I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Iklim mikro merujuk kepada keadaan. Iklim satu lokasi adalah satu rantaian kepada sistem iklim yang lebih besar, maka perubahan dalam sesuatu iklim akan mengakibatkan perubahan kepada sistem iklim yang lebih besar. Iklim mikro merujuk kepada keadaan iklim bagi suatu kawasan kecil atau iklim tempatan. Iklim satu lokasi adalah satu rantaian kepada sistem iklim yang lebih besar, maka perubahan dalam sesuai iklim akan mengakibatkan perubahan kepada sistem iklim yang lebih besar. Modifikasi iklim mikro sering dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi manusia atau untuk menciptakan lingkungan yang lebih optimal (atau paling tidak lebih baik) untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Modifikasi iklim mikro dalam bidang pertanian merupakan tindakan yang diterapkan pada lahan pertanaman untuk mengondisikan cuaca pada skala mikro agar menjadi lebih sesuai bagi pertumbuhan dan perkembangan tanamam. Modifikasi iklim mikro juga digukanan sebagai pemaksimalan tumbuhnya tanaman yang aslinya berasal dari daerah beriklim berbeda agar didapat produksi pertanian dengan kualitas dan kuantitas yang diinginkan oleh petani.
Modifikasi permukaan lahan maupun memberikan karakteristik yang berbeda terhadap unsur-unsur iklim mikro, yaitu intensitas cahaya, suhu udara, kelembaban relatif, dan kecepatan angin. Selain itu modifikasi ini juga mempengaruhi suhu tanah, dan kadar lengas tanah, pemberian naungan paranet dapat mengurangi intensitas cahaya yang diterima oleh petak tanaman, yang selanjutnya akan mempengaruhi unsur-unsur iklim yang lain bahkan pertumbuhan tanaman. Petak kontrol menerima intensitas cahaya yang paling tinggi yang selanjutnya mempengaruhi suhu udara, sehingga pada petak ini suhu udaranya tertinggi. Suhu udara akan mempengaruhi suhu tanah.
1.2. Tujuan Praktikum
Praktikum acara ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh naungan terhadap kondisi iklim mikro dan pertumbuhan tanaman golongan C4 dan C3.
1.3. Waktu dan Tempat Praktikum
Acara ini dilaksanakan pada bulan April – Mei 2017 bertempat di kebun percobaan Fakultas Pertanian UNS desa Sukosari, kecamatan Jumantono, kabupaten Karanganyar.
II. ALAT DAN CARA KERJA
2.1. Alat
Praktikum acara 5 menggunakan alat yaitu:
a. Paranet
b. Tanaman
c. Anemometer
d. Lux (pengukur intensitas cahaya)
2.2. Cara Kerja
Cara kerja pada praktikum kali ini yaitu:
- Menanam jagung (tanaman golongan C4) pada petak tanam ukuran 3m x 2m dengan jarak tanam 50cm x 40cm, tanpa naungan, dinaungi paranet 25% dan satu petak yang lain dinaungi paranet 65%.
- Menanam kedelai (tanaman golongan C3) pada petak tanam ukuran 3m x 2m dengan jarak tanam 30cm x 30cm, tanpa naungan, dinaungi paranet 25% dan satu petak yang lain dinaungi paranet 65%.
- Melakukan pengamatan intensitas radiasi, suhu udara, kecepatan angin dan kelembaban udara di petak dengan naungan dan tanpa naungan terhadap 5 sampel yang sudah ditentukan.
III. HASIL DAN PENGAMATAN
![]() |
| Tabel 3.1. Hasil pengaruh naungan terhadap iklim mikro dan pertumbuhan tanaman jagung |
![]() |
| Tabel 3.2. Hasil pengaruh naungan terhadap iklim mikro dan pertumbuhan tanaman kedelai |
![]() |
| Tabel 3.3. Hasil pengaruh naungan terhadap tinggi tanaman jagung |
![]() |
| Tabel 3.4. Hasil pengaruh naungan terhadap tinggi tanaman kedelai |
![]() |
| Tabel 3.5. Hasil pengaruh naungan terhadap jumlah daun tanaman jagung |
![]() | |
|
![]() |
| Grafik 3.2. Pengaruh naungan terhadap kelembaban dan pertumbuhan kedelai |
![]() |
| Grafik 3.3. Pengaruh naungan terhadap angin dan pertumbuhan kedelai |
![]() |
| Grafik 3.4. Pengaruh naungan terhadap tinggi tanaman kedelai |
![]() |
| Grafik 3.5. Pengaruh naungan terhadap radiasi dan pertumbuhan kedelai |
![]() |
| Grafik 3.6. Pengaruh naungan terhadap tinggi tanaman jagung |
![]() |
| Grafik 3.7. Pengaruh naungan terhadap kelembaban dan pertumbuhan jagung |
![]() |
| Grafik 3.8. Pengaruh naungan terhadap angin dan pertumbuhan jagung |
![]() |
| Grafik 3.9. Pengaruh naungan terhadap suhu dan pertumbuhan jagung |
![]() |
| Grafik 3.10. Pengaruh naungan terhadap radiasi dan pertumbuhan jagung |
IV. PEMBAHASAN
Pada kegiatan budaya pertanian, pengaruh unsur cahaya menjadi perhatian serius. Hal tersebut dikarenakan hampir semua objek agronomi berupa tanaman hijau yang memiliki kegiatan fotosintesa. Penerapan energi pelengkap dalam bentuk kerja manusia dan hewan, bahan bakar, mesin, alat-alat pertanian, pupuk, dan, obat-obatan tidak lain adalah sebagai usaha untuk meningkatkan proses konversi energi matahari ke dalam bentuk produk tanaman. Tidak semua energi cahaya matahari dapat diabsorpsi oleh tanaman. Hanya cahaya tampak saja yang dapat berpengaruh pada tanaman dalam kegiatan fotosintesisnya. Tanaman juga memberikan respon yang berbeda terhadap tingkatan pengaruh cahaya yang dibagi menjadi tiga yaitu, intensitas cahaya, kualitas cahaya, dan lamanya penyinaran.
Intensitas naungan merupakan aspek yang berperan penting bagi tanaman guna meningkatkan produksinya. Peningkatan intesotas naungan menunjukkan peningkatan jumlah daun, jumlah batang dan indeks jumlah daun. Untuk memperoleh lahan yang subur dan dapat juga ditanam di bawah pohon pelindung, di bawah tegakan pohon tanaman perkebunan usia muda atau tua secara tumpangsari dengan intensitas naungan yang disesuaikan dengan syarat tumbuhnya dan dapat juga dengan naungan buatan menggunakan paranet yang dapat diatur intensitas naungannya (Pamuji 2010).
Naungan digunakan untuk melindungi dan memodifikasi iklim. Praktikum yang dilakukan kali ini menggunakan naungan dengan paranet 25%, 65%, dan tanpa naungan. Paranet 25% berarti cahaya matahari yang dapat ditangkap tanaman sebesar 75%. Paranet 65% berarti cahaya matahari yang diterima tanaman sebesar 35%. Naungan merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi intensitas cahaya yang terlalu tinggi.
Suhu pada setiap perlakuan cenderung stabil (sama), tidak ada yang berbeda secara drastis. Sama halnya dengan kelembaban udara. Kelembaban setiap perlakuan stabil (tidak ada perbedaan yang signifikan. Suhu udara optimum terjadi sekitar pukul 10.00 WIB. Perlakuan tanpa naungan memiliki intensitas cahaya matahari yang lebih besar dibandingkan perlakuan lainnya. Kenyataan ini terjadi karena tidak ada nya naungan atau penghalang untuk cahaya mengenai tanaman.
Pemberian naungan berpengaruh pada iklim mikro, seperti : mengurangi aliran udara disekitar tajuk, kelembaban udara disekitar tajuk lebih stabil, mengurangi laju evapotranspirasi, dan terjadi keseimbangan antara ketersediaan air dengan tingkat transpirasi tanaman. Pemberian naungan pada umumnya diberikan pada budidaya tanaman yang tegolong kelompok tanaman C3 maupun dalam fase pembibitan. Pada tanaman kelompok C3, naungan tidak hanya diperlukan pada fase pembibitan tetapi sepanjang siklus hidupnya.
Tanaman C4 lebih adaftif terhadap panas dan daerah kering dibandingkan tanaman C3. Tanaman C3 lebih adaftif pada kondisi kandungan CO2 di atmosfer tinggi. Pertumbuhan tanaman C3 paling optimal terjadi pada perlakuan dengan paranet 65%. Untuk tanaman C4 pertumbuhan optimal terjadi pada perlakuan tanpa naungan. Contoh dari tanaman C3 adalah kacang-kacangan, gandum, dan kentang. Contoh tanaman C4 adalah jagung dan tebu.
Perbedaan tingkat naungan mempengaruhi intensitas cahaya, suhu udara, kelembaban udara dan suhu tanah lingkungan tanaman, sehingga intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman berbeda dan mempengaruhi ketersediaan energi cahaya yang akan diubah menjadi energi panas dan energi kimia (Widiastuti 2004). Semakin banyak tingkat naungan, semakin banyak bunga yang tumbuh. Jika tanpa naungan, tanaman berbunga lebih awal dan jumlah bunga lebih banyak. Pada dasarnya pengaruh naungan terhadap pembungaan bersifat tidak langsung. Faktor yang menentukan sebetulnya dalah iklim mikro yang terdiri atas suhu dan kelembaban udara (Lukito et al 2010).
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Dari praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan :
- Tanaman C3 tidak membutuhkan banyak cahaya.
- Tanaman C4 membutuhkan banyak cahaya.
- Suhu setiap perlakuan tidak berbeda jauh.
- Kisaran suhu setiap perlakuan 28 – 38°C .
- Tanaman jagung tumbuh paling baik dengan perlakukantanpa naungan.
- Tanaman kedelai tumbuh paling baik dengan naungan 65%.
5.2. Saran
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat diberikan saran untuk praktikum selanjutnya :
- Petak naungan diberi jarak yang cukup jauh, jangan terlalu dekat.
- Pembagian penggunaan alat setiap kelompok dilakukan bersamaan dengan pembagian shift.
- Praktikum dilaksanakan sesuai jadwal yang sudah ditentukan (tepat waktu).
DAFTAR PUSTAKA
Lukito, Mulyono, Tetty, Hadi I, Noviandi I. 2010. Buku pintar budidaya kakao. Jakarta: Agro Media Pustaka.
Pamuji, Santoso, Saleh B. 2010. Pengaruh intensitas naungan buatan dan dosis pupuk k terhadap pertumbuhan dan hasil jahe gajah. J Akta Agrosia, 13(1): 62 – 69.
Widiastuti L, Tohari, Sulistyaningsih E. 2004. Pengaruh intensitas cahaya dan kadar daminosida terhadap iklim mikro dan pertumbuhan tanaman krisan dalam pot. J Ilmu Pertanian, 11(2): 35-42.















