I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Modifikasi iklim mikro adalah upaya untuk menciptakan lingkungan yang optimal atau paling tidak lebih baik untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman dalam kegiatan pertanian. Pendekatan lain untuk memodifikasi iklim mikro yang dilakukan manusia diantaranya adalah dengan mengatur intensitas radiasi surya dengan penggunaan reflektor dan naungan, kecepatan angin dengan pematah angin, kelembaban udara, dan temperatur. Untuk itu perlu dilakukannya pengukuran unsur iklim mikro agar dapat mengetahui kondisi iklim mikro terbaik bagi setiap jenis tanaman.
Salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk mendapatkan kondisi iklim mikro yang sesuai dalam budidaya tanaman adalah pertanian rumah kaca (green house farming) atau pertanian rumah kasa (screen house farming). Screenhouse merupakan metode dari Eropa yang memiliki fungsi untuk menjaga kondisi suhu dan kelembaban pada saat suhu ekstrim seperti musim dingin. Screen house dapat memfasilitasi dan mengontrol kondisi ligkungan yang dibutuhkan oleh tanaman, melindungi tanaman dari curah hujan yang tinggi dan kelebihan intensitas cahaya.
Pengaruh lingkungan pada intensitas cahaya dan suhu yang berada pada lingkungan dalam rumah kaca dengan tanaman yang berada diluar rumah kaca akan berbeda. Selain dari intensitas cahaya dan suhu lingkungan, pertumbuhan tanaman juga dipengaruhi oleh angin, kelembaban udara, ketersediaan air, cahaya matahari, hormon, struktur tanah, ph tanah, dan kesuburan dari tanah tesebut. Dengan terbentuknya iklim mikro ini maka memungkinkan manusia untuk mengendalikannya. Seberapa intensitas cahaya, suhu dan kelembaban yang diinginkan sehingga memperoleh hasil maksimum.
1.2. Tujuan Praktikum
Tujuan dari acara pengaruh rumah kaca dan screen house terhadap iklim mikro dan pertumbuhan tanaman adalah membandingkan kondisi iklim mikro di dalam rumah kaca, screen house dan tempat terbuka serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman.
1.3. Waktu dan Tempat Praktikum
Acara 6 dilaksanakan pada bulan April 2017 di rumah kaca, screen house dan tempat terbuka (di luar rumah kaca dan screen house) Fakultas Pertanian UNS.
II. ALAT DAN CARA KERJA
2.1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum acara pengaruh rumah kaca dan screen house terhadap iklim mikro dan pertumbuhan tanaman adalah:
- Thermohigrograph
- Anemometer
- Lux meter
2.2. Cara Kerja
Cara kerja pada acara pengaruh rumah kaca dan screen house terhadap iklim mikro dan pertumbuhan tanaman adalah:
- Menanam jagung pada pot, di dalam rumah kaca, screen house dan di luar (tempat terbuka).
- Melakukan pengamatan intensitas penyinaran matahari, suhu udara dan kelembaban udara di dalam tumah kaca, screen house dan di luar (tempat terbuka).
- Melakukan pengukuran tinggi tanaman dan jumlah daun tanaman di dalam rumah kaca, screen house dan di luar (tempat terbuka).
- Pengukuran masing-masing unsur cuaca dilakukan pada tiga tempat (atas, tengah, dan bawah) dari tanaman, kemudian hasil ketiganya dijadikan nilai rata-rata.
III. HASIL PENGAMATAN
3.1. Suhu Udara
3.1.1. Jagung
![]() |
| Tabel 3.1.1. Data Hasil Pengukuran Suhu Udara Tanaman Jagung di Rumah Kaca, Screen House, dan Ruang Terbuka |
![]() |
| Grafik 3.1.1. Perbedaan Suhu Tanaman Jagung di Rumah Kaca, Screen House, dan Ruang Terbuka |
3.1.2. Kedelai
![]() |
| Tabel 3.2. Data Hasil Pengukuran SuhuTanaman Kedelai di Ruang Terbuka, Screen House, dan Rumah Kaca |
![]() |
| Grafik 3.1.2. Perbedaan Suhu Tanaman Kedelai di Rumah Kaca, Screen House, dan Ruang Terbuka |
3.1.3. Kacang hijau
![]() |
| Tabel 3.1.3. Data Hasil Pengukuran Suhu Tanaman Kacang Hijau di Ruang Terbuka, Screen House, dan Rumah Kaca |
![]() |
| Grafik 3.1.3. Perbedaan Suhu Tanaman Kacang Hijau di Rumah Kaca, Screen House, dan Ruang Terbuka |
3.2. Kelembaban Udara
3.2.1. Jagung
![]() |
| Tabel 3.2.1. Data Hasil Pengukuran Kelembaban Udara Tanaman Jagung di Ruang Terbuka, Screen House, dan Rumah Kaca |
![]() |
| Grafik 3.2.1. Perbedaan Kelembaban Udara Tanaman Jagung di Rumah Kaca, Screen House, dan Ruang Terbuka |
3.2.2. Kedelai
![]() |
| Tabel 3.2.2. Data Hasil Pengukuran Kelembaban Udara Tanaman Kedelai di Ruang Terbuka, Screen House, dan Rumah Kaca |
![]() |
| Grafik 3.2.2. Perbedaan Kelembaban Udara Tanaman Kedelai di Rumah Kaca, Screen House, dan Ruang Terbuka |
3.2.3. Kacang hijau
![]() |
| Tabel 3.2.3. Data Hasil Pengukuran Kelembaban Udara Tanaman Kacang Hijau di Ruang Terbuka, Screen House, dan Rumah Kaca |
![]() |
| Grafik 3.2.3. Perbedaan Kelembaban Udara Tanaman Kacang Hijau di Rumah Kaca, Screen House, dan Ruang Terbuka |
3.3. Intensitas Radiasi
3.3.1. Jagung
![]() |
| Tabel 3.3.1. Data Hasil Pengukuran Intensitas Radiasi Tanaman Jagung di Ruang Terbuka, Screen House, dan Rumah Kaca |
![]() |
| Grafik 3.3.1. Perbedaan Intensitas Radiasi Tanaman Jagung di Rumah Kaca, Screen House, dan Ruang Terbuka |
3.3.2. Kedelai
![]() |
| Tabel 3.3.2. Data Hasil Pengukuran Intensitas Radiasi Tanaman Kedelai di Ruang Terbuka, Screen House, dan Rumah Kaca |
![]() |
| Grafik 3.3.2. Perbedaan Intensitas Radiasi Tanaman Kedelai di Rumah Kaca, Screen House, dan Ruang Terbuka |
3.3.3. Kacang hijau
![]() |
| Tabel 3.3.3. Data Hasil Pengukuran Intensitas Radiasi Tanaman Kacang Hijau di Ruang Terbuka, Screen House, dan Rumah Kaca |
![]() |
| Grafik 3.3.3. Perbedaan Intensitas Radiasi Tanaman Kacang Hijau di Rumah Kaca, Screen House, dan Ruang Terbuka |
3.4. Kecepatan Angin
3.4.1. Jagung
![]() |
| Tabel 3.4.1. Data Hasil Pengukuran Kecepatan Angin Tanaman Jagung di Ruang Terbuka, Screen House, dan Rumah Kaca |
![]() |
| Grafik 3.4.1. Perbedaan Kecepatan Angin Tanaman Jagung di Rumah Kaca, Screen House, dan Ruang Terbuka |
3.4.2. Kedelai
![]() |
| Tabel 3.4.2. Data Hasil Pengukuran Kecepatan Angin Tanaman Kedelai di Ruang Terbuka, Screen House, dan Rumah Kaca |
![]() |
| Grafik 3.4.2. Perbedaan Kecepatan Angin Tanaman Kedelai di Rumah Kaca, Screen House, dan Ruang Terbuka |
3.4.3. Kacang hijau
![]() |
| Tabel 3.4.3. Data Hasil Pengukuran Kecepatan Angin Tanaman Kacang Hijau di Ruang Terbuka, Screen House, dan Rumah Kaca |
![]() |
| Grafik 3.4.3. Perbedaan Kecepatan Angin Tanaman Kacang Hijau di Rumah Kaca, Screen House, dan Ruang Terbuka |
3.5. Tinggi Tanaman
3.5.1. Jagung
![]() |
| Tabel 3.5.1. Data Hasil Pengukuran Tinggi Tanaman Jagung di Ruang Terbuka, Screen House, dan Rumah Kaca |
![]() |
| Grafik 3.5.1. Perbedaan Tinggi Tanaman Jagung di Rumah Kaca, Screen House, dan Ruang Terbuka |
3.5.2. Kedelai
![]() |
| Tabel 3.5.2. Data Hasil Pengukuran Tinggi Tanaman Kedelai di Ruang Terbuka, Screen House, dan Rumah Kaca |
![]() |
| Grafik 3.5.2. Perbedaan Tinggi Tanaman Kedelai di Rumah Kaca, Screen House, dan Ruang Terbuka |
3.5.3. Kacang hijau
![]() |
| Tabel 3.5.3. Data Hasil Pengukuran Tinggi Tanaman Kacang Hijau di Ruang Terbuka, Screen House, dan Rumah Kaca |
![]() |
| Grafik 3.5.3. Perbedaan Tinggi Tanaman Kacang Hijau di Rumah Kaca, Screen House, dan Ruang Terbuka |
IV. PEMBAHASAN
Tinggi tanaman yang diberi perlakuan tempat berbeda akan berbeda pula tingginya. Tanaman jagung yang diletakkan di rumah kaca lebih tinggi dibandingkan diletakkan di screen house dan ruang terbuka. Tanaman jagung memperoleh intensitas cahaya yang lebih banyak di rumah kaca. Perbedaan tinggi tanaman tersebut bisa terjadi karena banyak faktor, salah satunya adalah cahaya matahari yang berperan langsung terhadap hormon pada tanaman.
Tanaman kedelai yang diletakkan di ruang terbuka lebih tinggi dibandingkan tanaman kedelai yang diletakkan di rumah kaca atau screen house. Ruang terbuka mendapatkan angin yang cukup. Angin akan mempengaruhi unsur cuaca seperti suhu yang optimum dimana tanaman tumbuh dan berproduksi dengan sebaik-baiknya. Sedangkan tanaman kacang hijau yang diletakkan di screen house lebih tinggi dibandingkan tanaman kacang hijau yang diletakkan di ruang terbuka dan rumah kaca. Menurut Imani (2011), teknik budidaya menggunakan screen house atau paranet lebih mengarah kepada metode protektif, maksud dari protektif adalah tanaman-tanaman budidaya yang ditanam di dalam paranet lebih melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit. Selain itu screen house memiliki peranan agar suhu dan kelembaban di dalam screen house lebih terjaga.
Kecepatan angin di setiap tempat dan tanaman rata-rata hampir nol. Kecepatan angin hampir nol karena saat pengukuran tidak banyak udara yang bergerak di sekitar pertanaman. Kecepatan angin bagian bawah tanaman di rumah kaca nol, dikarenakan udara tidak masuk ke dalam celah disebabkan tutupan dari daun tanaman yang menutupi celah ke bagian bawah tanaman. Sedangkan kecepatan angin di ruang terbuka memiliki rata-rata 0,18775 dan kecepatan angin di screen house memiliki rata-rata 0,06761. Hal tersebut disebabkan karena pada ruang terbuka tidak terdapat penghalang sehingga angin dapat masuk dari mana saja. Pada screen house angin dapat masuk melalui celah namun angin yang masuk hanya sedikit.
Menurut Tantawi (2007), kecepatan angin adalah kecepatan udara yang bergerak horizontal pada ketinggian dua meter di atas tanah. Perbedaan tekanan udara antara asal dan tujuan angin merupakan faktor yang menentukan keceptan angin. Kecepatan angin akan berbeda pada permukaan yang tertutup oleh vegetasi dengan ketinggian tertentu, misalnya tanaman jagung dan kedelai. Intensitas cahaya yang didapatkan tanaman lebih banyak di bagian atas tanaman. Banyaknya intensitas cahaya ini karena bagian atas langsung terkena cahaya matahari. Untuk bagian bawah tanaman, intensitas cahaya yang diterima lebih sedikit bahkan dapat nol, karena bagian bawah tertutup oleh daun-daun bagian atas yang lebih rimbun. Bagian tengah tanaman tidak selalu sama intensitasnya, karena celah cahaya yang masuk kebagian tengah tidak selalu sama.
Kelembaban udara di setiap tempat relatif sama. Rata-rata setiap tanaman memiliki kelembaban lebih tinggi di screen house bila dibandingkan dengan rumah kaca dan ruang terbuka. Kelembaban udara diakibatkan oleh suhu udara yang menyebabkan air mengalami penguapan dan berubah menjadi uap air. Kelembaban udara pada screen house lebih tinggi daripada rumah kaca dan ruang terbuka karena di dalam screen house kelembabannya lebih terjaga. Menurut Edi (2009), kelembaban udara adalah tingkat kebasahan ara karean dalam udara air selalu terkandung dalam bentuk uap air. Kandungan uap air dalam udara hangat lebih banyak daripada kandungan uap air dalam udara dingin. Kalau udara banyak mengandung uap air didinginkan maka suhunya turun dan udara tidak dapat menahan uapa air lagi sebnayak itu. Uap air berubah menjadi titik-titik air. Udara yang mengandung uap air sebanyak yang dapat dikandungnya disebut udara jenuh.
Suhu setiap tanaman dan setiap tempat juga relative sama. Suhu berkisar 300C sampai 340C. Suhu di dalam rumah kaca cenderung stabil karena penerimaan cahaya dari matahari hampir sama di setiap sudut. Cahaya yang masuk tidak berbeda. Suhu di tempat terbuka tidak stabil karena cahaya yang dipancarkan tidak diterima dalam intensitas yang sama. Suhu dipengaruhi antara lain oleh intensitas cahaya, dan curah hujan. Menurut Firman (2009), ada dua akibat dari meningkatnya temperature yaitu karena adanya perubahan tekanan, sirkulasi udara yang menyebabkan kecepatan angin menjadi lebih kencang dan adanya penguapan uap air berkumpul di atas menyebabkan atmosfir basah, intensitas curah hujan menjadi meningkat dan intensitas cahaya menjadi rendah. Modifikasi yang paling cocok diterapkan di Indonesia adalah screen house karena memiliki suhu yang pas, tidak terlalu panas dan tidak terlalu lembab.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Dari praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut :
- Untuk tanaman jagung lebih tinggi di tempat rumah kaca, tanaman kedelai lebih tinggi di ruang terbuka dan untuk tanaman kacang hijau lebih tinggi di screen house.
- Intensitas cahaya bagian atas lebih besar dibandingkan bagian lainnya.
- Suhu di rumah kaca stabil dan lebih tinggi dibandingkan screen house dan ruang terbuka.
- Kecepatan angin di bagian bawah tanaman hampir nol. Kecepatan angin di rumah kaca nol, sedangkan kecepatan angin terbanyak ditemukan di ruang terbuka.
- Kelembaban udara di screen house lebih tinggi daripada yang lain.
5.2. Saran
Berdasarkan praktikum kali ini, sebaiknya dilakukan perawatan terhadap screen house dan rumah kaca agar tetap bisa dipergunakan untuk praktikum selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Edi S. 2009. Rancangan bangunan sensor suhu tanah dan kelembaban udara. J Sains Dirgantara, 7(1): 86-89.
Firman U. 2009. Fluktuasi udara dan trend variasi curah hujan rata-rata di atas 100 mm di beberapa wilayah Indonesia. Buletin Metorologi Klimatologi dan Geofisika, 5(3): 19-24.
Imani U. 2011. Klimatologi. Bandung : ITB.
Tantawi AR. 2007. Hubungan kecepatan angin dan kelembaban udara. J Agritop 26(4): 160-167.





























