I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tanah mempunyai banyak sifat, salah satunya adalah suhu tanah dan kelembaban tanah. Kelembaban tanah adalah air yang mengisi sebagian atau seluruh pori–pori tanah yang berada di atas water table. Definisi yang lain menyebutkan bahwa kelembaban tanah menyatakan jumlah air yang tersimpan di antara pori–pori tanah. Kelembaban tanah sangat dinamis, hal ini disebabkan oleh penguapan melalui permukaan tanah, transpirasi dan perkolasi.
Suhu tanah dapat didefinisikan sebagai derajat panas pergerakan molekul-molekul tanah. Suhu tanah dapat di ukur dengan menggunakan alat yang dinamakan termometer tanah dengan satuan derajat Celcius, derajat Fahrenheit, derajat Kelvin (dalam Satuan Internasional). Suhu biasanya diamati pada kedalaman 5, 10, 20, 50, dan 100 cm. Untuk keperluan ini telah dibuat termometer sesuai dengan kedalamannya.
Peningkatan suhu terutama suhu tanah dan iklim mikro disekitar tajuk tanaman akan mempercepat kehilangan lengas tanah terutama pada musim kemarau. Pada musim kemarau, peningkatan suhu iklim mikro tanaman berpengaruh negative terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman terutama pada daerah yang lengas tanahnya terbatas. Pengaruh negatif suhu pada lengas tanah dapat diatasi melalui perlakuan pemulsaan (mengurangi evaporasi dan transpirasi). Penggunaan mulsa seringkali dilakukan oleh petani baik untuk menghindari tumbuhnya gulma atau untuk memodifikasi iklim mikro disekitar tajuk tanaman. Terdapat berbagai macam mulsa yang digunakan oleh petani. Masing-masing jenis mulsa mempunyai keunggulan jika diterapkan pada lahan pertanian yang pertumbuhan tanamannya sesuai dengan iklim mikro yang ditimbulkan oleh mulsa. Pemberian mulsa dapat mempengaruhi sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Mulsa dapat memperbaiki tata udara tanah dan meningkatkan pori-pori makro tanah sehingga kegiatan jasad renik dapat lebih baik dan ketersediaan air dapat lebih terjamin bagi tanaman. Mulsa dapat pula mempertahankan kelembaban dan suhu tanah sehingga akar tanaman dapat menyerap unsur hara lebih baik.
Sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian, praktikum agroklimatologi yang dilaksanakan memiliki tujuan bahwa, para mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan dalam mengamati, memahami dan mengetahui tentang keadaan iklim mikro serta mengaplikasikan ilmunya untuk peningkatan usaha pertanian. Diharapkan kedepannya para mahasiswa dapat melakukan percobaan tentang memodifikasi cuaca dalam skala mikro dengan pemberian mulsa untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pertanian di Indonesia.
1.2. Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum pada acara ini adalah untuk mengetahui suhu tanah dan kelembaban tanah pada pertanaman dengan perlakuan pemberian mulsa organik (jerami padi) dan mulsa anorganik (lembaran plastik).
1.3. Waktu dan Tempat Praktikum
Acara pengukuran suhu tanah dilaksanakan pada tanggal 14 Mei 2017 pada pukul 08.30-10.00 WIB. Bertempat di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Desa Sukosari, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar.
II. ALAT DAN CARA KERJA
2.1. Alat
Termometer tanah dan alat pengukur kelembaban tanah dan penggaris.
2.2. Cara Kerja
Mengukur suhu tanah dan kelembaban tanah pada petak pertanian jagung dengan beberapa perlakukan:
a. Kontrol (lahan terbuka tanpa tanaman dan tanpa mulsa).
b. Petak pertanaman jagung tanpa mulsa.
c. Petak pertanaman jagung yang diberi mulsa jerami.
d. Petak pertanaman jagung yang diberi mulsa plastik perak hitam.
III. HASIL PENGAMATAN
![]() |
| Tabel 3.1. Hasil pengamatan pengaruh mulsa terhadap kelembaban dan suhu tanah |
![]() |
| Tabel 3.2. Hasil pengamatan pengaruh mulsa terhadap tinggi tanaman jagung |
![]() |
| Tabel 3.3. Hasil pengamatan pengaruh mulsa terhadap jumlah daun jagung |
![]() |
| Grafik 3.1. Pengaruh mulsa terhadap tinggi tanaman jagung |
![]() |
| Grafik 3.2. Pengaruh mulsa terhadap kelembaban tanah |
![]() |
| Grafik 3.3. Pengaruh mulsa terhadap suhu tanah |
IV. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini, terdapat empat perlakuan yang dilakukan dalam pemberian mulsa pada tanah, yaitu : kontrol, petak pertanaman jagung tanpa mulsa, petak pertanaman jagung yang diberi mulsa jerami, serta petak pertanaman jagung yang diberi mulsa plastik perak hitam. Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui suhu tanah dan kelembaban tanah pada setiap perlakuan. Suhu tanah adalah sifat fisik tanah yang sangat berpengaruh terhadap proses – proses di dalam tanah. Suhu tanah tidak sama setiap waktu namun sering mengalami fluktuasi. Fluktuasi tergantung pada topografi daerah dan keadaan tanah. Tidak hanya topografi dan kedaan tanah, Fluktuasi juga dipengaruhi radiasi matahari, kondensasi, evaporasi, curah hujan, dan vegetasi. Suhu tanah merupakan hasil dari keseluruhan radiasi yang merupakan kombinasi emisi panjang gelombang dan aliran panas dalam tanah.
Suhu tanah juga disebut intensitas panas dalam tanah dengan satuan derajat celcius, derajat farenheit, derajat Kelvin dan lain-lain (Lubis 2007). Suhu tanah berpengaruh terhadap penyerapan air. Makin rendah suhu, makin sedikit air yang di serap oleh akar, karena itulah penurunan suhu tanah mendadak dapat menyebabkan kelayuan tanaman. Temperatur sangat mempengaruhi aktivitas mikrobial tanah. Aktivitas ini sangat terbatas pada temperatur di bawah 10ºC, laju optimum aktifitas biota tanah yang menguntungkan terjadi pada suhu 18-30ºC. Nitrifikasi berlangsung optimum pada temperatur sekitar 30ºC. Pada suhu diatas 30ºC lebih banyak unsur K-tertukar dibebaskan pada temperatur rendah (Hanafiah 2007). Suhu pada awal pertumbuhan, dapat diramalkan waktu kematangan tanaman tersebut, suhu tanah lebih memberikan jawaban pada perubahan setempat dari pada isolasi, topografi dan sebagainya. Suhu tanah terutama suhu ekstrim, akan mempengaruhi perkecambahan biji, aktivitas akar kecepatan, dan umur tanaman, serta terjadinya keganasan penyakit tanaman (Guslim 2008).
Dari hasil pengamatan yang tertera pada data rekapan di atas, diketahui bahwa besarnya suhu tanah pada masing – masing perlakuan yang paling tertinggi untuk perlakuan kontrol, adalah 34,7oC pada shift 3 pukul 11.00-11.30 WIB, untuk perlakuan tanpa jerami sebesar 32,36oC pada shift 3 pukul 11.00-11.30 WIB, untuk perlakuan mulsa jerami sebesar 33oC pada shift 3 pukul 12.00-12.30 WIB, dan untuk perlakuan mulsa hitam perak sebesar 35,3oC. Hasil besarnya kelembaban tanah pada masing – masing perlakuan yang paling tertinggi untuk perlakuan kontrol, adalah 52,7% ada shift 1 pukul 07.00-07.30 WIB, untuk perlakuan tanpa jerami, adalah 72% ada shift 3 pukul 11.30-12.00 WIB, untuk perlakuan mulsa jerami organik, adalah 70% ada shift 3 pukul 12.00-12.30 WIB, dan untuk perlakuan mulsa hitam perak, adalah 58,3% ada shift 2 pukul 10.00-10.30 WIB. Pada umumnya mulsa plastik warna perak lebih berperan dalam menjaga suhu dan kelembaban tanah karena kemampuannya dalam menyerap panas matahari. Mulsa plastik perak hitam mempunyai dua permukaan yang berbeda, yaitu pada bagian bawahnya (yang bersentuhan dengan permukaan tanah) berwarna hitam dan pada sisi yang lain berwarna perak. Permukaan mulsa yang berwarna perak berfungsi memantulkan sinar matahari sehingga mengubah iklim mikro di sekitar tanaman. Keadaan demikian dapat mengurangi hama. Pemantulan cahaya matahari juga akan menyempurnakan proses fotosintesis sehingga perkembangan tanaman lebih baik. Permukaan plastik yang berwarna hitam dapat menimbulkan kesan gelap, sehingga dapat menekan pertumbuhan gulma. Biasanya yang sering digunakan adalah mulsa plastik perak-hitam. Karena relatif lebih konstan permukaan suhu tanahnya.
Mulsa merupakan suatu material penutup tanaman budidaya untuk menjaga kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan gulma dan penyakit sehingga membuat tanaman tersebut tumbuh dengan baik. Mulsa dapat digolongkan menjadi dua berdasarkan materialnya yaitu mulsa organik dan mulsa anorganik. Mulsa organik berasal dari bahan-bahan alami yang mudah terurai seperti sisa-sisa tanaman seperti jerami dan alang-alang. Mulsa organik diberikan setelah tanaman atau bibit ditanam. Keuntungan mulsa ini adalah lebih ekonomis, mudah diperoleh, dan dapat terurai sehingga menambah kandungan bahan organik pada tanah. Mulsa anorganik terbuat dari bahan-bahan sintetis yang sukar/tidak dapat terurai. Contoh mulsa anorganik adalah mulsa plastik, mulsa plastik hitam perak atau karung. Mulsa ini dipasang sebelum tanaman/bibit ditanam, lalu dilubangi sesuai dengan jarak tanam.
Tinggi tanaman tertinggi berdasarakan hasil pengamatan didapatkan pada perkaluan tanpa jerami, jumlah daun terbanyak terdapat pada perlakuan tanpa mulsa yaitu pada sampel 2 sebanyak 10 daun pada minggu ke-3, seharusnya tinggi tanaman tertinggi terdapat pada tanamaan dengan perlakukan mulsa hitam perak. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah penempatan mulsa plastik hitam yang dekat dengan tumbuhan sehingga panas matahari yang diterima oleh mulsa plastik hitam tidak maksimal karena terhalang oleh tumbuhan sekitar dan penempatana mulsa hitam pera yang dekat dengan aliran air, sehingga suhu tanah tidak dapat diukur dengan valid.
Mulsa hitam perak dapaat memantulkan cahaya matahari sehingga fotosintesis dapat optimal. Mulsa hitam perak juga dapat menekan gulma, sehingga pertumbuhan tanaman tidak terganggu oleh gulma. Pemakaian mulsa plastik dalam bertanam secara intensif mutalak diperlukan jika menginginkan hasil yang maksimal. Mulsa plastik yang digunakan adalah mulsa plastik yang memiliki dua warna, warna perak dan hitam. Bagian yang berwarna perak dipasang di sebelah atas dan bagian yang berwarna hitam dipasang di sebelah bawah. Fungsi utama pemakaian mulsa plastik hitam perak adalah untuk menekan pertumbuhan hama dan gulma. Warna perak di permukaan atas mulsa plastik mampu memantulkan sinar ultraviolet yang bisa mengusir hama, terutama yang banyak bersarang di permukaan bawah daun. Sementara itu warna hitam di permukaan bawah mampu menekan gulma agar tidak tumbuh. Keadaan ini disebabkan gulma tidak memperoleh sinar matahari. Namun gulma jenis rumput teki dan pisang-pisangan masih mampu menembus mulsa (Trigan et al 2007).
Penggunaan mulsa bertujuan untuk mencegah kehilangan air dari tanah sehingga kehilangan air dapat dikurangi dengan memelihara temperatur dan kelembaban tanah. Aplikasi mulsa merupakan salah satu upaya menekan pertumbuhan gulma, memodifikasi keseimbangan air, suhu dan kelembaban tanah serta menciptakan kondisi yang sesuai bagi tanaman, sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Penggunaan mulsa organik seperti mulsa jerami padi merupakan pilihan alternatif yang tepat karena mulsa jerami padi dapat memperbaiki kesuburan, struktur dan secara tidak langsung akan mempertahankan agregasi dan porositas tanah, yang berarti akan mempertahankan kapasitas tanah menahan air, setelah terdekomposisi. Penutupan tanah dengan bahan organik dapat meningkatkan penyerapan air dan mengurangi penguapan air di permukaan tanah (Fadriansyah 2013).
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Dari praktikum pengaruh mulsa terhadap suhu dan kelembaban tanah dapat disimpulkan :
a. Alat untuk mengukur suhu tanah adalah termometer tanah.
b. Satuan dari pada suhu yaitu celcius, fahrenheit, kelvin, dan reamur.
c. Suhu tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya topografi, radiasi matahari, kondensasi, evaporasi, curah hujan, dan vegetasi.
d. Perbedaan suhu tanah dapat dibedakan dengan melakukan perlakuan yang berbeda pada masing-masing tanah, yaitu dengan diberikan perlakuan kontrol, mulsa plastik hitam-perak, mulsa jerami, dan perlakuan tanpa mulsa.
e. Suhu tertinggi dari setiap perlakuan terjadi pada shift 3 pukul 11.00-13.00 WIB.
f. Urutan perlakuan yang membuat tinggi tanaman menjadi berbeda yaitu dari yang paling tinggi hingga paling rendah adalah tanpa mulsa, mulsa jerami, mulsa hitam perak, dan perlakuan kontrol.
5.2. Saran
Saran yang dapat penulis berikan unutk acara ini sebagai berikut :
a. Sebaiknya pembagian alat dilakukan sebelum praktikum.
b. Sebaiknnya praktikum dilakukan di tempat yang minim vegetasi, sehingga hasil yang didapatkan valid.
DAFTAR PUSTAKA
Guslim. 2008. Agrokloimatologi. Medan: USU Press.
Hanafiah K. 2007. Dasar-dasar ilmu tanah. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Lubis K. 2007. Aplikasi suhu dan aliran panas tanah. Medan: USU Press.
Fadriansyah A. 2013. Pengaruh takaran mulsa jerami padi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Padang: Fakultas Pertanian Universitas Tamansiswa Padang.
Tarigan W. 2007. Bertanam cabai hibrida secara intensif. Tangerang: Agro Media Pustaka.





