Laporan Praktikum Survey Tanah dan Evaluasi Lahan

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
    Lahan merupakan kesatuan berbagai sumberdaya daratan yang saling berinteraksi membentuk suatu sistem struktural dan fungsional. Sifat dan perilaku lahan ditentukan oleh macam sumberdaya yang merajai dan macam serta intensitas interaksi yang berlangsung antar sumberdaya. Pembangunan dan perkembangan suatu daerah tidak akan terlepas dari sumberdaya yang dimiliki oleh daerah itu sendiri. Penggunaan yang optimal memerlukan keterkaitan dengan karakteristik dan kualitas lahannya. Salah satu tipe penggunaan lahan yang penting ialah penggunaan sumberdaya lahan dalam tipe-tipe pemanfaatan lahan (land utilization type) pertanian untuk mendapatkan hasil-hasil pertanian dan ternak.
    Evaluasi lahan merupakan proses penilaian potensi suatu lahan untuk penggunaan tertentu. Evaluasi lahan tidak terlepas dari kegiatan survei tanah. Survei tanah dilakukan untuk mengetahui penyebaran jenis tanah dan menentukan potensinya untuk berbagai alternatif penggunaan lahan. Tujuan survei tanah adalah mengklasifikasikan dan memetakan tanah dengan mengelompokkan tanah yang sama atau hampir sama sifatnya. Hasil evaluasi lahan akan memberikan informasi dan/atau arahan penggunaan lahan yang diperlukan, dan akhirnya nilai harapan produksi yang kemungkinan akan diperoleh.
    Klasifikasi kemampuan lahan (land capability classification) adalah penilaian lahan secara sistematik dan mengelompokannya ke dalam beberapa kategori berdasarkan atas sifat-sifat yang merupakan potensi dan penghambat dalam penggunaannya secara lestari. Klasifikasi kesesuaian lahan bersifat spesifik untuk suatu tanaman (crop specifik) atau untuk penggunaan tertentu seperti: klasifikasi kesesuaian lahan untuk tanaman semusim, klasifikasi kesesuaian lahan untuk tanaman tahunan, klasifikasi kesesuaian lahan untuk irigasi, dan sebagainya.
1.2. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum Survei Tanah dan Evaluasi Lahan ini adalah sebagai berikut :
  1. Menentukan Satuan Peta Tanah (SPT) di KHDTK Gunung Bromo, Mojogedang, Karanganyar 
  2. Menentukan jenis tanah di KHDTK Gunung Bromo, Mojogedang, Karanganyar 
  3. Mengetahui kemampuan lahan di KHDTK Gunung Bromo, Mojogedang, Karanganyar 
  4. Mengetahui kesesuaian lahan tanaman Blewah di KHDTK Gunung Bromo, Mojogedang, Karanganyar 

1.3. Manfaat Praktikum
Manfaat dari praktikum Survei Tanah dan Evaluasi Lahan ini adalah untuk memberikan informasi mengenai kesesuaian lahan untuk tanaman Blewah (Passiflora quadrangularia) di KHDTK Gunung Bromo, Mojogedang, Karanganyar 

II.TINJAUAN PUSTAKA 

2.1. Survei dan Klasifikasi Tanah
    Survei tanah mendeskripsikan karakteristik tanah-tanah disuatu daerah, mengklasfikasikannya menurut sistem klasfikasi baku, memplot batas tanah pada peta dan membuat prediksi tentang sifat tanah. Untuk dapat membedakan tanah satu dengan yang lain yang kemudian disajikan dalam suatu peta tanah, perlu dilakukan serangkaian kegiatan yang disebut survei tanah atau inventarisasi sumber daya tanah (Rayes, 2007). Tujuan survei tanah adalah mengklasifikasikan, menganalisis dan memetakan tanah dengan mengelompokkan tanah yang sama dan hampir sama sifatnya ke dalam satuan peta tanah tertentu dengan mengamati profil tanah atas warna, struktur, tekstur, konsistensi, sifat kimia dan lain-lain  (Hardjowigeno dan Widiatmaka, 2007).
    Evaluasi lahan adalah proses penilaian penampilan atau keragaman (Performance) lahan jika dipergunakan untuk Evaluasi lahan merupakan suatu upaya penafsiran penampilan lahan bila digunakan untuk suatu peruntukkan atau penggunaan tertentu. Dengan demikian evluasi lahan dapat menyajikan dasar-dasar rasional dalam pengambilan keputusan penggunaan lahan yang didasari atas analisis hubungan antara lahan dan penggunaan lahan, selanjutnya dikemukakan bahwa evaluasi lahan dimaksudkan untuk menyajikan suatu dasar atau kerangka rasional dalam pengambilan keputusan penggunaan lahan dengan karakteristik lahan itu sendiri dan memberikan perkiraan masukan yang diperlukan dan proyeksi luaran yang diharapkan. Karakteristik dan kualitas lahan mempengaruhi kesesuaian lahan yang selanjutnya akan tergantung dari kenyataan yang ada apakah sejumlah karakteristik/kualitas lahan optimal, marginal atau sesuai (Christady, 2007).
     Fungsi evaluasi sumberdaya lahan adalah memberikan pengertian tentang hubungan-hubungan antara kondisi lahan dan penggunannya serta memberikan kepada perencana berbagai perbandingan dan alternatif pilihan penggunaan yang dapat diharapkan berhasil. Dengan demikian manfaat yang mendasar dari evaluasi sumberdaya lahan adalah untuk menilai kesesuaian lahan bagi suatu penggunaan tertentu serta memprediksi konsekuensi-konsekuensi dari perubahan penggunaan lahan yang akan dilakukan (Kartosapoetra et al., 2005).

2.2. Kemampuan Lahan
   Klasifikasi kemampuan lahan adalah klasifikasi lahan  yang dilakukan dengan metode faktor penghambat. Dengan metode ini setiap kualitas lahan atau sifat-sifat lahan diurutkan dari  yang terbaik sampai yang terburuk atau dari yang paling kecil hambatan atau ancamanya sampai  yang  terbesar. Kemudian disusun tabel kriteria untuk setiap kelas;  penghambat  yang  terkecil untuk kelas yang  terbaik dan berurutan semakin besar hambatan semakin rendah kelasnya (Endrini, 2015).
    Kemampuan lahan adalah penilaian atas kemampuan lahan untuk penggunaan tertentu yang dinilai dari masing-masing faktor penghambat. Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya dan tidak dikuti dengan usaha konservasi tanah yang baik akan mempercepat terjadi erosi. Apabila tanah sudah tererosi maka produktivitas lahan akan menurun (Arsyad, 2010).
    Metode klasifikasi kemampuan lahan adalah sebagai berikut: 1) Metode kualitatif/deskriptif yakni metode didasarkan pada analisis visual/pengukuran yang dilakukan langsung dilapangan dengan cara mendiskripsikan lahan. Metode ini bersifat subyektif dan tergantung pada kemampuan peneliti dalam analisis, 2) Metode statistik  yakni metode yang didasarkan pada analisis statistik variabel penentu kualitas lahan yang disebut diagnostic land characteristic (variabel x) terhadap kualitas lahannya (variabel y), 3) Metode matching yakni metode didasarkan pada pencocokan antara kriteria kesesuaian lahan dengan data kualitas lahan. Evaluasi kemampuan lahan dengan cara matching dilakukan dengan mencocokkan antara karakteristik lahan dengan syarat penggunaan lahan tertentu, 4) Metode pengharkatan (scoring) yakni metode didasarkan pemberian nilai pada masing-masing satuan lahan sesuai dengan karakteristiknya (Hardjowigeno, 2006).

2.3. Kesesuaian Lahan
    Kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan suatu bidang lahan untuk penggunaan tertentu. Sebagai contoh lahan sangat sesuai untuk irigasi, lahan cukup sesuai untuk pertanian tanaman tahunan atau pertanian tanaman semusim. Kesesuaian lahan tersebut dapat dinilai untuk kondisi saat ini (present) atau setelah diadakan perbaikan (improvement). Lebih spesifik lagi kesesuaian lahan tersebut ditinjau dari sifat-sifat fisik lingkungannya, yang terdiri atas iklim, tanah, topografi, hidrologi dan/atau drainase sesuai untuk suatu usaha tani atau komoditas tertentu yang produktif  (Djaenudin et al., 2011).
     Kesesuaian lahan aktual adalah kesesuaian lahan berdasarkan data sifat biofisik tanah atau sumber daya lahan sebelum lahan tersebut diberikan masukan-masukan yang diperlukan untuk mengatasi kendala. Data biofisik tersebut berupa karakteristik tanah dan iklim yang berhubungan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang dievaluasi. Kesesuaian lahan potensial menggambarkan kesesuaian lahan yang akan dicapai apabila dilakukan usaha-usaha perbaikan. Lahan yang dievaluasi dapat berupa hutan konversi, lahan terlantar atau tidak produktif, atau lahan pertanian yang produktivitasnya kurang memuaskan tetapi masih memungkinkan untuk dapat ditingkatkan bila komoditasnya diganti dengan tanaman yang lebih sesuai  (Sinukaban, 2005).
    Kelas kesesuaian lahan dapat dibedakan menjadi dua, sesuai waktu dan penggunaannya, yaitu kesesuaian lahan aktual dan kesesuaian lahan potensial. Kelas kesesuaian lahan aktual (saat sekarang), menunjukan kesesuaian lahan terhadap penggunaan lahan yang ditentukan dalam keadaan sekarang, tanpa ada perbaikan yang berarti. Kesesuaian lahan potensial menunjukkan kesesuaian terhadap penggunaan lahan yang ditentukan dari satuan lahan dalam keadaan yang akan datang setelah diadakan perbaikan utama tertentu yang diperlukan. Dalam hal ini perlu dirinci faktor-faktor ekonomis yang disertakan dalam menduga biaya yang diperlukan untuk perbaikan-perbaikan tersebut. Alur logika penilaian kesesuaian lahan (FAO 1976 dalam Djaenudin et al., 2009).

2.4. Komoditas Blewah (Passiflora quadrangularia LINN)
    Blewah (Passiflora quadrangularia) adalah tumbuhan penghasil buah yang banyak digunakan sebagai minuman penyegar di Asia Tenggara. Kedudukan tanaman blewah dalam taksonomi tumbuhan diklasifikasikan sebagai berikut: 
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Cucurbitales 
Famili : Cucurbitaceae
Genus : Cucumis
Spesies : C. melo
    Blewah (Passiflora quadrangularia) sebenarnya bukan merupakan jenis tanaman buah musiman, blewah dapat ditanam kapanpun asalkan syarat tumbuhnya terpenuhi. Tanaman ini dibudidayakan untuk dimanfaatkan sebagai buah segar, dan dapat diolah menjadi jus buah dan es buah (Hendro dan Rita,2012). Blewah (Passiflora quadrangularia) merupakan jenis tanaman yang dapat tumbuh dan berproduksi baik pada rentang wilayah antara 0 – 400 m diatas permukaan laut (dpl). Blewah (Passiflora quadrangularia) berkembang di tanah hangat. Blewah (Passiflora quadrangularia) merupakan sumber yang baik karena memiliki serat makanan, niacin, vitamin B6, A, C, folat dan kalium. (Probowati, 2016).
      Probowati (2016) juga menambahkan bahwa blewah (Passiflora quadrangularia) mulai dari tanam sampai dengan panen sekitar 60 hari (2 bulan). Waktu panennya juga lebih cepat jika dibandingkan dengan semangka. Sistem penyiraman dengan sistem jaringan. Selang brip yang ada di tiap bulut dihubungkan dengan selang induk. Cara tersebut jauh lebih mudah daripada cara yang manual. Kondisi musim hujan, blewah tidak terlalu disiram. Penyiraman hanya dilakukan pada cuaca panas dan tekstur tanah yang mulai mengeras. Keasaman tanah yang baik untuk tanaman blewah (Passiflora quadrangularia) berkisar pada pH 6,0 - 6,8. Tanah yang tingkat keasamannya rendah akan menyebabkan tanaman blewah (Passiflora quadrangularia)  tumbuh  tidak normal karena kekurangan beberapa unsur hara yang diperlukan oleh tanaman ketersediaan air yang cukup dan diimbangi drainase yang baik akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman blewah (Tim Bina Karya Tani, 2009).

III. METODELOGI PRAKTIKUM
3.1. Tempat dan Waktu 
3.1.1. Survei dan Deskripsi Tanah dan Lingkungan Tiap Site Sampling
  • Tempat : KHDTK Gunung Bromo, Mojogedang, Karanganyar
  • Waktu : Minggu, 7 April 2019 Sabtu-Minggu, 13-14 April 2019

3.1.2. Survei dan Deskripsi Tanah dan Lingkungan Tiap Site SPT
  • Tempat : KHDTK Gunung Bromo, Mojogedang, Karanganyar
  • Waktu : Sabtu, 27 April 2019

3.1.3. Analisis Sampel Tanah
  • Tempat : Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian UNS
  • Waktu  : Selasa-Jumat, 7 – 10 Mei 2019

3.2. Bahan dan Alat 
3.2.1. Bahan yang digunakan dalam pelaksanaan praktikum ini adalah :
  • Aquadest
  • HCl 1 N
  • KCNS 10%
  • K3Fe(CN)6 0,5%
  • HCl 10%
  • HCL 2%
  • KCl 10%
  • NaCl 10%
  • H3BO3 2%
  • Alkohol 96%
  • FeSO4 1 N
  • K2Cr2O7 1 N
  • H3PO4 85%
  • H2SO4 pekat
  • Indikator DPA
  • Indikator campuran
  • Butir Zn
  • H2O2 10%
  • NaF
  • α, α dipyridyl
  • Ctka Ø 0,5 mm dan 2mm 

3.2.2. Alat 
Alat yang diperlukan dalam pelaksanaan praktikum ini antara lain :
  • Boardlist 
  • Peta 
  • Bor tanah
  • Klinometer
  • Kompas
  • GPS
  • pH stick
  • Munsell Soil Color Charts
  • Meteran 
  • Flakon
  • Ring sampel
  • Cangkul
  • Linggis
  • Rafia
  • Kertas marga
  • Belati
  • Kantong plastik
  • Label
  • Kamera
  • Alat tulis

3.3. Pelaksanaan Praktikum 
3.3.1. Pra-survei
  1. Orientasi lapangan oleh koordinator/ketua/perwakilan tim survei dan anggota inti lainnya yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan dan hasil survei. Tujuan pra-survei agar pelaksanaan survei utama dapat berjalan lancar dan efisien. 
  2. Kegiatan dalam pra-survei antara lain: memastikan perijinan survei (tingkat propinsi, kabupaten, kecamatan, desa/masyarakat), overview seluruh daerah survei, memeriksa dan memperbaiki/koreksi batas landform pada peta dasar dan peta rencana rintisan, akomodasi lainnya untuk pelaksanaan survei utama, memantapkan rencana survei utama dan pembagian kerja tim survei dengan titik pengamatannya.

3.3.2. Survei Utama
     Tahapan survei atau pengamatan lapangan biasanya dilakukan dalam tiga bentuk kegiatan survei yaitu pengamatan identifikasi (menggunakan boring tanah), pengamatan detail (pembuatan minipit) dan dekripsi profil. Dua kegiatan survei yang paling umum dilakukan adalah pengamatan identifikasi yang dilakukan dengan mengambil sampel tanah menggunakan bor tanah dan mencatat keterangan-keterangan/data-data penting di lapangan. Pengamatan detail juga sangat sering dilakukan pada pengamatan detail dilakukan penggalian profil untuk identifikasi horison-horison tanah. Urutan kerja survei utama:
  • Mengecek batas-batas satuan landform.
  • Melakukan gerak penjelajahan untuk menemukan titik pengamatan.
  • Ploting titik pengamatan pada peta kerja dengan menyertakan koordinat geografinya atau dengan sistem UTM.
  • Melakukan pengamatan lapangan. Buku Petunjuk Teknis Pengamatan Tanah oleh Balai Penelitian Tanah Departemen Pertanian RI 2004 memberikan petunjuk dan rincian pengamatan tanah di lapangan, sebagai berikut : 
  1. Pengamatan identifikasi dilakukan dengan pemboran untuk mengidentifikasikan satuan taksonomi. Kedalaman pemboran 120 cm atau bisa hanya sampai dengan batuan induk, apabila kedalaman tanah dangkal. Karakteristik yang diamati: tanah (warna, tekstur, struktur, batuan, dan lainnya) dan lingkungan (landform, lereng, relief, elevasi, vegetasi (penggunaan lahan). Contoh boardlist (daftar isian) pemboran di lampiran.
  2. Pengamatan detail dilakukan dengan pembuatan minipit (panjang 40 cm x lebar 40 cm x kedalaman 50 cm), setelah diamati kemudian diteruskan dengan pemboran sampai dengan 120 cm, atau bisa hanya sampai dengan batuan induk, apabila kedalaman tanah dangkal. Pengamatan ini merupakan pengamatan profil tanah tetapi secara lebih ringkas, yang berguna untuk membuat kisaran karakteristik satuan taksonomi dan menentukan tipikal pedon. Contoh boardlist (daftar isian) minipit di lampiran.
  3. Deskripsi profil tanah untuk mengilustrasikan konsep sentral satuan taksonomi di daerah survei dan mengkorelasikan antar tanah. Deskripsi profil mengacu pada Soil Survey Staff (2014). Contoh boardlist (daftar isian) profil di lampiran. Contoh boardlist (daftar isian) profil dari penulis di file/lembar terpisah. Profil dibuat dengan ukuran panjang 2 – 2,5 m x lebar 1 – 1,5 m x kedalaman 1,5 – 2 m. Kedalaman profil bisa hanya sampai dengan batuan induk, apabila kedalaman tanah dangkal. Contoh skema pembuatan profil di lampiran. Ukuran profil ini berkaitan dengan kemudahan dan keleluasaan surveyor untuk mendeskripsi profil dan penggambilan dokumentasi. Penampang profil harus diperhatikan pengaruh silau dan gelap terkait dengan arah sinar matahari saat dilakukan deskripsi, dengan mengatur arah profil atau dengan memasang tenda profil. Profil pada daerah yang miring/berlereng maka penampang profil yang diamati adalah sisi dinding profil di bagian lereng atas.
  4. Setiap selesai mendeskripsikan minipit dan profil langsung diklasifikasikan tanah sampai dengan yang ditentukan, apabila masih ada keraguan dibuat beberapa nama tanah alternatif.
  5. Mengambil sampel tanah tiap horison, cara mengambil sampel tanah profil dimulai dari horison bawah untuk menghindari pencemaran dari horison lainnya. Jumlah sampel tanah tiap horison 1 – 1,5 kg untuk profil, dan 0,25 kg untuk pemboran. Sampel diberi label dan identitas yang jelas paling tidak kode profil dan nomor horison (nomor horison dimulai dari atas). Sampel tanah utuh 2 ring sample setiap horison.
  6. Mengisi semua data dan informasi yang diperlukan ke dalam boardlist.
  7. Melengkapi data dan informasi spesifik yang menonjol pada titik pengamatan (bila ada).
  8. Mendokumentasi setiap obyek dan moment yang penting.
  9. Membuat Peta tanah sementara.
  • Kegiatan base camp rutin setiap hari sebagai berikut : 

  1. Ploting hasil pengamatan tiap tim pada peta rekapan untuk mengetahui jumlah pengamatan yang telah dilakukan.
  2. Mendiskusikan tentang temuan dan pengalaman survei pada hari tersebut, kesulitan dan kendala serta usaha mengatasinya, dan merencanakan survei hari berikutnya : a) Analisis yang bisa dilakukan di base camp. b) Kegiatan base camp di akhir survey. c) Mengkorelasikan penamaan tanah, sebaran dan proporsi tanah tersebut dalam satuan landform. d) Semua pengamatan minipit dan pemboran dengan satuan tanah yang sama dikumpulkan dalam suatu arsip. e) Membuat kisaran sifat masing-masing satuan untuk menentukan pedon/profil tipikal. f) Memperbaiki beberapa perubahan seperti batas landform, kelas lereng/relief, dan lainnya  kemudian juga merevisinya ke dalam Peta rekapan. g) Menyusun legenda Peta tanah sementara, dan sebelum kembali dari lapangan telah dihasilkan Peta tanah sementara beserta legendanya.
  3. Penyelesaian : a) Analisis contoh/sampel tanah di laboratorium. b) Mempersiapkan sampel tanah sebelum dianalisis di laboratorium (preparasi sampel tanah). c) Macam analisis menyesuaikan dengan keperluan: (1) kesuburan tanah (tekstur, pH, BO, N, P, K, KPK, KB), (2) fisika tanah (tekstur, pemeabilitas), dan (3) analisis untuk klasifikasi tanah. Contoh macam-macam analisis sampel tanah di lampiran. d) Klasifikasi tanah secara pasti. e) Penggambaran peta tanah secara manual dan digital. f) Pengolahan data dan penyusunan laporan

3.4. Macam dan Cara Pengamatan Data/Informasi
3.4.1. Evaluasi Lahan 
Tabel 3.1. Kriteria klasifikasi kemampuan lahan (Sistem Klasifikasi USDA)
Keterangan :
(*) = dapat mempunyai sembarang sifat
(**) = tidak berlaku
(***) = umumnya terdapat di daerah beriklim kering
Kriteria faktor penghambat/pembatas klasifikasi kemampuan lahan :
a. Kecuraman lereng
A (l0) = 0 sampai 3% (datar)
B (l1) = 3 sampai 8% (landai atau berombak)
C (l2) = 8 sampai 15% (agak miring atau bergelombang)
D (l3) = 15 sampai 30% ( miring atau berbukit)
E (l4) = 30 sampai 45% (agak curam)
F (l5) = 45 sampai 65% (curam)
G (l6) = lebih dari 65% (sangat curam)

b. Kepekaan erosi tanah (nilai K) (perhitungan pada Lampiran 2)
KE1 = 0,00 sampai 0,10 (sangat rendah)
KE2 = 0,11 sampai 0,20 (rendah)
KE3 = 0,21 sampai 0,32 (sedang)
KE4 = 0,33 sampai 0,43 (agak tinggi)
KE5 = 0,44 sampai 0,55 (tinggi)
KE6 = 0,56 sampai 0,64 (sangat tinggi)

c. Kerusakan erosi yang telah terjadi
e0 = tidak ada erosi
e1 = ringan : kurang dari 25% lapisan atas hilang
e2 = sedang : 25 sampai 75% lapisan atas hilang
e3 = agak berat : lebih dari 75% lapisan atas sampai kurang dari 25% lapisan bawah hilang
e4 = berat : lebih dari 25% lapisan bawah hilang
e5 = sangat berat : erosi parit

d. Kedalaman Tanah
k0 = lebih dari 90 cm (dalam)
k1 = 90 sampai 50 cm (sedang)
k2 = 50 sampai 25 cm (dangkal)
k3 = kurang dari 25 cm (sangat dangkal)

e. Tekstur Tanah (Hasil analisis laboratorium didasarkan Segitiga tektur tanah USDA)
t1 = tanah bertekstur halus, meliputi tekstur liat berpasir, liat berdebudan liat.
t2 = tanah bertekstur agak halus, meliputi tekstur lempung liat berpasir, lempung berliat dan lempung berliat berdebu.
t3 = tanah bertekstur sedang, meliputi tekstur lempung, lempung berdebu dan debu.
t4 = tanah bertekstur agak kasar, meliputi lempung berpasir, lempung berpasir halus dan lempung berpasir sangat halus.
t5 = tanah bertekstur kasar, meliputi tekstur pasir berlempung dan pasir.

f. Permeabilitas
P1 = lambat : kurang 0,5 cm/jam
P2 = agak lambat : 0,5 – 2,0 cm/jam
P3 = sedang : 2,0 – 6,25 cm/jam
P4 = agak cepat : 6,25 – 12,5 cm/jam
P5 = cepat : lebih dari 12,5 cm/jam

g. Drainase
d0 = berlebihan (excessively drained), air lebih segera keluar dari tanah  dan sangat sedikit air yang tahan oleh tanah sehingga tanaman akan segera mengalami kekuranganair.
d1 = baik : tanah mempunyai peredaran udara yang baik.
Seluruh profil tanah dari atas sampai ke bawah (150cm) berwarna terang yang  seragam dan tidak terdapat bercak-bercak berwarna terang yang seragam dan tidak terdapat bercak-bercak kuning, coklat atau kelabu. 
d2 = agak baik : tanah mepunyai peredaran udara baik di daerah perakaran. Tidak terdapat bercak-bercak berwarna kuning, coklat   atau kelabu pada lapisan atas
bagian atas lapisan bawah sampai sekitar 60 cm dari permukaan tanah).   
d3 = agak buruk : lapisan atas tanah mempunyai peredaran udara baik; tidak terdapat bercak-bercak berwarna kuning, kelabu atau coklat. Bercak-bercak terdapat pada seluruh lapisan bagian bawah (sekitar 40 cm dari permukaan tanah).
d4 = buruk : bagian bawah lapisan atas (dekat permukaan) terdapat warna atau bercak-bercak berwarna kelabu, coklat dan kekuning.
d5 = sangat buruk : seluruh lapisan sampai permukaan tanah berwarna kelabu dan tanah lapisan bawah berwarna kelabu atau terdapat bercak-bercak berwarna kebiruan, atau terdapat air yangmenggenang dipermukaan tanah dalam waktu yang lamasehingga menghambat pertumbuhan tanaman.
Faktor-faktor Khusus :
h. Kerikil
b0 = tidak ada atau sedikit : 0 sampai 15% volume tanah.
b1 = sedang : 15 sampai 50% volume tanah; pengolahan tanah mulai agak sulit pertumbuhan tanaman agak terganggu.
b2 = banyak : 50% sampai 90% volume tanah.
b3 = sangat banyak : lebih dari 90% volume tanah.

i. Batuan Kecil
b0 = tidak ada atau sedikit : 0 sampai 15% volume tanah.
b1 = sedang : 15% sampai 50% volume tanah; pengolahan tanah mulai  agak sulit dan pertumbuhan tanaman agak terganggu.
b2 = banyak : 50 sampai 90% volume tanah; pengolahan tanah sangat sulit dan pertumbuhan tanaman terganggu.
b3 = sangat banyak : lebih dari 90% volume tanah; pengolahan tanah tidak mungkin dilakukan dan pertumbuhan tanaman terganggu.

j. Batuan lepas 
b0 = tidak ada : kurang dari 0,01% luas areal.
b1 = sedikit : 0,01% sampai 3% permukaan tanah tertutup; pengolahan tanah dengan agak terganggu tetapi tidak mengganggu pertumbuhan tanaman.
b2 = sedang : 3% sampai 15% permukaan tanah tertutup; pengolahan tanah mulai agak sulit dan luas areal produktif berkurang.
b3 = banyak : 15% sampai 90% permukaan tanah tertutup;
pengolahan tanah dan penanaman menjadi sangat sulit.
b4 = sangat banyak : lebih dari 90% permukaan tanah tertutup; tanahsama sekali tidak dapat digunakan untuk produksi pertanian.

k. Batuan Tersingkap (rock)
b0 = tidak ada : kurang dari 2% permukaan tanah tertutup.
b1 = sedikit : 15% sampai 90% permukaan tanah tertutup;
pengolahantanah dan penanaman agak terganggu.
b2 = sedang : 10% sampai 50% permukaan tanah tertutup;
pengolahan tanah dan penanaman terganggu.
b3 = banyak : 50% sampai 90% permukaan tanah tertutup;
pengolahan tanah dan penanaman sangat terganggu.
b4 = sangat banyak : lebih dari 90% permukaan  tanah
tertutup; tanah sama sekali tidak dapat digarap.

l. Ancaman Banjir/Genangan
O0 = tidak pernah : dalam periode satu tahun tanah tidak pernah tertutup banjir untuk waktu lebih dari 24 jam.
O1 = kadang-kadang : banjir yang menutupi tanah lebih dari 24 jam terjadinya tidak teratur dalam periode kurang dari satu bulan.
O2 = selama waktu satu bulan dalam setahun tanah secara teratur tertutup banjir untuk jangka waktu lebih dari 24 jam.
O3 = selama waktu 2 sampai 5 bulan dalam setahun, secara teratur selaludi landa banjir yang lamanya lebih dari 24 jam.
O4 = selama waktu 6 bulan atau lebih tanah selalu dilanda banjir secara teratur yang lamanya lebih dari 24 jam.

m. Salinitas
go = bebas = 0 sampai 0,15% garam larut ; 0 sampai 4 (EC x 103) mmhosper cm pada suhu 250C)
go1 = terpengaruh sedikit = 0,15 sampai 0,3% garam laut; 4 sampai 8 (EC x 103) mmhos/cm pada suhu 25%C.
go2 = terpengaruh sedang = 0,35 sedang 0,65% garam larut; 8 sampai 15 (EC x 103)
go3 = terpengaruh hebat = lebih dari 0,65% garam larut; lebih dari 15 (ECx 103)mmhos/cm pada suhu 250C

3.4.2. Evaluasi Kesesuaian Lahan 

Tabel 3.2. hubungan antara kualitas dan karakteristik lahan yang dipakai pada metode evaluasi lahan menurut Ritung et al (2011)

3.5. Analisis Data 
   Analisis data yang digunakan dalam praktikum ini adalah menggunakan metode Matching antara karakteristik lahan dengan syarat tumbuh tanaman yang akan menghasilkan kelas kesesuaian lahan beserta faktor pembatasnya. 

IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Kondisi Umum Wilayah
4.1.1. Hasil Pengamatan
Gambar 4.1. Peta Administrasi KHDTK Gunung Bromo

4.1.2. Pembahasan
     Kawasan wisata Hutan Gunung Bromo terletak di jalan raya Karanganyar Mojogedang atau ±5 km menuju kearah Timur dari Kota Karanganyar. Secara administrasi termasuk dalam wilayah pemerintah kelurahan Delingan, kabupaten Karanganyar, propinsi Jawa Tengah, menurut pengelolaan hutannya kawasan ini termasuk wilayah RPH Bromo (Resort Pemangku Hutan), BKPH Lawu Utara (Bagian Kesatuan Pemangku Hutan). Luas kawasan ini ±125 hektar dan digunakan untuk area wisata secara intensif ±25 hektar. Kawasan Hutan Gunung Bromo memiliki sejarah, yaitu sebagai petilasan “Putri Serang” istri dari Pangeran Diponegoro, sampai sekarang masih banyak masyarakat yang mengunjungi. Pada sebelah selatan lokasi Hutan Gunung Bromo terdapat sebuah Waduk Delingan. Untuk mencapai Hutan Gunung Bromo biasa ditempuh dengan kendaraan umum atau angkutan desa dari Kota Karanganyar ke Mojogedang.
      Kawasan Hutan Gunung Bromo mempunyai beberapa potensi alam yang sangat menguntungkan, antara lain potensi flora. Vegetasi yang terdapat pada wilayah Hutan Gunung Bromo merupakan hutan tanaman yang terdiri dari jenis-jenis pinus (pinus merkusi), sonokeling, akasia, mahoni, gamal, kesambi, lamtoro, duwet, flamboyan, cendana, kaliandra,  petai cina, sengon, eukaliptus, aban, dll. Didukung dengan adanya potensi flora, pemandangan tegakan tinggi pinus yang indah, keadaan udara sekitar yang sejuk dan juga dapat melihat pemandangan beberapa penyadap getah pinus yang sedang menyadap getah sehingga dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke Hutan Gunung Bromo.
      Hasil Satuan Peta Tanah praktikum Evaluasi Lahan terbagi menjadi 6 Satuan Peta Tanah (SPT). SPT 1 terletak pada 07˚33’50,04” LS dan 110˚48’342” BT dan pada ketinggian 93,2 mdpl. SPT 2 terletak pada 07˚35’8,64’’LS dan 111˚00’43,68” BT dan pada ketinggian 249 mdpl. SPT 3 pada 07˚34’57,8’’LS dan 110˚59’49,4” BT dan pada ketinggian 294 mdpl. SPT 4 terletak pada 07˚35’11,8’’ LS dan  111˚00’00” BT dan pada ketinggian 87,4  mdpl. SPT 5 terletak pada 07˚36’48’’ LS dan 110˚59’33” BT dan pada ketinggian 361 mdpl. SPT 6 terletak pada 07˚35’33,66’’ LS dan 110˚48’39,72” BT dan pada ketinggian 317 mdpl.

4.2. Satuan Peta Tanah
4.2.1. Hasil Pengamatan 
Gambar 4.2. Peta Jenis Tanah KHDTK Gunung Bromo

4.2.2. Pembahasan SPT
4.2.2.1. SPT 1
Tabel 4.1. Diagnostig Horison SPT 1

     Satuan Peta Tanah 1 termasuk dalam golongan tanah Andisols. SPT ini memiliki kejenuhan basa 30,6%, memenuhi incep soil properties dan memiliki value ≥4 sehingga memenuhi persyaratan epipedon okrik. Tekstur silty clay loam dan warna dengan value 4 memenuhi syarat endopedon kambik.
    Sistem Klasifikasi Soil Taxonomy, tanah diklasifikasikan menurut hirarki ordo, sub ordo, great group, sub group, family, dan seri. Klasifikasi taksonomi tanah menurut USDA pada SPT 1 yaitu termasuk dalam ordo Inceptisols, sub ordo Udept karena memiliki rejim kelembaban udik, great group Durudept karena memiliki epipedon okrik, sub group Typic Durudept mempunyai duripan atau horizon tersementasi yang lain di dalam 100cm dari permukaan tanah mineral. Family Typic Durudept, Silt Clay Loam,Isothypertermic, mempunyai pH H2O 6, dan mempunyai rata-rata suhu tanah sebesar  ≥ 22°C dengan beda < 6°C pada musim panas dan dingin, seri Gedong.
1) Tingkat Ordo
a) Memiliki epipedon okrik dan endopedon kambik
(USDA/Soil Taxonomy) Inceptisols
(SKTN) Latosol
(FAO) Kambisol
2) Tingkat Sub Ordo
a) Inceptisols yang lain
Udepts
3) Tingkat Great Group
a) Udepts lain yang mempunyai duripan atau horizon tersementasi yang lain di dalam 100 cm dari permukaan tanah mineral
Durudepts
4) Tingkat Sub Group
a) Durudepts yang lain
Typic Durudepts
5) Tingkat Famili
a) Tekstur Silt Clay Loam
b) Suhu ≥ 22°C dengan beda < 6°C pada musim panas dan dingin
Typic Durudepts, Clay, Isohipertermik
6) Tingkat Seri
a) Terdapat di Desa Gedong
 Gedong, Typic Durudepts, Clay, Kaolinitik, Isohipertermik

4.2.2.2.SPT 2
Tabel 4.2. Diagnostig Horison SPT 2

    Satuan Peta Tanah 2 termasuk dalam golongan tanah Alfisol. Epipedon tidak memenuhi persyaratan epipedon yang lain dan memiliki value 4 sehingga memenuhi epipedon okhrik, horison yang dimiliki adalah iluviasi serta terdapat klei kutan pada SPT ini yang memenuhi syarat endopedon argilik.
      Satuan peta tanah 2 termasuk dalam ordo Alfisols, sub ordo Udalf karena merupakan alfisol yang lain, great group Hapludalf karena tidak memenuhi syarat great group lainnya, sub group Udic Hapludalf karena mempunyai kejenuhan basa < 60% pada kedalaman 180 cm dibawah permukaan tanah mineral. Family Typic Humudepts, Kaolinit, Berliat halus, Acid, Isohiperthermic karena memiliki tekstur clay, memiliki mineral campuran, dan mempunyai rata-rata suhu tanah sebesar 22 °C, dengan selisih suhu tertinggi dan terendah >6 °C, Seri Gedong. 
1) Tingkat Ordo
a) Memiliki epipedon okrik dan endopedon argilik
(USDA/Soil Taxonomy) Alfisols
(SKTN) Mediteran
(FAO) Luvisol 
2) Tingkat Sub Ordo
a) Alfisol yang lain
Udalf
3) Tingkat Great Group
a) Udalf yang lain
Hapludalf
4) Tingkat Sub Group
a) Hapuldalf yang mempunyai kejenuhan basa < 60% pada kedalaman 125 cm di bawah batas atas horizon argilik, 180 cm dibawah permukaan tanah mineral
Ultic Hapludalf
5) Tingkat Famili
a) Mineral kaolinit
b) Tekstur beriat halus
c) Memiliki rezim suhu isohipertermik
Ultic hapludalf, kaolinit, berliat halus, isohipertermik
6) Tingkat Seri
a) Terletak di desa Gedong
Delingan, Ultic hapludalf, kaolinit, berliat halus, isohipertermik

4.2.2.3. SPT 3
Tabel 4.3. Diagnostig Horison SPT 3

      Satuan Peta tanah 3 termasuk dalam golongan tanah Inceptisol, SPT ini memiliki kejenuhan basa 30,6%, memenuhi incep soil properties dan memiliki value ≥4 sehingga memenuhi persyaratan epipedon okrik. Tekstur silty clay loam dan warna dengan value 4 memenuhi syarat endopedon kambik.
     Sistem Klasifikasi Soil Taxonomy, tanah diklasifikasikan menurut hirarki ordo, sub ordo, great group, sub group, family, dan seri. Klasifikasi taksonomi tanah menurut USDA pada SPT 3 yaitu termasuk dalam ordo Inceptisols, sub ordo Udept karena memiliki rejim kelembaban udik, great group Durudept karena memiliki epipedon okrik, sub group Typic Durudept mempunyai duripan atau horizon tersementasi yang lain di dalam 100cm dari permukaan tanah mineral. Family Typic Durudept, Silt Clay Loam,Isothypertermic, mempunyai pH H2O 6, dan mempunyai rata-rata suhu tanah sebesar  ≥22°C dengan beda < 6°C pada musim panas dan dingin, seri Gedong.
1) Tingkat Ordo
a) Memiliki epipedon okrik dan endopedon kambik
(USDA/Soil Taxonomy) Inceptisols
(SKTN) Latosol
(FAO) Kambisol
2) Tingkat Sub Ordo
a) Inceptisols yang lain
Udepts
3) Tingkat Great Group
a) Udepts lain yang mempunyai duripan atau horizon tersementasi yang lain di dalam 100cm dari permukaan tanah mineral
Durudepts
4) Tingkat Sub Group
a) Durudepts yang lain
Typic Durudepts
5) Tingkat Family
a) Tekstur Loam
b) Kaolinit 
c) Suhu ≥ 22°C dengan beda < 6°C pada musim panas dan dingin
Typic Durudepts, Loam, Isohipertermik
6) Tingkat Seri
a) Terdapat di Desa Gedong
Gedong, Typic Durudepts, Loam, Isohipertermik
4.2.2.4. SPT 4
Tabel 4.4. Diagnostig Horison SPT 4

    Satuan Peta tanah 4 termasuk dalam golongan tanah Alfisol, epipedon tidak memenuhi persyaratan epipedon yang lain dan memiliki value 4 sehingga memenuhi epipedon okhrik, horison yang dimiliki adalah iluviasi serta terdapat klei kutan pada SPT ini yang memenuhi syarat endopedon argilik.
 Satuan peta tanah 4 termasuk dalam ordo Alfisols, sub ordo Udalf karena memiliki rejim kelembaban udik, great group Paleudalf  karena tidak mempunyai kontak denstik, litik atau paralitik didalam 50 cm dari permukaan tanah dan berada didalam 150 cm dari pemukaan tanah mineral, sub group Typic Paleudalf karena tidak memenuhi syarat sub group lainnya. Family Typic Paleudalf, Berliat Halus, Acid Kaolinit, Tercampur, semi Aktif, Isohyperthermic karena memiliki tekstur lempung halus, memiliki mineral kaolinit, mempunyai rata-rata suhu tanah >22°C, Seri Delingan.
1) Tingkat Ordo
a) Memiliki epipedon okrik dan endopedon argilik
(USDA/Soil Taxonomy) Alfisols
(SKTN) Mediteran
(FAO) Luvisol 
2) Tingkat Sub Ordo
a) Alfisol yang memiliki rejim kelembaban udik
Udalf
3) Tingkat Great Group
a) Pada 50 persen atau lebih matriks di dalam setengah bagian bawah satu sub horison atau lebih, memiliki hue 7,5 YR atau lebih merah dan kroma 5 atau lebih, atau
b) Pada 50 persen atau lebih matriks suatu horison yang ketebalannya lebih dari setengah ketebalan totalnya, memiliki hue 2,5 YR atau lebih merah, value warna, lembab, 3 atau kurang, dan value warna, kering 4 atau kurang; atau
c) Pada satu sub horizon atau lebih, terdapat banyak konsentrasi redoks berukuran besar dengan hue 5 YR atau lebih merah atau 6 atau lebih, atau keduanya
Paleudalf
4) Tingkat Sub Group
a) Paleudalf yang lain 
Typic paleudalf
5) Tingkat Famili
a) Mineral kaolinit
b) Tekstur berliat halus 
Typic paleudalf, loam, kaolinit, isohypertermic
6) Tingkat Seri
a) Terletak di desa Delingan
Delingan, Typic paleudalf, Laom, kaolinit, isohypertermic

4.2.2.5. SPT 5
Tabel 4.5. Diagnostig Horison SPT 5

     Satuan Peta Tanah 5 termasuk dalam golongan tanah Alfisol. SPT ini memiliki memiliki value ≥4 sehingga memenuhi persyaratan epipedon okrik. Tekstur silty clay loam dan warna dengan value 4 memenuhi syarat endopedon kambik.
    Sistem Klasifikasi Soil Taxonomy, tanah diklasifikasikan menurut hirarki ordo, sub ordo, great group, sub group, family, dan seri. Klasifikasi taksonomi tanah menurut USDA pada SPT 5 yaitu termasuk dalam ordo Alfisol, sub ordo Udalf karena tidak memiliki kecocokan dengan kunci sub ordo ditingkat atasnya, great group Fragiudalf karena mempunyai fragipan pada kedalaman 118 cm dari permukaan tanah, sub group Typic Albaaqualf karena merupakan Fragiudalfs yang lain. Family Typic Fragiudalf, Clay, Kaolinitic, Isohipertermic, mempunyai pH H2O 6, dan mempunyai rata-rata suhu tanah sebesar  ≥22°C dengan beda < 6°C pada musim panas dan dingin, seri Delingan.
1) Tingkat Ordo
a) Memiliki epipedon okrik dan endopedon argilik
(USDA/Soil Taxonomy) Alfisol
(SKTN) Mediteran 
(FAO) Luvisol
2) Tingkat Sub Ordo
a) Alfisol yang lain karena tidak memiliki kecocokan dengan kunci sub ordo ditingkat atasnya.
Udalfs
3) Tingkat Great Group
a) Udalfs lain yang mempunyai fragipan pada kedalaman 118 cm dari permukaan tanah.
Fragiudalfs
4) Tingkat Sub Group
a) Fragiudalfs yang lain.
Typic Albaqualfs
5) Tingkat Famili
a) Tekstur Clay
b) Mineral kaolinit
c) Suhu ≥22°C dengan beda < 6°C pada musim panas dan dingin
Typic Fragiudalf, clay, kaolinitic, isohipertermik
6) Tingkat Seri
a) Terdapat di Desa Delingan
Delingan, Typic Fragiudalf, clay, kaolinitic, isohipertermik, 

4.2.2.6. SPT 6
Tabel 4.6. Diagnostig Horison SPT 6

     Satuan Peta Tanah 6 termasuk dalam golongan tanah Alfisol. SPT ini memiliki memiliki value ≥4 sehingga memenuhi persyaratan epipedon okrik. Tekstur silty clay loam dan warna dengan value 4 memenuhi syarat endopedon kambik.
    Sistem Klasifikasi Soil Taxonomy, tanah diklasifikasikan menurut hirarki ordo, sub ordo, great group, sub group, family, dan seri. Klasifikasi taksonomi tanah menurut USDA pada SPT 6 yaitu termasuk dalam ordo Alfisol, sub ordo Udalf karena tidak memiliki kecocokan dengan kunci sub ordo ditingkat atasnya, great group Paleudalf  karena tidak mempunyai kontak densik, litik, atau paralitik di dalam 50 cm dari permukaan tanah, sub group Typic Paleudalf karena merupakan Paleudalf yang lain. Family Typic Paleudalf, silty Clay loam, Kaolinitic, Isohipertermic, mempunyai pH H2O 6, dan mempunyai rata-rata suhu tanah sebesar  ≥22°C dengan beda < 6°C pada musim panas dan dingin, seri Delingan.
1) Tingkat Ordo
a) Memiliki epipedon okrik dan endopedon argilik
(USDA/Soil Taxonomy) Alfisol
(SKTN) Mediteran 
(FAO) Luvisol
2) Tingkat Sub Ordo
a) Alfisol yang lain karena tidak memiliki kecocokan dengan kunci sub ordo ditingkat atasnya.
Udalfs
3) Tingkat Great Group
a) Pada 50 persen atau lebih matriks di dalam setengah bagian bawah satu sub horison atau lebih, memiliki hue 7,5 YR atau lebih merah dan kroma 5 atau lebih, atau
b) Pada 50 persen atau lebih matriks suatu horison yang ketebalannya lebih dari setengah ketebalan totalnya, memiliki hue 2,5 YR atau lebih merah, value warna, lembab, 3 atau kurang, dan value warna, kering 4 atau kurang; atau
c) Pada satu sub horizon atau lebih, terdapat banyak konsentrasi redoks berukuran besar dengan hue 5 YR atau lebih merah atau 6 atau lebih, atau keduanya
Paleudalf
4) Tingkat Sub Group
a) Paleudalf yang lain
Typic Paleudalf
5) Tingkat Famili
a) Suhu ≥ 22°C dengan beda < 6°C pada musim panas dan dingin
b) Tekstur geluh debuan 
c) Mineral kaolinit 
Typic Paleudalf, isohipertermik, geluh debuan, kaolinit
6) Tingkat Seri
a) Terdapat di Desa Delingan
Delingan,  Typic Paleudalf, kaolinit, isohipertermik, 

4.3. Kemampuan Lahan
4.3.1. Hasil Pengamatan 
Gambar 4.3. Peta Kemampuan Lahan KHDTK Gunung Bromo

4.3.2. Pembahasan Tentang Kemampuan Lahan
4.3.2.1. Kemampuan Lahan SPT 1
Tabel 4.7. Kelas Kemampuan Lahan SPT 1
    Penetapan kelas kemampuan penggunaan lahan dapat dipilih faktor pembatas yang terberat dengan kelas kemampuan lahan yang paling rendah sebab satu faktor penghambat dapat menjadi penentu ke kelas mana lahan harus dimasukkan. Berdasarkan hasil pengamatan, SPT 1 faktor pembatas lereng permukaan dengan kecuraman 3-8% yang tergolong landai atau berombak. Tindakan konservasi yang tepat untuk mencegah terjadinya erosi yaitu dengan pembuatan teras.

4.3.2.2. Kemampuan Lahan SPT 2
Tabel 4.8. Kelas Kemampuan Lahan SPT 2
Berdasarkan hasil pengamatan, SPT 3 memiliki faktor pembatas terberat yaitu lereng permukaan dengan kecuraman 8-15% yang tergolong agak miring atau berbukit. Dilhat dari data diatas, tingkat erosi pada SPT 2 tergolong ringan. Maka dari itu, kecuraman lereng mempengaruhi tingkat bahaya erosi karena semakin curam lereng maka tanah yang terangkut oleh air akan semakin banyak. Tindakan yang tepat untuk mencegah erosi dengan pembuatan teras, penanaman sejajar kontur dan penanaman tanaman penutup tanah untuk memperkecil aliran permukaan tanah.

4.3.2.3.Kemampuan Lahan SPT 3
Tabel 4.9. Kelas Kemampuan Lahan SPT 3
    Berdasarkan hasil pengamatan, SPT 3 memiliki faktor pembatas terberat yaitu lereng permukaan dengan kecuraman 15-25% yang tergolong miring atau berbukti. Kecuraman lereng mempengaruhi tingkat bahaya erosi karena semakin curam lereng maka tanah yang terangkut oleh air akan semakin banyak. Tindakan yang tepat untuk mencegah erosi dengan pembuatan teras, penanaman sejajar kontur dan penanaman tanaman penutup tanah untuk memperkecil aliran permukaan tanah.

4.3.2.4. Kemampuan Lahan SPT 4
Tabel 4.10. Kelas Kemampuan Lahan SPT 4
      Berdasarkan hasil pengamatan, SPT 4 memiliki faktor pembatas terberat yaitu drainase. Drainase SPT 4 dikatakan sangat buruk karenaa seluruh lapisan sampai permukaan tanah berwarna kelabu dan tanah lapisan bawah berwarna kelabu atau terdapat bercak-bercak berwarna kebiruan. Tindakan konservasi yang dilakukan yaitu dengan pembuatan saluran drainase.

4.3.2.5. Kemampuan Lahan SPT 5
Tabel 4.11. Kelas Kemampuan Lahan SPT 5
     Berdasarkan hasil pengamatan, SPT 5 memiliki faktor pembatas terberat yaitu lereng permukaan dengan kecuraman lereng 3-8 % tergolong landai atau berombak dan faktor tingkat erosi yang memiliki kepekaan erosi sebesar 0,11-0,20 yang tergolong rendah. Kecuraman lereng mempengaruhi tingkat bahaya erosi karena semakin curam lereng maka tanah yang terangkut oleh air akan semakin banyak. Tindakan yang tepat untuk mencegah erosi dengan pembuatan teras, penanaman sejajar kontur dan penanaman tanaman penutup tanah untuk memperkecil aliran permukaan tanah. 

4.3.2.6. Kemampuan Lahan SPT 6
Tabel 4.12. Kelas Kemampuan Lahan SPT 6
     Berdasarkan hasil pengamatan, SPT 6 memiliki faktor pembatas terberat yaitu lereng permukaan dengan kecuraman 3-8% yang tergolong landai atau berombak. Kecuraman lereng mempengaruhi tingkat bahaya erosi karena semakin curam lereng maka tanah yang terangkut oleh air akan semakin banyak. Tindakan yang tepat untuk mencegah erosi dengan pembuatan teras, penanaman sejajar kontur dan penanaman tanaman penutup tanah untuk memperkecil aliran permukaan tanah.

4.4. Kesesuaian Lahan
4.4.1. Hasil Pengamatan 
Gambar 4.4. Peta Kesesuaian Lahan Aktual KHDTK Gunung Bromo
Gambar 4.5. Peta Kesesuaian Lahan Potensial KHDTK Gunung Bromo
4.4.2. Pembahasan Tentang Kesesuaian Aktual dan Potensial
4.4.2.1. Hasil Matching Kesesuaian Lahan SPT 1
Tabel 4.13. Hasil Matching Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Blewah (Passiflora quadrangularia) pada SPT 1

       KHDTK Gunung bromo terbagi menjadi 6 SPT. Berdasarkan hasil pengamatan SPT 1 memiliki tingkat kesesuaian S3 (sesuai marginal) untuk penanaman blewah. Faktor penghambatnya yaitu ketersediaan air, hara tersedia dan bahaya erosi. Upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki faktor tersebut adalah dengan pembuatan saluran irigasi, dilakukan pemupukan dan pembuatan teras untuk meningkatkan kelas kesesuai lahan menjadi S2 (cukup sesuai).

4.4.2.2. Hasil Matching Kesesuaian Lahan SPT 2
Tabel 4.14. Hasil Matching Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Blewah (Passiflora quadrangularia) pada SPT 2

     Berdasarkan hasil pengamatan SPT 2 memiliki tingkat kesesuaian S3 (sesuai marginal) untuk penanaman blewah. Faktor penghambatnya yaitu ketersediaan air, hara tersedia dan bahaya erosi. Upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki faktor tersebut adalah dengan pembuatan saluran irigasi untuk curah hujan yang tinggi, pemupukan untuk hara tersedia dan pembuatan teras untuk mengurangi aliran permukaan tanah. Tindakan tersebut dapat meningkatkan kelas kesesuaian menjadi S2 (cukup sesuai).

4.4.2.3. Hasil Matching Kesesuaian Lahan SPT 3
Tabel 4.15. Hasil Matching Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Blewah (Passiflora quadrangularia) pada SPT 3

   Berdasarkan hasil pengamatan SPT 3 memiliki tingkat kesesuaian  N (tidak sesuai) untuk penanaman blewah. Faktor penghambat lahan ini tidak sesuai yaitu bahaya erosi. lahan tersebut dapat digunakan jika dilakukan perbaikan-perbaikan. Namun, membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki faktor tersebut adalah dengan pembuatan teras, penanaman sejajar kontur dan penanaman tanaman penutup tanah. Tindakan tersebut dapat meningkatkan kelas kesesuaian menjadi S3 (sesuai marginal).

4.4.2.4. Hasil Matching Kesesuaian Lahan SPT 4
Tabel 4.16. Hasil Matching Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Blewah (Passiflora quadrangularia) pada SPT 4

   Berdasarkan hasil pengamatan SPT 4 memiliki tingkat kesesuaian  N (tidak sesuai) untuk penanaman blewah. Faktor penghambat yaitu drainase yang buruk. Upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki faktor tersebut adalah pembuatan saluran drainase agar tidak ada genangan di permukaan tanah. Tindakan tersebut dapat meningkatkan kelas kesesuaian menjadi S3 (sesuai marginal) meskipun membutuhkan waktu yang tidak singkat.

4.4.2.5. Hasil Matching Kesesuaian Lahan SPT 5
Tabel 4.16. Hasil Matching Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Blewah (Passiflora quadrangularia) Pada SPT 5

     Berdasarkan hasil pengamatan SPT 5 memiliki tingkat kesesuaian  S3 (sesuai marginal) untuk penanaman blewah. Faktor penghambat yaitu ketersediaan air dan hara tersedia. Upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki faktor tersebut adalah pembuatan saluran irigasi untuk curah hujan yang tinggi dan dilakukan pemupukan untuk hara tersedia. Tindakan tersebut dapat meningkatkan kelas kesesuaian menjadi S2 (cukup sesuai) meskipun membutuhkan waktu yang tidak singkat.

4.4.2.6. Hasil Matching Kesesuaian Lahan SPT 6
Tabel 4.17. Hasil Matching Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Blewah (Passiflora quadrangularia) Pada SPT 6

     Berdasarkan hasil pengamatan SPT 6 memiliki tingkat kesesuaian  S3 (sesuai marginal) untuk penanaman blewah. Faktor penghambat yaitu ketersediaan air dan hara tersedia. Upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki faktor tersebut adalah pembuatan saluran irigasi dan pemupukan. Tindakan tersebut dapat meningkatkan kelas kesesuaian menjadi S2 (cukup sesuai).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
    Kesimpulan yang dapat diambil dari Praktikum Survei Tanah Dan Evaluasi Lahan di KHDTK Gunung Bromo ini adalah :
  1. Hasil survei tanah menunjukkan bahwa Satuan Peta Tanah pada KHDTK Gunung Bromo terdapat 6 SPT.
  2. Menurut soil taxonomy, jenis tanah pada KHDTK Gunung Bromo di dominasi oleh Inseptisols (Satuan Peta Tanah 1 dan 3) dan Alfisol (Satuan Peta Tanah 2, 4, 5 dan 6). 
  3. Kelas kemapuan lahan di KHDTK Gunung Bromo yaitu kelas II-B(I1) pada SPT 1 dan SPT 6, kelas kemampuan III-C(I2) pada SPT 2,  kelas kemampuan lahan IV-D(I3) pada SPT 3, kelas kemampuan lahan V-(D5) pada SPT 4, kelas kemampuan lahan II-B(I1),(E1) pada SPT 5.
  4. Kesesuaian aktual lahan pada KHDTK Gunung Bromo untuk komoditas tanaman blewah tidak sesuai untuk SPT 3 dengan faktor pembatas bahaya erosi dan tidak sesuai untuk SPT 4 dengan faktor pembatas media perakaran. Kesesuaian lahan yang sesuai untuk komoditas blewah pada SPT 1, SPT 2, SPT 5 dan SPT 6. 
  5. Upaya perbaikan SPT 3 agar sesuai untuk komoditas blewah yaitu dengan pembuatan teras, penanaman sejajar kontur dan penanaman tanaman penutup tanah. Upaya perbaikan untuk SPT 4 agar sesuai dengan melakukan pemupukan agar unsur hara yang kurang tersedia menjadi tersedia.

 4.2. Saran
    Saran untuk Praktikum Survei Tanah dan Evaluasi Lahan ini sebaiknya ada pendampingan dari coass yang lebih intensif saat praktikum terlebih saat analisis laboratorium, dan untuk praktikan sebaiknya saat pelaksanaan praktikum ketelitian datanya lebih diperhatikan.

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Sitanala. 2010. Konservasi Tanah dan Air. Bogor: IPB Press. 
Christady H.2007. Penanganan Tanah Longsor dan Erosi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Djaenudin, D., Marwan, H., Subagyo, H., Mulyani, A., dan Suharta, N. 2011. Kriteria Kesesuaian Lahan Untuk Komoditas Pertanian. Bogor: Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.
Endrini Nidya. 2015. Evaluasi kemampuan lahan dengan metode skoring dilahan Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh dan sekitar Tanjung Pati. J. Nasional Ecopedon1(2) : 25 – 27.
Hardjowigeno S, Widiatmaka. 2006. Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tata Guna Lahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Hardjowigeno S, Widiatmaka. 2007. Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tata Guna Lahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Hardjowigeno, S 2002. Klasifikasi Tanah Dan Redogenesis. Jakarta: Akedemika Presindo.
Hendro S. dan Rita Ramayulis. 2012. Timun Suri dan Blewah. Jakarta: Penebar. Swadaya
KartasapoetraG., Kartasapoetra A. G., dan M.M., Sutejo. 2005. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
Probowati, D.D. 2016. Analisis Pendapatan Usahatani Blewah (Cucurbita melo). Bojonegoro: Fakultas Pertanian Universitas Bojonegoro 
Rayes, L. 2007. Metode inventarisasi sumber daya lahan. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset.
Sinukaban, N. 2005. Manual Inti tentang Konservasi Tanah dan Air di Daerah Transmigrasi. Jakarta: PT. Indeco Duta Utama.
Tim Bina Karya Tani. 2009. Budi Daya Tanaman Blewah. Bandung: Yrama Widya


LAMPIRAN
Analisis pH blok 1

Analisis pH blok 2

Titik 130
Pedon SPT 6
Analisis Kimia SPT 6

Titik 133

Post a Comment

© super mipa. All rights reserved.