I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Salah satu teknik yang dapat mempercepat pertumbuhan tanaman adalah dengan mengatur jarak tanam atau kerapatan tanaman. Jarak tanam akan mempengaruhi efektifitas penyerapan unsur hara oleh tanaman. Semakin rapat jarak tanam, semakin banyak populasi tanaman persatuan luas sehingga persaingan hara antar tanaman semakin ketat dan akan menganggu produksi per satuan tanaman.
Penentuan kerapatan tanam pada suatu areal pertanaman pada hakekatnya merupakan salah satu cara untuk mendapatkan hasil tanaman secara maksimal. Dengan pengaturan kepadatan tanaman sampai batas tertentu, tanaman dapat memanfaatkan lingkungan tumbuhnya secara efisien. Kepadatan populasi berkaitan erat dengan jumlah radiasi matahari yang dapat diserap oleh tanaman.
Modifikasi iklim mikro disekitar tanaman merupakan suatu usaha yang telah banyak dilakukan.Modifikasi iklim adalah cara mengatasi iklim dengan menggunakan teknologi tepat guna dan dapat membuat iklim mikro menjadi bermanfaat. Pada pengaturan modifikasikerapatan tanam didalam satu areal penanaman sangat diperlukan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi terjadinya kompetisi diantara tanaman dan untuk memperoleh peningkatan hasil dari tanaman budidaya, yaitu dengan menambah kerapatan tanaman atau populasi tanaman. Modifikasi ini mengatur sedemikian rupa jumlah energi matahari, temperatur, kelembapan udara, dan konsentrasi CO2 sehingga terjadi fotosintesis seoptimum mungkin dan menekan evapotranspirasi seminimum mungkin sehingga tanaman yang dibudidayakan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, juga memiliki hasil yang baik.
1.2. Tujuan Praktikum
Acara ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kerapatan tanam terhadap kondisi iklim mikro di dalam pertanaman.
1.3. Waktu dan Tempat Praktikum
Acara ini dilaksanakan pada bulan April – Mei 2017 bertempat di kebun percobaan Fakultas Pertanian UNS desa Sukosari, kecamatan Jumantono, kabupaten Karanganyar.
II. ALAT DAN CARA KERJA
2.1. Alat
a. Anemometer
b. Lux (pengukur intensitas cahaya)
c. Thermoigrometer
2.2. Cara kerja
a. Melakukan penanaman jagung pada petak tanam ukuran 3m x 2m, dengan jarak tanam 50cm x 40cm.
b. Melakukan penanaman jagung pada petak tanam ukuran 3m x 2m, dengan jarak tanam 25cm x 40cm.
c. Melakukan pengamatan intensitas radiasi, suhu udara, kecepatan angin dan kelembaban udara pada semua petak pertanaman tersebut. Pada masing-masing petak ditentukan 5 tanaman sampel pengamatan lalu dihitung rata-ratanya.
III. HASIL PENGAMATAN
![]() |
| Tabel 3.1. Hasil Pengaruh Kerapatan tanah terhadap iklim mikro pertanian |
![]() |
| Tabel 3.2. Hasil pengaruh kerapatan tanah terhadap tinggi tanaman jagung |
![]() |
| Tabel 3.3. Hasil pengaruh kerapatan tanah terhadap jumlah daun jagung pada petakan 25x40 |
![]() |
| Tabel 3.4. Hasil pengaruh kerapatan tanah terhadap jumlah daun jagung pada petakan 50x40 |
![]() |
| Grafik 3.1. Pengaruh kerapatan tanah terhadap tinggi tanaman jagung |
![]() | |
|
![]() | |
|
![]() | |
|
IV. PEMBAHASAN
Lahan produksi dapat diolah secara keseluruhan atau hanya pada tempat-tempat yang akan ditanami saja, tergantung kerapatan tanamnya. Luas dan sempitnya ruang tumbuh ditemtukan oleh beberapa faktor, antara lain, umumr bentuk daun kedudukan daun, dan kedudukan cabang .Luas dan sempitnya ruang tumbuh akan menetukan tinggi tanaman rendahnya kerapatan tanam. Makin luas runag tumbuh yang diperlukan, maka makin rendah kerapatan tanamnya. Sebaliknya, makin sempit ruang tumbuh yang diperlukan, makin tinggi kerapatan tanamnya (Widodo 2011).
Kerapatan tanam sangat erat hubungannya dengan iklim mikro, diantaranya : suhu, kelembaban udara, intensitas cahaya, dan kecepatan angin. Kerapatan yang diterapkan pada praktikum kali ini adalah 50cm x 40cm dan 25cm x 40cm pada petak tanahukuran 3m x 2m. Perbedaan kerapatan ini dapat diketahui perbedaan iklim mikro pada setiap petak. Data yang didapatkan sangat membantu untuk pertimbangan menanam dalam skala yang lebih luas agar hasil dapat optimal.
Suhu pada petak 50cm x 40cm relatif stabil. Suhu antara 29 - 37?. Suhu terbesar pada pukul 13.00-13.30 WIB sebesar 37,17 ?. Kelembaban udara pada petak 50cm x 40cm juga relatif stabil berkisar antara 56% – 73%. Intensitas cahaya yang paling banyak diterima tanaman adalah bagian atas tanaman. Tanaman bagian atas lebih banyak menerima cahaya matahari karena bagian atas lebih dekat dengan matahari, sedangkan bagian bawah jauh dari matahari sehingga cahaya yang diterima tidak banyak. Bagian bawah lebih sedikit menerima cahaya matahari juga dikarenakan sangat sedikit ruang atau celah untuk matahari menembus tanaman dan masuk ke bagian bawah tanaman, hal ini dikarenakan pertumbuhan daun di bagian atas daun yang cepat sehingga menutupi celah. Kecepatan angin terbesar pada petak 50cm x 40cm pukul 14.00 – 14.30 WIB sebesar 0,37, sedangkan kecepatan angin pada shift-shift yang lain berkisar dari 0-0,3. Kecepatan angina pada setiap petak tidak stabil, hal ini dikarenakan tekanan udara dan angina yang bergerak tidak stabil. Pada petak 25cm x 40cm radiasi cahaya paling besar terdapat pada pukul 13.30-14.00 WIB.Suhu terbesar pada pukul13.00-13.30 WIB sebesar 37,8?. Kelembaban udara pada petak 25cm x 40cm terbesar pada pukul 09.30-10.00 WIB sebesar 73,67%.. pada petak 25cm x 40cm kecepatan angin relatif stabil. Kecepatan angin terbesar yaitu 0,47.
Petak tanaman yang jarang pertumbuhannya justru lebih kecil bila dibandingkan dengan petak tanam yang lebih rapat. Padahal pada petak yang lebih jarang, tidak terjadi persaingan di dalam tanah maupun di atas tanah. Semakin rapat suatu pertanaman maka kompetisi antar tanaman akan terjadi lebih banyak. Seharusnya petak tanaman yang jarang membuat pertumbuhan daun tanaman lebih bebas, tidak terganggu oleh tanaman yang lainnya, hanya terjadi kompetisi antara daun pada satu tanaman. Pengangkutan unsur hara juga dapat lebih leluasa. Tanaman tidak akan khawatir ketersediaan untuk dirinya kurang karena kompetisi akar antar tanaman dapat dihindari dengan petak yang jarang. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor lain seperti intensitas cahaya yang kurang atau tidak tercukupinya unsur hara. Bisa juga karena serangan OPT.
Pengaturan sistem tanam ternyata menentukan kuantitas dan kualitas rumpun tanaman, yang kemudian bersama populasi/jumlah rumpun tanaman per satuan luas berpengaruh terhadap hasil tanaman. Namun, beberapa faktor juga mempengaruhi diterapkannya suatu jarak tanam oleh petani di suatu wilayah adalah ketersediaan tenaga kerja, ketersediaan benih, kemudahan operasional di lapang (ada/tidak ada lorong), dan penyuluhan tentang jarak tanam. Penggunaaan jarak tanam pada dasarnya adalah memberikan kemungkinan tanaman untuk tumbuh dengan baik tanpa mengalami banyak persaingan dalam hal mengambil air, unsur-unsur hara, dan cahaya matahari. Jarak tanam yang tepat penting dalam pemanfaatan cahaya matahari secara optimal untuk proses fotosintesis. Dalam jarak tanam yang tepat, tanaman akan memperoleh ruang tumbuh yang seimbang. Pengaruh sistem tanam padi sebagai salah satu komponen budi daya yang berpengaruh terhadap hasil dan pendapatan, ternyata kompleks. Jarak tanam dan orientasi tanaman di lapang mempengaruhi enam proses penting yaitu penangkapan radiasi surya oleh tanaman untuk fotosintesis, penyerapan hara oleh akar, kebutuhan air tanaman, sirkulasi CO2 dan O2 hasil fotosintesis, ketersediaan ruang yang menentukan populasi gulma, dan iklim mikro di bawah kanopi, yang berpengaruh terhadap perkembangan organisme pengganggu tanaman (OPT) (Ikhwani et al 2013).
Pengaturan baris tanam berpengaruh terhadap penerimaan radiasi penyinaran matahari pada organ daun, meningkatkan kompetisi akar antar tanaman, sehingga berkurangnya hasil produksi tanaman dan dapat memicu keberadaan OPT semakin meningkat. Keadaan tanaman dapat mengakibatkan perlawanan iklim yang besar pada ruang sempit. Iklim mikro meliputi suhu, kelembaban dan cahaya). Dampak yang paling besar pengaruhnya adalah pada ekosistem pertanian yang menyebabkan terjadinya perubahan populasi dan status hama dan penyakit akibat peningkatan suhu dan perubahan curah hujan. Lingkungan mikro juga mempengaruhi aktivitas mikroorganisme di dalam tanah. Berdasarkan uraian-uraian yang dikemukakan diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat pemberian tanaman sela dengan jumlah baris yang berbeda dan intensitas serangan terhadap hama (Megawati 2014).
Kerapatan tanam berkolerasi dengan banyak hal. Kerapatan tanam sangat berpengaruh pada tinggi tanaman. Tanaman yang rapat mempunyai pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan tanaman yang jarang. Tanaman-tanaman dalam pertanaman yang rapat memberikan hasil yang lebih kecil daripada tanaman yang jarang. Hasil optimum diperoleh pada kerapatan tanaman yang optimum. Kerapatan tanam berpengaruh terhadap kerusakan oleh angin. Jarak tanam harus diusahakan agar tidak terlalu rapat ataupun terlalu jarang. Dianjurkan untuk melakukan penjarangan pada pertanaman yang rapat (Setyamidjaja 2013).
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan :
1. Suhu pada petak 50cm x 40cm terbesar adalah 37,17, dan pada petak 24cmx 40cm sebesar 37,83.
2. Radiasi cahaya paling besar terjadi pada shift 3.
3. Kelembaban tertinggi terjadi pada shift 1.
4. Rata-rata tinggi tanaman, petak 25cm x 40cm lebih tinggi.
5. Besarnya kecepatan angina tidak sama setiap waktu.
5.2.Saran
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, dapat diberikan saran :
1. Pembagian alat pengukuran sebelum melakukan praktikum.
2. Praktikum dilakukan sesuai jadwal.
DAFTAR PUSTAKA
Ikhwani, Gagad RP, Eman P, Makarim. 2013. Peningkatan produktivitas padi melalui penerapan jarak tanam jajar legowo. J Iptek Tanaman Pangan, 8(2): 13-20.
Megawati DOP, Soekarto, Didik S. 2014. Hubungan jumlah baris kacang-kacangan terhadap hama tanaman jagung dan tanaman kacang-kacangan. J Berkala Ilmiah Pertanian,1(4): 66-69.
Setyamidjaja D. 2013. Karet, budidaya, dan pengolahannya. Yogyakarta: Kanisius.
Widodo W, Sumarsih S. 2011. Seri budidaya jarak kepyar. Yogyakarta: Kanisius.






