penyuluhan yang di dalamnya terdapat para penyuluh, yang berperan dalam menyebarluaskan teknologi yang berguna bagi para petani, dan (3) masyarakat petani itu sendiri yang menjadi subyek penyuluhan, (4) lembaga pengaturan, dan (5) lembaga pelayanan. Pelaku pelaku dalam penyuluhan pertanian juga melibatkan pihak lain baik dari pihak swasta maupun pihak lainnya  (Sadono, 2009).
      Pakar komunikasi Rogers memberikan kontribusi yang besar dalam pengembangan komunikasi pembangunan pertanian melalui  berbagai penelitian tentang: (1) Difusi inovasi komunikasi dapat memberikan pengaruh terhadap inovasi dan  penemuan baru dibidang pertanian yang bisa disampaikan oleh komunikan kepada orang lain; (2) Partisipasi komunikasi dapat membuat orang lain turut berpartisipasi tentang apa yang disampaikan komunikator. Baik buruknya komunikasi yang disampaikan akan tercermin dari tingkat partisipasi masyarakat; (3) Pemberdayaan dan perubahan sosial masyarakat. Pemberdayaan petani dan masyarakat pada lingkungan sosial, ekonomi, dan realitas politik berkaitan dengan pendidikan keahlian untuk mengembangkan komunikasi antarpekerja atau petani. Jika pengembangan komunikasi berlanjut secara efektif dalam proses perubahan sosial, peneliti dan partisipan harus mengutamakan pemecahan masalah hubungan kemampuan yang tidak seimbang  (Melkote, 2007).

2.1. Permasalahan Pembangunan Pertanian
     Globalisasi ekonomi telah berdampak pada suatu keharusan bahwa pada pola pendekatan pembangunan pertanian ke depan, diarahkan kepada “Paradigma Pembangunan Pertanian Berkelanjutan” yang berada dalam konteks pembangunan manusia. Dampak yang ditimbulkan pada ekologi, ekonomi, sosial, budaya dan kesehatan masyarakat semakin meragukan masyarakat dunia akan keberlanjutan ekosistem pertanian dalam menopang kehidupan manusia pada masa mendatang. Paradigma pembangunan pertanian ini, bertumpu pada kemampuan bangsa untuk mewujudkan kesejahteraaan masyarakat dengan kemampuan sendiri, dengan memperhatikan potensi kelestarian lingkungannya (Sumodiningrat, 2000).
      Menurut Riyadi dan Deddy S. Bratakusumah (2004) masalah merupakan kondisi di luar harapan yang terjadi dalam suatu kegiatan. Masalah juga diidentifikasikan sebagai perbedaan atau kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Selain itu, dapat pula dikatakan sebagai perbedaan antara keinginan dengan kenyataan yang ada pada saat ini. 
     Masalah yang dihadapi oleh sektor pertanian di Negara-negara yang sedang berkembang pada abad 21 cukup berat. Untuk memecahkan masalah itu, diperlukan suatu perubahan yang mendasar terhadap paradigma pembangunan pertanian yang selama ini dianut oleh pemerintah Negara-negara tersebut dalam membangun sektor pertanian mereka. Paradigma modernisasi pertanian yang bertujuan untuk mengubah sektor pertanian tradisional menjadi sektor pertanian modern yang mampu meningkatkan produksi sektor pertanian, merupakan paradigm yang menjadi rujukan bagi semua pemerintahan di negara-negara yang sedang berkembang dalam membangun sektor pertanian mereka. Paradigma modernisasi pertanian tersebut dikenal dengan revolusi hijau (Soetrisno, 2002).
     Masalah mendasar bagi mayoritas petani Indonesia adalah ketidakberdayaan dalam melakukan negosiasi harga hasil produksinya. Posisi tawar petani pada saat ini umumnya lemah, hal ini merupakan salah satu kendala dalam usaha meningkatkan pendapatan petani. Lemahnya posisi tawar petani umumnya disebabkan petani kurang mendapatkan/memiliki akses pasar, informasi pasar dan permodalan yang kurang memadai. Petani kesulitan menjual hasil panennya karena tidak punya jalur pemasaran sendiri, akibatnya petani menggunakan sistim tebang jual, dengan sistim ini sebanyak 40 % dari hasil penjualan panenan menjadi milik tengkulak. Peningkatan produktivitas pertanian tidak lagi menjadi jaminan akan memberikan keuntungan layak bagi petani tanpa adanya kesetaraan pendapatan antara petani yang bergerak di sub sistem on farm dengan pelaku agribisnis di sub sektor hulu dan hilir. Kesetaraan pendapatan hanya dapat dicapai dengan peningkatan posisi tawar petani. Hal ini dapat dilakukan jika petani tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi menghimpun kekuatan dalam suatu lembaga yang betul-betul mampu menyalurkan aspirasi mereka (Nasrul, 2012). 
     Pembangunan pertanian berperan strategis dalam perekonomioan nasional. Peran strategis tersebut ditunjukkan oleh perannya dalam pembentukan kapital, penyediaan bahan pangan, bahan baku industri, pakan dan bioenergi, penyerap tenaga kerja, sumber devisa negara, dan sumber pendapatan, serta pelestarian lingkungan melalui praktek usahatani yang ramah lingkungan. Pembangunan pertanian di Indonesia diarahkan menuju pembangunan pertanian yang berkelanjutan (sustainable agriculture), sebagai bagian dari implementasi pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pembangunan pertanian (termasuk pembangunan perdesaan) yang berkelanjutan merupakan isu penting strategis yang menjadi perhatian dan pembicaraan disemua negaradewasa ini. Pembangunan pertanian berkelanjutan selain sudah menjadi tujuan, tetapi juga sudah menjadi paradigma pola pembangunan pertanian  (Rifai dan Anugrah, 2011).

2.3. Identifikasi Masalah
     Identifikasi adalah kegiatan mengenal atau menandai sesuatu, yang dimaknai sebagai proses penjaringan atau proses menemukan kasus. Identifikasi ini  memiliki dua konsep yaitu penyaringan (screening) dan identifikasi aktual (actual identification). Mengidentifikasi masalah berarti mengidentifikasi kondisi atau hal yang dirasa kurang baik (Handayani, 2018). 
    Identifikasi masalah merupakan serentetan pertanyaan-pertanyaan yang jawabnya harus ditemukan pada variabel yang akan diidentifikasi. Oleh sebab itu, dalam setiap melakukan penelitian perlu mengidentifikasi perumusan masalah. Identifikasi ini merupakan salah satu proses penelitian yang boleh dikatakan terpenting diantara proses lain. Tanpa identifikasi masalah, suatu proses akan menjadi sia-sia dan bahkan tidak akan membuahkan hasil apapun (Aziz, 2015).
      Identifikasi masalah adalah suatu tahap permulaan dari penguasaan masalah dimana  suatu objek tertentu dalam situasi tertentu kita dapat kenali sebagai suatu masalah. Tujuan identifikasi masalah agar kita maupun pembaca mendapatkan sejumlah masalah yang berhubungan dengan judul penelitian. Identifikasi masalah hanya diambil dari latar belakang. Pertanyaan dalam identifikasi masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya yang dimulai dengan kata bagaimana atau mengapa, karena mutunya lebih tinggi daripada hanya menjawab apa, siapa, dan dimana. Identifikasi masalah dalam penelitian kuantitatif bersifat deskriptif, hubungan (relationship), pengaruh (asosiative), dan perbedaan (difference) (Usman dan Purnomo, 2008). 
     Menurut Moleong (2008), identifikasi masalah diangkat berdasarkan latar belakang. Oleh karena itu, sebaiknya menghindari pengambilan identifikasi masalah diluar latar belakang. Bagian identifikasi masalah ini memiliki fungsi untuk menunjukkan bahwa banyak masalah yang dapat diangkat menjadi masalah penelitian.
      Penelitian dianggap penting dan dapat dilakukan jika terdapat permasalahan penelitian. Masalah diartikan sebagai suatu situasi dimana suatu fakta yang terjadi sudah menyimpang dari batas-batas toleransi yang diharapkan. Masalah juga diartikan sebagai kesenjangan yang perlu dicari jawabannya. Penelitian dapat dikembangkan berdasarkan kondisi problematik tertentu, seperti adanya kesenjangan antara teori dengan kenyataan atau penelitian terdahulu; kesenjangan tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi beberapa pertanyaan; dan pertanyaan tersebut memungkinkan untuk dijawab dan jawabannya lebih dari satu kemungkinan. Sebelum menetapkan berbagai identifikasi masalah, kesenjangan atau problematik yang akan dibahas diuraikan dahulu sebagai latar belakang masalah (Mahdiyah, 2009).
   Konsep identifikasi masalah adalah proses dan hasil pengenalan masalah atau inventarisasi masalah. Masalah penelitian akan menentukan kualitas suatu penelitian, bahkan hal tersebut juga menentukan apakah sebuah kegiatan dapat dikatakan penelitian atau tidak. Masalah penelitian secara umum dapat ditemukan melalui studi literatur atau lewat pengamatan lapangan, dan sebagainya (Hartono, 2011).

2.4. Sasaran Komunikasi Pertanian
1) Karakteristik Khalayak Sasaran Komunikasi
    Khalayak sasaran di suatu daerah pertanian memiliki karakteristik yang berbeda-beda, oleh karenanya penyajian komunikasinya pun perlu disesuaikan dengan daerah masing-masing petani. Petani yang masih berada di daerah pedesaan yang terisolir tentunya lebih efektif jika diberikan penyuluhan dengan metode dialog dua arah serta pendekatan interpersonal. Kajian yang mendalam diperlukan untuk mengindetifikasi peran petugas penyuluh sebagai komunikator, fasilitator, mediator, motivator, dan educator dalam kegiatan penyuluhan terhadap kelompok tani dan petani agar para petani dapat tercerahkan dan berkembang cara berpikirnya (Ido, 2009).
     Sebanyak mungkin informasi mengenasi khalayak yang akan menjadi sasaran harus dikumpulkan. Faktor-faktor demografi yang telah diketahui akan meningkatkan kebutuhan. Minat, kekhawatiran, pengetahuan, nilai-nilai, sikap, kepercayaan, kendala terhadap perubahan perilaku, hal yang memotivasi, tradisi budaya, Bahasa yang biasa dipakai, menjadikan seseorang mampu mengembangkan peran yang menarik dan berfokus pada khalayak. Pengetahuan tentang “tahapan perubahan” yang tengah dialami khalayak juga dapat membantu kita. Informasi yang dibutuhkan penting untuk membantu menetapkan bagaimana dokumen akan terbentuk dan pesan yang akan diberikan (Bensley, 2003).
     Pendekatan penyuluhan yang tepat sesuai dengan karakteristik khalayak sasaran menggunakan beberapa hal. Hal-hal tersebut meliput: kesesuaian informasi, ketepatan metode, penggunaan berbagai teknik penyuluhan, dan penggunaan media dalam penyuluhan. Penggunaan media juga merupakan salah satu cara untuk meningkatkan dukungan penyuluh sebagai komunikator dalam proses komunikasi antara petani dan penyuluh dan penguatan kelembagaan penyuluhan pertanian, meliput: ketersediaan program penyuluhan, kemudahan akses, dukungan fasilitas yang diperlukan, dan pelaksanaan program penyuluhan adalah reposisi penguatan kelembagaan penyuluhan dalam memperkuat posisi penyuluh dalam proses komunikasi kepada petani (Effendy, 2004).
   Khalayak sasaran dapat berupa opinion leader, individu, dan kelompok-kelompok sosial masyarakat, seperti kelompok tani, kelompok PKK, kelompok forum media, dan sebagainya. Masing-masing khalayak sasaran tersebut membutuhkan teknis komunikasi yang berbeda. Khalayak hendaklah dipandang sbagai pihak yang setara dengan pihak pelaksana komunikasi, dalam arti mereka pun berperan aktif. Sebagai pihak yagn diajak berkomunikasi khlayak juga bersifat memutuskan sendiri apakah mereka menerima atau tidak, melaksanakan atau tidak, pesan-pesan yang dikomunikasikan kepada mereka (Hadiyanto, 2009).
     Keberhasilan strategi komunikasi pembangunan memiliki kriteria dari sudut khalayak sasaran yang dicirikan oleh ha-hal sebagai berikut:
a) Adanya unsur pemahaman, kepedulian, dan kemampuan masyarakat dalam menyeleksi dan menerapkan beragam inovasi.
b) Komitmen dan kesepakatan aktif untuk meningkatkan kesuksesan beragam dimeni program pembangunan.
c) Kehidupan yang lebih baik.

   Kriteria keberhasilan strategi komunikasi pembangunan dari sudut pelaku komunikasi pembangunan dicirikan oleh hal-hal sebagai berikut :
a) Citra positif pelaku komunikasi pembangunan di mata masyarakat dengan cara memberikan kemudahan pelayanan komunikasi.
b) Penyampaian informasi pembangunan yang lengkap dan benar berkenaan dengan prioritas utama pada kepentingan khalayak sasaran.
c) Perluasan jangkauan informasi dan pemantapan kelembagaan masyarakt dengan memperhatikan aspek kebudayaan setempat. (Satriani et al, 2011).

2.5. Tujuan Komunikasi
   Menurut Riant (2004), tujuan komunikasi adalah menciptakan pemahaman bersama atau mengubah persepsi, bahkan perilaku. Katz an Robert Kahn mengatakan bahwa hal utama dari komunikasi adalah pertukaran informasi dan penyampaian makna suatu system social atau organisasi (Ahmad, 2013). Rosadi (2003), mengatakan komunikasi tidak hanya menyampaikan informasi atau pesan saja, tetapi komunikasi dilakukan seorang dengan pihak lainnya dalam upaya membentuk suatu makna serta mengemban harapan-harapannya. Komunikasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan betapa efektifnya orang-orang bekerja sama dan mengkoordinasikan usaha-usaha untuk mencapai tujuan. Tujuan komunikasi antara lain, yaitu: 1) Pesan dapat tersampaikan, sebagai komunikator kita harus menjelaskan kepada komunikan (penerima) dengan sebaik-baiknya dan tuntas sehingga mereka dapat mengerti dan mengakui apa yang kita maksud; 2) Memahami tentang orang lain, sebagai komunikator harus mengerti benar aspirasi masyarakat tentang apa yang diinginkan kemauannya; 3) Gagasan dapat diterima orang lain. Gagasan dapat diterima orang lain dilakukan dengan usaha dengan pendekatan persuasive bukan memaksakan kehendak; 4) Menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu, menggerakan sesuatu itu dapat bermacam-macam, mungkin berupa kegiatan. Kegiatan dimaksud di sini adalah kegiatan yang lebih banyak mendorong, namun yang penting harus diingat adalah bagaimana cara baik untuk melakukan (Widjaja, 2003).

2.6. Perencanaan Media Komunikasi
     Komunikasi merupakan kebutuhan manusia, setiap aspek kehidupan kita sehari-hari dipengaruhi oleh komunikasi kita dengan orang lain. Komunikasi juga membantu kita untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Komunikasi juga dapat dimaknai sebagai keterhubungan proses menciptaan dan memaknai pesan yang mendatangkan respon. Proses komunikasi tidak dapat berlangsung tanpa didukung oleh unsur-unsur komunikasi yang biasa disebut dengan elemen komunikasi. Elemen komunikasi antara lain media yaitu wahana/alat untuk menyampaikan pesan dari komunikator (sumber) kepada komunikan (penerima) baik secara langsung (tatap muka), maupun tidak langsung (melalui media cetak/elektronik dll) dan komuikatoor yakni mereka yang melakukan pengiriman pesan tersebut. Paradigma Lasswell tersebut, komunikasi merupakan proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu (Burhan, 2006).
     Pencapaian sasaran komunikasi yang baik, sebagai komunikator dapat memilih salah satu atau gabungan dari beberapa media, bergantung pada tujuan yang akan dicapai, pesan yang akan disampaikan, dan teknik yang akan digunakan.man yang terbaik dari sekian banyak media komunikasi itu tidak dapat ditegaskan dengan pasti sebab masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan (Burhan, 2007).
      Penggunaan media sebagai alat penyalur ide, dalam rangka merebut pengaruh dalam masyarakat, dalam abad ke-20 ini, adalah suatu hal yang merupakan keharusan. Media massa dapat menjangkau jumlah besar khalayak, juga dewasa ini rasanya kita tak dapat lagi hidup tanpa surat kabar, radio, film dan mungkin juga televisi. Bentuk perwujudan media komunikasi massa akan menimbulkan efek di masyarakat (Irwanto, 2010). 
     Proses komunikasi pertanian bisa disampaikan melalui berbagai media untuk memudahkannya. Praktikum kali ini kami akan menyampaikan pesan melalui proses penyuluhan, sehingga kami akan memakai berbagai media antara lain melalui Powerpoint dan booklet (leaflet). Penyuluhan adalah proses aktif yang memerlukan interaksi antara penyuluh dan yang disuluh agar terbangun proses perubahan perilaku. Kegiatan penyuluhan tidak terhenti pada penyebarluasan informasi, dan memberikan penerangan. Proses yang dilakukan secara terus menerus, sekuat tenaga dan pikiran, memakan waktu dan melelahkan, sampai terjadinya perubahan perilaku yang ditunjukkan oleh penerima manfaat penyuluhan yang menjadi sasaran penyuluhan (Benawa, 2010).
     Powerpoint merupakan sebuah alat bantu dimana materi akan dibuat ringkas dan nantinya akan diproyeksikan ke layar. Booklet merupakan barang cetakan yang berisikan gambar  dan tulisan (lebih dominan) yang berbentuk buku  kecil setebal 10 - 25 halaman, dan paling banyak 50 halaman. Leaflet dan folder, booklet  juga dimaksudkan untuk mempengaruhi pengetahuan dan ketrampilan penerima manfaat  tetapi pada tahapan menilai, mencoba, dan menerapkan (Lukas dan Suharsono, 2013).

2.7. Perancangan dan Desain Komunikasi 
     Pengukuran tingkat pengetahuan, sikap, dan penerapan teknologi memberikan informasi awal untuk pendekatan komunikasi terutama untuk desain pesan. Pengukuran pengetahuan disusun bersama peternak secara partisipatif. Pengukuran pengetahuan selanjutnya dijadikan instrumen dalam baseline study (Mody, 2000). Menurut Severin dan Tankard (2005), tujuan Komunikasi dan Desain Pesan. Tujuan komunikasi untuk pemberdayaan hendaknya dirumuskan secara spesifi k, terukur, dapat dijangkau, realistis dan sesuai dengan waktu yang tersedia. Desain pesan yakni suatu perencanaan untuk menjadikan bentuk fisik dari pesan.
     Saat ini teknologi multimedia pembelajaran berbasiskan komputer grafis berkembang lebih cepat daripada perkem- bangan pengetahuan tentang bagaimana desain pesan yang estetik-seduktif, yang menonjolkan aspek entertaining dan hyperealistik dewasa ini sudah merupakan hal yang biasa. Para desainer multimedia semakin dimudahkan dalam pekerjaannya karena tersedianya perangkat-perangkat lunak yang canggih dan mudah dioperasionalkan (Liu, dkk (2003) dalam Pranata, 2013).
    Pendekatan desain pesan (message design mode). Pendekatan ini cocok untuk tujuan persuasi, advokasi, informasi dan promosi. Media komunikasi yang dipilih untuk diujicobakan adalah komunikasi langsung berupa pertemuan kelompok dan pemanfaatan media komunikasi cetak berupa leaflet sejalan hasil penelitian (Ngathou et al., 2006).
    Setiap lembar bahan tayang hanya memuat satu ide, jika informasi yang akan ditulis terlalu banyak, gunakan beberapa lembar bahan tayang. Hal ini lebih baik daripada menggunakan satu lembar bahan tayang yang rumit. Butir-butir yang ditulis dalam satu lembar bahan tayang tidak lebih dari 6 (enam) pesan. Jika memang harus lebih, gunakan lembar bahan tayang secara tertutup dan bukalah butir demi butir setiap kali dibutuhkan. Tulisan dalam lembaran bahan tayang tidak lebih dari sepuluh baris kalimat. Setiap baris terdiri atas enam atau tujuh kata (Leslie, 2005).

2.8. Evaluasi Komunikasi Pertanian
     Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan, pengembangan profesionalisme dan pengembangan jejaring kerja dan kemitraan (networking) berada pada kategori kurang. Mardikanto (1992:183) menengarai lemahnya sistem pelaporan dan evaluasi dalam administrasi penyuluhan yang mencakup: kalender kerja/programa penyuluhan, laporan perkembangan kegiatan, dan laporan hasil kegiatan (Mardikanto 1992 dalam Suhada et al, 2008).
   Rendahnya pengembangan jejaring kerja (networking) dan kemitraan diidentifikasi oleh Mardikanto (1992:183), di mana lembaga penyuluhan sangat lemah dalam komunikasi dan koordinasi dengan lembaga-lembaga terkait terutama dengan pusat-pusat informasi (lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan lembaga pemberitaan (Mardikanto dalam Rohmani 2001).
     Rencana monitoring dan evaluasi disusun oleh para penyuluh yang berada di pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan/ desa bersama para pelaku utama dan pelaku usaha. Rencana monitoring dan evaluasi meliputi: (a) Penetapan indikator dan ukuran keberhasilan programa, indikator ditetapkan berdasarkan tujuan kegiatankegiatan (keluaran/output) yang telah ditetapkan dalam programa, ukuran keberhasilan ditetapkan berdasarkan indikator yang dapat diukur (data kualitatif dan kuantitatif); (b) Penyusunan instrumen monitoring dan evaluasi, instrumen monitoring disusun berdasarkan rencana dan realisasi kegiatan-kegiatan yang tercantum dalam programa penyuluhan, instrumen evaluasi disusun dalam bentuk daftar pertanyaan/daftar isian berdasarkan indikator yang telah ditetapkan; (c) Penetapan jadual monitoring dan evaluasi monitoring dilakukan paling kurang 3 (tiga) bulan sekali atau triwulanan, sedangkan evaluasi dilakukan menjelang akan disusunnya programa penyuluhan tahun berikutnya (Widodo, 2006).
     Evaluasi penting dilakukan untuk mengukur sejauh mana media penyuluhan pertanian yang telah dipilih dan digunakan. Manfaatnya terhadap pemilihan bahan perbaikan dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan media penyuluhan pertanian pada periode berikutnya secara berkesinambungan. Evaluasi, meliputi evaluasi dapat dilakukan selama kegiatan berlangsung dan pada waktu kegiatan telah selesai. Hal-hal yang dievaluasi adalah materi pelaksanaan, lokasi dan biaya penyelanggaraan  (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2013).
        Ada beberapa tahap dalam evaluasi. Tahap evaluasi, meliputi:  Hambatan-hambatan/sebab-sebab kegagalan, Pemasaran hasil, Pengelolaan usaha, Keuntungan-keuntungan yang sudah dirasakan masyarakat, Catat hasil kunjungan, masalah-masalah yang sudah dibicarakan dan yang belum terpecahkan, dan pesan-pesan petani dalam bentuk risalah (Gemiharto, 2016).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN 

3.1. Permasalahan Riil Pembangunan Pertanian
       Berdasarkan data Food and Agriculture Organization memperkirakan secara global sepertiga dari makanan yang dikonsumsi manusia rata-rata terbuang sekitar 1,3 miliar ton pertahun. Menurut World Resources Institute, lembaga penelitian lingkungan, dibalik 1,3 miliyar ton makanan yang terbuang setiap tahun di seluruh dunia, terdapat 45 triliun galon air yang juga terbuang. Angka tersebut mewakili 24 persen air yang digunakan untuk agrikultur. Sektor tersebut menggunakan 70 persen air bersih di seluruh dunia. Pemandangan makanan yang disisakan terlihat berbagai acara pesta, jamuan makan dan acara lain sejenisnya, bisa disaksikan sisa makanan yang begitu banyak. Perlu diketahui dengan membuang makanan tentu saja membuang sumber daya dan energi yang lain. Fenomena itu memang benar-benar telah terjadi. Banyak orang yang tidak segan untuk membuang makanan sisa. Membuang makan sisa memang bukan tindak kejahatan. Namun, dampaknya sangat fatal bagi kelangsungan hidup manusia. Kondisi tersebut memicu munculnya anti-wasting food movement di berbagai negara. Pemborosan itu terjadi di tengah makin rawannya keamanan dan ketahanan pangan dunia. 
     Setiap acara  besar maupun kecil yang diselenggarakan di lingkup kampus selalu menyisakan makanan pada akhirnya. Makanan tersebut sering dibuang oleh mahasiswa dikarenakan sudah tidak selera untuk memakannya, sudah kenyang, maupun tidak suka dengan menu yang diberikan. Hal ini menjadi permasalahan yang krusial bagi para petani yang tugas utamanya memproduksi pangan. Kita sebagai mahasiswa pertanian yang notabennya peduli dengan pangan, seharusnya memberi contoh yang baik bagi lingkungan sekitar. Menurut Suharto (2005), permasalahan yang dihadapi petani merupakan suatu kondisi yang menuntut suatu pemecahan dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan petani sehingga petani mampu mencapai suatu kondisi sejahtera.
  Menurut Rifai dan Anugrah (2011) pembangunan pertanian berperan strategis dalam perekonomioan nasional. Peran strategis tersebut ditunjukkan oleh perannya dalam pembentukan kapital, penyediaan bahan pangan, bahan baku industri, pakan dan bioenergi, penyerap tenaga kerja, sumber devisa negara, dan sumber pendapatan, serta pelestarian lingkungan melalui praktek usahatani yang ramah lingkungan. Pembangunan pertanian di Indonesia diarahkan menuju pembangunan pertanian yang berkelanjutan (sustainable agriculture), sebagai bagian dari implementasi pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pembangunan pertanian (termasuk pembangunan perdesaan) yang berkelanjutan merupakan isu penting strategis yang menjadi perhatian dan pembicaraan di semua negara dewasa ini. Pembangunan pertanian berkelanjutan selain sudah menjadi tujuan, tetapi juga sudah menjadi paradigma pola pembangunan pertanian.
    Wasting Food itu sendiri mempengaruhi ekosistem lingkungan dimana Menurut Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim Institut Teknologi Surabaya (ITS), FAO memperkirakan bahwa sepertiga dari produksi pangan global akan terbuang atau hilang. Limbah makanan itu menguras potensi sumber daya alam yang besar, namun justru menjadi kontributor terhadap dampak lingkungan yang negatif. Setelah berada di tempat pembuangan sampah, makanan rusak akan menghasilkan gas metan. Metana 23 kali lebih kuat daripada CO2 untuk menyumbang pembentukan emisi gas rumah kaca yang memberikan kontribusi besar terhadap perubahan iklim saat ini. Menurut FAO, sampah makanan memberikan kontribusi sebesar 8% emisi GHG (Green House Gas).
    Karena efek rumah kaca, sinar matahari memancarkan radiasi ultraviolet ke bumi yang akan diterima oleh bumi dan dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah. Atmosfer akan meneruskan radiasi inframerah ini ke luar angkasa. Namun karena terdapat gas rumah kaca yang terperangkap di atmosfer akan menghalanginya sehingga dipantulkannya kembali radiasi inframerah ini ke bumi. Ditambah dengan radiasi ultraviolet dari matahari, akan menyebabkan naiknya suhu permukan bumi. Efek rumah kaca telah meningkatkan suhu bumi rata-rata 1-5°C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global. Oleh karena itu, makanan yang terbuang di tempat sampah berkontribusi  cukup besar terhadap pemanasan global.
     Selain daripada itu sisa makanan mengandung konten organik dan kelembaban tinggi, ketika membusuk akan menghasilkan bau menyengat yang akan berdampak serius terhadap lingkungan hidup dan kesehatan kita. Dengan mengurangi sampah makanan, secara tidak langsung kita juga mengurangi resiko terjadinya climate change atau perubahan iklim. Berdasarkan FAO, Jika pemanfaatan makanan dan proses distribusi dapat dioptimalkan atau ditata secara baik, maka 14% dari seluruh emisi GHG yang berasal dari sektor pertanian, dapat direduksi pada 2050.

3.2. Deskripsi Khalayak Sasaran Komunikasi
       Khalayak sasaran yang kami tuju pada praktikum ini adalah mahasiswa se-Indonesia. Penentuan sasaran ini didasarkan karena lingkungan kampus sering mengadakan acara besar ataupun kecil seperti halnya seminar atau semacamnya dengan memberikan makanan. Makanan tersebut baik makanan ringan maupun berat. Mahasiswa merupakan salah satu subjek sasaran yang sering menyisakan maupun membuang makanan.
      Menurut Cangara (2011), penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber. Penerima bisa terdiri dari satu orang atau lebih, bisa dalam bentuk kelompok, partai, atau negara. Penerima biasa disebut dengan khalayak, sasaran, komunikan, atau dalam bahasa Inggris disebut audience atau receiver. Pesan yang disampaikan dan diterima oleh komunikan dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan sifatnya yaitu konsumtif dan instrumental. Efek konsumtif merupakan pengaruh komunikasi pesan yang dapat langsung diresap dan diamati sementara efek instrumental merupakan pengaruh pesan tidak langsung yang manfaatnya dirasakan oleh komunikan namun tidak dapat diamati langsung oleh komunikator (Suprapto, 2009).

3.3. Tujuan Komunikasi
    Tujuan komunikasi ini antara lain pertama untuk menyadarkan khalayak sasaran agar lebih menghargai makanan dengan tidak membuang maupun menyisakannya. Makanan terutama nasi berasal dari panen petani yang telah ditanam dengan segala bentuk perawatan dan pengelolaan. Oleh karena itu, kita harus lebih peduli dan menghormati nikmat apa yang telah diberikan kepada kita dimana belum tentu orang lain mendapatkannya. Kedua, lingkungan lebih bersih dan nyaman ketika dipandang. Sampah sisa makanan yang menumpuk akan lebih mengganggu pemandangan dan menyebabkan sarang semut maupun serangga. Ketiga, mewujudkan Go Green di lingkungan kampus. Beberapa kampus yang menerapkan program Go Green salah satunya terdapat aspek untuk menata lingkungan agar terlihat lebih nyaman dan rapi.
     Tujuan komunikasi adalah segala bentuk aktivitas yang dilakukan oleh individu dengan tujuan menyampaikan pesannya pada orang lain. Jika pesan yang dimaksudkan tersebut tidak sesuai dengan penangkapan lawan bicara, maka kemungkinan besar akan menyebabkan terjadinya miskomunikasi, sehingga berdasarkan hal tersebut dibutuhkan suatu bentuk komunikasi yang efektif (Fourianalistyawati, 2012). Secara sederhana, kegiatan komunikasi dipahami sebagai kegiatan penyampaian dan penerimaan pesan atau ide dari satu pihak ke pihak lain, dengan tujuan untuk mencapai kesamaan pandangan atas ide yang dipertukarkan tersebut.
   Penentuan  tujuan komunikasi beberapa hal yang harus diperhatikan adalah: 1) Komunikator menentukan tanggapan dan efek yang diharapkan dari komunikasi yang disampaikan, 2) Komunikator harus mengetahui dan memahami apakah khalayaknya/konsumen ada dalam tahap pembelian atau tidak. Tahap pembelian mulai dari awareness (kesadaran), pengetahuan, kesukaan, preferensi, keyakinan dan pembelian, dan 3) Komunikator harus bisa menggerakkan konsumen ke tahap pembelian. Untuk merancang pesan, komunikator mengembangkan pesan komunikasi yang efektif, yang idealnya pesan harus melalui tahap AIDDA ( Attention, Interest, Desire, Decission, Action). Komunikator harus bisa memutuskan isi pesan, format pesan dan struktur pesan sehingga pesan yang disampaikan memiliki daya tarik maksimal, baik daya tarik rasional, emosional dan moral (Nurrohim dan Anantan, 2009).

3.4. Perencanaan Media Komunikasi
     Perencanaan media merupakan kegiatan yang sangat penting dalam periklanan dan promosi. Sering kali terjadi iklan dan promosi menjadi kegiatan penghamburan dana namun tidak memberikan hasil yang diharapkan. Menurut Widyo (2012), perencanaan media yang dipersiapkan secara baik akan menghasilkan komunikasi yang efektif sehingga pesan yang disampaikan akan mendapat perhatian lebih besar dari audiens sasaran.  Bagian ini akan menjawab pertanyaan seperti jenis media apa yang akan dipilih, seberapa sering suatu iklan harus muncul disuatu media,dan seterusnya. Jenis produk (barang atau jasa) yang diiklankan mempengaruhi pengaruh media. Jenis produk tertentu adakalanya lebih cocok diiklankan melalui media televisi namun produk lainnya lebih sesuai jikaa menggunakan media cetak atau lainnya. 
     Guna membuat media komunikasi pertanian yang kreatif dan menarik dibutuhkan para pekerja yang profesional yang memiliki kreativitas dalam memproses media komunikasi, mulai dari perencanaan pesan, perencanaan media hingga bagaimana menyampaikan pesannya. Menurut Lukitaningsih (2013), pada agen pembuat media komunikasi (perusahaan periklanan) terdapat bagian khusus yang merancang kreativitas, mereka ini adalah yang disebut copywritter, scripwritter atau screenwritter dan pengarah seni yang disebut art director atau visualizer. Mereka yakin media komunikasi yang kreatif akan menjadikan komunikasi tersebut efektif karena dengan tampilan yang kreatif maka pesan akan dapat mempengaruhi audien.
    Perencanaan media komunikasi dalam praktikum kali ini, kelompok 14 melewati beberapa tahapan dalam perencanaannya. Tahap pertama yaitu menyesuaikan kondisi khalayak sasaran praktikum komunikasi pertanian. Zaman globalisasi ini tidak lepas dari perkembangan teknologi, untuk itu akan lebih efektif apabila  media komunikasi dilakukan sesuai dengan perkembangan zaman. Khalayak sasaran di kelompok 14 yaitu mahasiswa yang ada di seluruh wilayah Indonesia, dimana mahasiswa tersebut sering mnghadiri atau bahkan membuat acara yang selalu terdapat sisa makanan. Selain itu, untuk merubah sikap seseorang perlu adanya penyampaian komunikasi yang dapat diterima secara cepat. 
      Kelompok 14 memutuskan untuk membuat media komunikasi berupa pamflet dan video. Poster dan video tersebut didemonstrasikan melalui media online seperti Instagram. Pengaplikasian poster dan video dilakukan sebanyak 3 kali, dimana 3 postingan tersebut saling berkaitan. Mem-publish sebanyak 3 postingan ini dikarenakan untuk mengefektifkan komunikasi yang disampaikan, agar khalayak sasaran dapat mengetahui dengan jelas tujuan dari komunikasi tersebut. 

3.5. Perancangan / Desain Pesan Komunikasi
     Komunikasi pertanian dapat dikatakan baik apabila diukur berdasarkan ukuran-ukuran dalam hal analisis fakta dan keadaan, pemilihan masalah berlandaskan pada kebutuhan, jelas dan menjamin keluwesan, dan merumuskan tujuan dan pemecahan masalah yang menjanjikan kepuasan. Analisis fakta dan desain pesan komunikasi yang baik harus mengungkapkan hasil analisis fakta dan keadaan yang lengkap. Pemilihan masalah berlandaskan pada kebutuhan hasil analisis fakta dan keadaan biasanya menghasilkan berbagai masalah baik masalah yang sudah dirasakan maupun belum dirasakan masyarakat setempat. Perencanaan program harus dengan jelas dan tegas sehingga tidak menimbulkan keragu-raguan atau kesalahpengertian dalam pelaksanaannya. Tujuan yang ingin dicapai dalam penyuluhan pertanian haruslah menjanjikan perbaikan kesejahteraan atau kepuasan masyarakat sasarannya (Mardikanto, 2007).

1.  Metode Komunikasi Pertanian
  Metode yang diterapkan kelompok 14 praktikum komunikasi pertanian berdasarkan analisis permasalahan dan khalayak sasaran adalah metode massa. Khalayak sebagai massa memiliki karakteristik ukurannya yang besar dan bersifat heterogen. Pemilihan metode ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai ketahanan pangan secara luas dan audiens atau masyarkat setidaknya tau terhadap isu pertanian terkini maupun sebagai bentuk penyadaran bagi masyarakat untuk lebih menghargai makanan.

2.  Teknik Komunikasi Pertanian
   Teknik komunikasi yang dilakukan kelompok 14 praktikum komunikasi pertanian berdasarkan analisis permasalahan dan khalayak sasaran adalah media sosial. Media sosial di Indonesia yang sangat diminati khalayak sasaran yang dituju. Kelebihan media sosial adalah hampir digunakan oleh semua kalangan termasuk khalayak sasaran yang telah ditetapkan. Dampak dari penggunaan teknik ini ialah media sosial dapat menjangkau khalayak sasaran dengan area yang lebih luas. Media sosial dapat dijangkau dalam seketika, dan pesan-pesan yang disampaikan media sosial mudah untuk tervisualisasi. 

3.  Isi Pesan Komunikasi
    Komunikasi merupakan suatu proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dan terjadi saling pengertian, pemahaman yang sama terhadap pesan yang disampaikan. Melalui media sosial isi pesan yang disampaikan pada post yang pertama adalah pengantar menuju masalah inti. Post kedua adalah masalah inti yaitu mengenai ketahanan pangan dan upaya kecil yang dapat dilakukan masyarakat untuk membantu menghargai jasa petani dengan tidak membuang atau menyisakan makanan. Informasi ketahanan pangan yang disampaikan dalam media sosial meliputi latar belakang pentingnya ketahanan pangan akses pangan, pemanfaatan pangan, dan lembaga dunia yang menaungi masalah pertanian dan pangan. Ketahanan pangan merupakan salah satu isu utama upaya peningkatan status gizi masyarakat yang paling erat kaitannya dengan pembangunan pertanian. Akses pangan merupakan kemampuan memiliki sumber daya, secara ekonomi maupun fisik, untuk mendapatkan bahan pangan bernutrisi. Pemanfaatan pangan yaitu merupakan kemampuan dalam memanfaatkan bahan pangan dengan benar dan tepat secara proporsional. Lembaga dunia yang menaungi masalah pertanian dan pangan adalah FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations). Peran FAO adalah menjaga kestabilan ketahanan pangan, akses pangan dan pemanfaatan pangan dunia.
   Informasi atau inti pesan selanjutnya yang disampaikan pada media sosial post ketiga adalah mengenai solusi dari ketahanan pangan yang dimulai dari say no to wasting food, program hunger rangers,  pertanian bekerjasama dengan TNI AD, dan melakukan sharing food jika dirasa mempunyai kelebihan makanan. Bentuk penghargaan yang dapat dilakukan terhadap petani adalah tidak menyisakan makanan di piring ketika makan, membeli bahan makanan atau produk pertanian di pasar tradisional.

3.6. Deskripsi Pelaksanaan Komunikasi Pertanian 
    Menurut Hamad (2010), dalam pelaksanaan perencanaan komunikasi, umumnya terdapat 3 pihak yang saling terkait, yaitu pemilik produk (A), khalayak sasaran (B), dan pelaksana PPK (C). Pemilik produk (A) yang paling berkepentingan untuk mengampanyekan produknya kepada khalayak sasaran (B). Guna memperlancar proses dan pencapaian tujuan kampanyenya, dapat menunjuk tim pelaksana PPK (C). Tim ini bisa saja dibentuk sendiri oleh pemilik program atau meminta bantuan kepada pihak ketiga. 
     Kelompok 14 melaksanakan komunikasi pertanian ini melalui media online berupa Instagram. Hal tersebut didasarkan sesuai dengan kondisi khalayak sasaran, dimana lebih sering membuka aplikasi Instagram. Terdapat 3 kali posting dalam pengunggahannya. Tiga postingan ini dilakukan secara berurutan sesuai dengan pokok permasalahan yang akan disampaikan. Postingan pertama memuat tentang permasalahan yang ada di pembangunan pertanian di Indonesia. Postingan kedua memuat tentang isi dari topik yang diangkat, yaitu Wasting Food. Kemudian, postingan ketiga memuat tentang penyelesaian dari permasalahan yang ada. Poster beserta video tersebut diunggah di akun Instagram masing-masing anggota kelompok 14.
     Masing-masing postingan di Instagram memuat gambar judul yang memvisualisasikan masalah yang diangkat, kedua berisi isi pesan dari apa yang ingin kelompok 14 sampaikan, ketiga berisi video yang sesuai dengan tema tiap postingan. Video berdurasi 1 menit yang diambil dari media Youtube. Gambar judul dan poster merupakan hasil desain kelompok 14. Waktu penguploadan dilaksanakan dalam sehari pada waktu dimana khalayak sasaran dirasa ramai dalam memainkan aplikasi Instagram.

3.7. Evaluasi Kegiatan Komunikasi Pertanian
   Evaluasi pada dasarnya adalah tindakan pengawasan, penilaian dan perbaikan terhadap pelaksanaan kegiatan agar berjalan sesuai tujuan secara efektif dan efisien. Tujuan evaluasi adalah memperbaiki program/kegiatan yang sedang berjalan maupun umpan balik untuk perbaikan program yang akan datang dan pengambilan keputusan (Thamrin, 2011).
    Kendala yang dihadapi selama pelaksanaana praktikum komunikasi pertanian yakni sulitnya menentukan titik permasalahan yang akan diambil. Solusi dari masalah ini yakni selalu mengkonsultasian masalah tersebut kepada coass dan dosen sehingga permasalahan tersebut dapat terselesaikan. Kendala yang lainnya yakni karena di kelompok kami tidak ada yang bisa desain sehingga sulit membuat poster yang akan di sebar ke media sosial dan solusinya yaitu kami belajar dari nol untuk membuat poster. Warganet sedikit yang memberikan like pada postingan kami, sehingga kami menyimpulkan antusiasme warganet kurang terhadap postingan kami. Solusinya kami menyebarluaskan informasi bahwa sedang ada sesuatu yang menarik pada postingan kami. Kendala selanjutnya yakni terbatasnya waktu untuk mendemonstrasikan komunikasi pertanian, solusi kami yakni mengupload postingan di malam hari. 
    Evaluasi pelaksanaan pada saat demontrasi komunikasi pertanian yakni kurangnya antusiasme warganet tentang postingan kami di media sosial. Waktu penguploadan poster tidak teratur, bahkan terkadang hingga larut malam. Pembuatan desain poster kurang menarik sehingga tidak menarik minat melihat. 
    Cara evaluasi yang kami lakukan yakni dengan membuat google form yang berisi pertanyaan mengenai konten yang kami unggah di media sosial. Hasilnya yakni banyak responden yang menilai bahwa desain poster kurang menarik, tetapi video yang diberikan sangat lucu sehingga menarik perhatian untuk melihatnya hingga habis. Selain itu saat ditanya apa akibat dari membuang-buang makanan, responden bisa menjawab sesuai dengan apa yang kami harapkan, sehingga bisa dikatakan komunikasi pertanian yang kami lakukan berhasil. 

IV. PENUTUP

4.1. Kesimpulan
    Berdasarkan kegiatan praktikum dan pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa :
  1. Permasalahan riil yang terjadi di sekitar lingkungan kampus adalah kurangnya kepedulian untuk menghabiskan makanan. Langkah ini merupakan salah satu cara untuk memperkuat ketahanan pangan.
  2. Khalayak sasaran yang dituju adalah mahasiswa Fakultas Pertanian, yang biasanya mengadakan acara baik seminar maupun acara kelulusan dengan banyak menyisakan makanan.
  3. Kebutuhan informasi khalayak sasaran adalah informasi mengenai pengetahuan dampak menyisakan makanan.
  4. Tujuan komunikasi pertanian untuk memberi pengetahuan kepada mahasiswa Fakultas Pertanian untuk tida menyisakan makanan lagi
  5. Perancangan pesan komunikasi pertanian berdasarkan permasalahan yang diangkat kelompok 14, yaitu perkuat ketahanan pangan dengan tidak menyisakan makanan.
  6. Pengaplikasian hasil desain pesan komunikasi pertanian dapat dilihat berdasarkan tinggi tidaknya tingkat pengetahuan mahasiswa Fakultas Pertanian yang mengisi google form kelompok 14.

4.2. Saran
    Adapun beberapa saran yang yang dapat digunakan untuk praktikum Komunikasi Pertanian di waktu yang akan datang, yaitu :
  1. Sebaiknya mahasiswa yang memiliki keahlian dalam desain pesan lebih disebar disetiap kelompoknya minimal ada 1 orang yang ahli.
  2. Sebaiknya ada koordinasi dari Coass terhadap praktikan dalam hal sering mengingatkan dan lebih menjelaskan detail yang akan dikerjakan praktikan.
  3. Sebaiknya Coass membantu permasalahan yang dihadapi setiap kelompok.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad. P. 2013. Tujuan-tujuan Komunikasi. http://www.e-jurnal.com/2013/12/tujuan-tujuan-komunikasi.html. Diakses pada 29 April 2018.
Aziz. I. 2015. Dasar-dasar Penelitian Olahraga. Jakarta: Kencana.
Benawa. A. 2010. Peran Media Komunikasi dalam Pembentukan Karakter Intelektual di Dunia Pendidikan.  Jurnal Ilmu Komunikasi. Vol. 2(1) : 35-49.
Burhan. B. 2006. Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Prenada Media Group.
Burhan. B. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 
Cangara. H. 2011. Komunikasi Politik Konsep, Teori, dan Strategi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Fourianalistyawati. E. 2012. Komunikasi yang Relevan dan Efektif Antara Dokter dan Pasien. Jurnal Psikogenesis. Vol. 1(1) : 33-40.
Gemiharto, Susilo, dan Garryn.  2016. Evaluasi Model Komunikasi Pemasaran Koperasi dalam Upaya Penguatan Kelembagaan Ekonomi Masyarakat. Jurnal Manajemen Komunikasi. Vol. 1(1): 57-78. 
Hamad. I. 2010. Perencanaan Program Komunikasi. Yogyakarta: Kanisius.
Handayani. D.W. 2018. Analisis Kebutuhan Anak Usia Dini (Buku Ajar S1 PAUD). Yogyakarta: Deepublish.
Hartono. H.I. 2011. Cara Merumuskan Masalah dan Mengidentifikasi Permasalahan. Jurnal Linguistik Indonesia. Vol. 29(2) : 167-184.
Irwanto. 2010. Efek Media Massa Tv ; Persepektif Pesan dan Kehadiran Media. Jurnal Komunikasi. Vol. 1 (1) : 45-50.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2013. Jakarta: Penyuluhan pertanian. 
Leslie. R. 2005. Memaksimalkan Potensi Alat Bantu dalam Pelatihan dan Pengembangan. Jakarta: Gramedia.
Lukas., Suharsono . 2013. Komunikasi Bisnis. Yogyakarta: CAPS.
Lukitaningsih. A. 2013. Iklan yang Efektif sebagai Strategi Komunikasi Pemasaran. Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan. Vol 13(2): 116-129.
Mahdiyah. K. 2009. Studi Mandiri dan Perihal Penelitian. Jurnal Ragam Bahasa Indonesia. Vol. 23(5) : 1-35. 
Mardikanto. T. 2007. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Surakarta: Sebelas Maret University Press.
Melkote. R.S. 2007. Everett M Rogers And His Contribution To The Field Of Communication And Social Change In Developing Countries. Journal of Creative in Communication. Vol. 1(1): 11-24.
Mody, B. 2000. Communication of Agriculture. New Delhi: Sage Publications India Pvt Ltd.
Moleong. L. 2008. Analisis Permasalahan dalam Penelitian dan Tata Cara Penulisan. Jurnal  Bahasa. Vol. 17(1) : 121-130. 
Nasrul. W. 2012. Pengembangan Kelembagaan Pertanian untuk Peningkatan Kapasitas Petani terhadap Pembangunan Pertanian. Jurnal Menara Ilmu. Vol. 3(29) : 166-174
Ngathou. I.N., Bukenya, Chambezi. 2006. Managing Agricultural Risk : Examining Information Sources Prefered By Limited Resource Farmers. Journal of Extension. Vol. 44(6) : 49-53.
Nurrohim. H., Anantan. L. 2009. Efektivitas Komunikasi dalam Organisasi. Jurnal Manajemen. Vol.7(4) : 20-39.
Pranata. M. 2013. Pendekatan Estetika pada Desain Pesan Multimedia Pembelajaran. Jurnal Bahasa dan Seni. Vol. 41(2): 272-283.
Rangkuti. P.A. 2009. Strategi komunikasi membangun Kemandirian pangan. Jurnal Litbang Pertanian. Vol. 28(2) 36-73.
Rifai. R., Anugrah. I. S. 2011. Konsep dan Implementasi Pembangunan Pertanian Berkelanjutan di Indonesia. Bogor: Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pemerintah.
Riyadi, Deddy. S. B. 2004. Perencanaan Pembangunan Dareah (Strategi Menggali Potensi dalam Mewujudkan Otonomi Daerah). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Rohmani. S.A. 2001. Kinerja Penyuluh Pertanian Dalam Pelaksanaan Tugas Pokoknya. Bogor: Program Pasca sarjana IPB.
Sadono. D. 2009. Perkembangan Pola Komunikasi dalam Penyuluhan Pertanian di Indonesia. Jurnal Komunikasi Pembangunan. Vol. 7(2): 43-56.
Severin. W.J., J.W. Tankard. 2005. Teori Komunikasi Massa: Sejarah, Metode, dan Terapan di dalam Media Massa Edisi Kelima. Jakarta: Prenada Media.
Soetrisno. L. 2002. Paradigma Baru Pembangunan Pertanian Sebuah Tinjauan Sosiologis. Yogyakarta: Kanisius.
Suhada, Laily, dan Roger. 2008. Kinerja Penyuluh Pertanian di Jawa Barat. Jurnal Pertanian. Vol. 4(2): 100-108.
Suharto. E. 2005. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Refina Aditama. Bandung.
Sumodiningrat. G. 2000. Pembangunan Ekonomi melalui Pengembangan Pertanian. Jakarta: PT. Bina Rena Pariwara.
Suprapto. T. 2009. Pengantar Teori dan Manajemen Komunikasi. Media Pressindo. Yogyakarta.
Suryana. A. 2008. Penganekaragaman Pangan dan Gizi: Faktor Pendukung  Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia. Jurnal Pangan Media  Komunikasi dan Informasi. Vol. 17(52): 5-15.
Thamrin. M. 2011. Evaluasi Program Penyuluhan Pertanian dan Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi terhadap Pendapatan Petani Padi Sawah. Jurnal Ilmu Pertanian Vol 16(3): 23-30.
Usman. H., Purnomo. 2008. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Widjaja. H. A. W. 2003. Komunikasi dan Humas. Jakarta: Bumi Aksara.
Widodo. S., Nuraeni. I. 2006. Media Penyuluhan Pertanian. Jakarta: Universitas Terbuka. 
Widyo. S. 2012. Keefektifan Perencanaan Media Komunikasi dalam Periklanan. Jakarta: Graffindo. 
Yogasuria. E. 2013. Komunikasi Dalam Penyuluhan Pertanian. www.bbpp-lembang.info. Diakses Pada Tanggal 25 April 2018.

Post a Comment

© super mipa. All rights reserved.