Laporan Praktikum Teknik Pembuatan Kultur Pot Fungi Mikoriza Arbuskular

I. PENDAHULUAN 
1.1. Latar Belakang
   Fosfor merupakan salah satu unsur esensial yang menjadi pembatas pertumbuhan tanaman. Terdapat banyak tanah yang memiliki masalah dengan ketersediaan fosfor. Hal tersebut dikarenakan fosfor dapat dijerap oleh mineral klei pada tanah sehingga menjadi tidak tersedia. Selain itu, sumber utama fosfor yang berasal dari deposit batuan fosfat membutuhkan waktu lama untuk tersedia sehingga dibutuhkan bantuan untuk meningkatkan ketersediaan fosfor pada tanah-tanah lahan pertanian. 
      Salah satu organisme yang dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara fosfor dalam tanah adalah dengan aplikasi mikoriza sebagai pupuk hijau. Mikoriza merupakan simbiosis jamur dengan akar tanaman, sedangkan fungi arbuskulr mikoriza merupakan endomikoriza yang mana spora mikoriza menginfeksi jaringan dalam (korteks) akar tanaman. Fungi arbuskular mikoriza dalam fungsinya akan membantu akar tanaman menjangkau lebih jauh untuk eksplorasi hara dan meningkatkan ketersediaan hara utamanya fosfor. Selain meningkatkan ketersediaan hara, fungsi arbuskular mikoriza dapat diandalkan dalam mengatasi cekaman kondisi tanah yang ekstrim dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit. 
     Pada umumnya, fungsi arbuskular mikoriza tersebar luas pada seluruh jenis dan kondisi tanah. Sementara itu fngi arbuskular mikoriza mudah ditemukan sporanya pada tanah dengan kondisi kering dibandingkan dengan tanah yang basah. Namun, jumlah fungi arbuskular mikoriza dialam berbeda-beda sesuai dengan kondisi lingkungan. Padahal fungi arbuskular mikoriza sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. 
      Pembuatan inokulum pupuk hayati fungi arbuskular mikoriza dapat dilakukan dalam pot kultur. Kultur pot menggunakan tanaman inang dalam pot yang akarnya akan diinfeksi oleh fungi arbuskular mikoriza. Kultur pot tersebut mengandung akar yang yang diinfeksi fungi arbuskular mikoriza, spora, hifa dan media fungi arbuskular mikoriza. Kultur pot tersebut merupakan sumber inokulum mikoriza. 

1.2. Tujuan 
Memperbanyak inokulum mikoriza untuk pupuk hayati dengan melalui tahap-tahap isolasi spora dari alam, mengkulturkan spora dalam pot kultur dan pengujian hasil perbanyakan.

II. METODELOGI PRAKTIKUM 
2.1. Tempat dan Waktu
Praktikum acara 3 Teknik Pembuatan Kultur Pot Fungi Mikoriza Arbuskular dilakukan pada tanggal 15 April 2019 pukul 13.00-14.45 di Laboratorium Biologi dan Bioteknologi Tanah Fakultas Pertanian UNS.

2.2. Alat dan Bahan
2.2.1. Alat 
  1. Gelas air mineral
  2. Saringan kasar dan halus (spora), 3 tingkat saringan (250 mikron, 90 mikron dan 60 mikron)
  3. Cawan petri 
  4. Mikroskop 
  5. Pipet kecil
  6. Gelas piala
  7. Deglass dan kaca preparat 
  8. Pot plastik kapasitas 250cc
  9. Oven 
  10. Autoclaf
  11. Saringan 
  12. Panci 
  13. Waterbath atau kompor atau pemanas 
  14. Beaker glass
  15. Cawan petri
  16. Mikroskop 

2.2.2. Bahan 
  1. Contoh tanah di sekitar perakaran tanaman
  2. Aquadest
  3. Media kultur pot bisa berupa tanah berpasir, pasir, atau zeolit
  4. Benih jagung atau sorghum
  5. Starter inokulum FMA
  6. Alkohol 
  7. Akar tanaman jagung hasil kultur pot
  8. KOH 1%
  9. Aquadest
  10. HCl 1 N
  11. Tryplanblue 0,05%

2.3. Langkah Kerja
2.3.1. Isolasi 
  1. Mencampur contoh tanah (25 gram) dengan air (100 ml)/perbandingan tanah air = 1 : 5-10) dalam gelas piala, kemudian mengaduk rata dan membiarkan beberapa detik agar partikel kasar mengendap
  2. Menuuang cairan (didekantasi) melalui saringan kasar (25 mikron) untuk memisahkan partikel kasa. Menampung cairan yang melewati saringan pertama. Mencuci saringan dengan air mengalir, tidak menggunakan tangan atau benda lain karena dapat merubah ukuran saringan
  3. Menyaring kembali hasil tampungan dari saringan kedua dengan ukuran saringan yang lebih halus (90 mikron). Menampung hasil saringan kedua dan cuci saringan dengan air mengalir
  4. Menyaring hasil saringan kedua untuk terakhir kali dengan saringan paling halus (60 mikron). Memindahkan sisa yang tertinggal pada saringan dalam cawan petri (±4 petri). Caranya : membalik saringan, menyemprot pada bagian yang terdapat seresah yang tertinggal dengan air dan menaruh cawan petri di bawah saringan
  5. Mengamati hasil saringan pada cawan petri di bawah mikroskop binnokuler, memisahkan spora dari seresah organik dan menghitung jumlah sproranya 

2.3.2. Kultur pot 
  1. Menyiapkan media untuk kultur pot bisa berupa tanah berpasir, pasir atau zeolit. Menyaring, mencuci dan menyeterilkan media dengan oven atau autoclaf selama 3 hari berturut-turut. Menyiapkan media dalam pot-pot plastik ukuran 250 cc.  
  2. Mengecambahkan benih sorgum dan jagung dalam bak kecambah
  3. Membasahi media yang telah disiapkan dan membuat koakan kurang lebih lebar 2 cm dan dalam 3 cm. Memasukkan starter inokulum FMA (spora 50-100 spora/pot atau kultur tersedia sebbanyak 5-10 g/pot) dalam koakan tersebut
  4. Menanam inokulum diatas 2 kecambah sorgum atau 1 kecambah jagung
  5. Memelihara kultur dengan pemberian air secukupnya setiap hari, dihindari tidak sampai tergenang. Menghentikan pemberian pupuk setelah tanaman berumur 2,5 bulan. 
  6. Pada saat tanaman mulai berbunga, penyiraman dihentikan dan membiarkan tanaman perlahan mengering. Setelah mengering, memotong batang tanaman dan memanem akar serta inokulum
  7. Melakukan pemanenan hanya setelah media benar-benar kering dan menyimpan inokulum dalam kantung plastik atau dalam tempat kering. 

III. HASIL PENGAMATAN 

Tabel 3.1. Hasil Isolasi Spora Mikoriza dari Berbagai Sumber Isolat
IV. PEMBAHASAN
     Mikoriza merupakan bentuk asosiasi yang terjadi antara jamur dengan tumbuhan. Adanya mikoriza dapat membantu tanaman dalam penyediaan hara N, P, dan K (Yunus, et al., 2016). Salah satu manfaat dari adanya mikoriza pada perkembangan tanaman berhubungan dengan peningkatan penyerapan nutrisi yang immobile, khususnya fosfat (P) (Bolan, 1991). Mikoriza efektif bekerja pada tanah-tanah yang memiliki ketersediaan P rendah dan mampu memanfaatkan sumber P yang tidak tersedia menjadi dapat diserap oleh tanaman (Effendy, 2008).
     Pada beberapa rhizosfer jagung dan kacang tanah ditemukan mikoriza yang berjumlah 1. Rhizosfer pinus, mahoni dan karet jarang ditemukan mikoriza. Namun, ada satu rhizosfer mahoni yang terdapat mikoriza dengan jumlah 1.
     Menurut Smith and Read dalam Listyowati et, al (2013) Salah satu mikroorganisme tanah bermanfaat yang bersimbiosis dengan tanaman adalah Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA). Simbiosis ini bersifat saling menguntungkan karena fungi mendapatkan senyawa organik karbon dari tanaman inangnya dan sebaliknya fungi membantu akar tanaman menyerap unsur hara terutama unsur hara yang tidak mobil di dalam tanah seperti P, Fe dan Zn. Selain membantu tanaman dalam menyerap unsur hara, hifa FMA yang berkembang di dalam tanah secara langsung dapat memperbaiki sifat fisik tanah melalui perbaikan agre¬gat tanah. Hifa tersebut juga dapat membantu tana¬man menyerap air dari tanah yang jauh lebih efisien dibandingkan rambut akar 
       Menurut Setiadi dalam papilaya (2013) beberapa mikroorganisme seperti jamur mikoriza (AMF) dikenal meningkatkan penyerapan p oleh tanaman. Disamping dapat meningkatkan penyerapan P, fungi arbuskular (FMA) dapat meningkatkan penyerapan nutrisi lainnya yang tersedia pada air dan tanah, kontrol biologi, daya tahan terhadap kekeringan dan menjaga tanaman dari racun oleh logam berat dan patogen yang menyerang akar pada kondisi tanah yang kurang baik. Sebagai tambahan, fungi arbuskular (FMA) juga dapat memproduksi hormon  pengatur tumbuh.
      Hasil pengamatan di laboratorium menunjukkan bahwa tidak semua sampel tanah yang diambil ditemukan spora mikoriza. Spora ditemukan pada tanah dari rhizosfer jagung, mahoni dan kacang tanah. Hal tersebut bisa saja terjadi karena pengambilan sampel tanah tidak tepat pada rhizosfer sehingga tidak terdapat spora mikoriza.
      Stressing adalah proses dimana tanaman diberi tekanan untuk memacu pertumbuhan inokulum mikoriza di akarnya. Tahapan stressing dilakukan ketika tanaman sudah mulai berbunga. Stressing dilakukan dengan menghentikan penyiraman dan membiarkan tanaman mengering perlahan. Setelah batang tanaman mengering, batang dan akar tanaman dipotong kemudian inokulum mikoriza siap dipanen.
      Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora di dalam tanah. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul, vesikel intraseluler, hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa eksternal. Penetrasi hifa dan perkembangannya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensiasi dan proses pertumbuhan (Anas, 1998).
     Manfaat yang dapat diperoleh dari adanya asosiasi mikoriza yaitu peningkatan unsur hara, meningkatkan ketahanan terhadapkekeringan dan tahan terhadap serangan patogen. Peningkatan serapan hara akibat kolonisasi CMA disebabkan oleh tiga hal, yaitu CMA mampu mengurangi jarak yang harus ditempuh permukaan akar tanaman untuk mencapai unsur hara, meningkatnya serapan unsur hara dan konsentrasi pada permukaan penyerapan, mengubah secara kimia sifat-sifat unsur hara kimia sehingga memudahkan penyerapan unsur hara tersebut ke dalam akar tanaman (Harumi, 2006).

V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan 
Kesimpulan yang dapat diambil dari acara Pembuatan Kultur Pot Fungi Mikoriza Arbuskular adalah :
  1. Mikoriza hanya ditemukan pada beberapa isolat yaitu rhizosfer jagung dan rhizosfer kacang tanah
  2. Salah satu rhizosfer mahoni ditemukan mikoriza
  3. Isolat mikoriza yang ditemukan memiliki bentuk yang berbeda-beda.

5.2. Saran
Sebaiknya dibuat jadwal yang jelas dan ditempel mengenai pembuatan kultur pot dan pemeliharaannya sehingga praktikum dapat lebih terkoordinir. 

DAFTAR PUSTAKA
Bolan, N., 1991. A critical review on the role of mycorrhizal fungi in the uptake of phosphorus by plants. Plant and Soil, 134(2), pp. 189-207.
Effendy, M., 2008. Perbaikan Ketersediaan P dan Efisiensi Serapan P oleh Tanaman Bawang Prei dengan Pemberian Asam-asam Organik dan CMA pada Tanah. Buana Sains, 8(1), pp. 51-56.
Harumi N. 2006. Pengujian Efektivitas Inokulum Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) dengan Media Tanam dan Tanaman Inang berbeda pada Rumput.[Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor
Listyowati. Mastutik Sri Et, Al.2013. Pengaruh Sistem Olah Tanah Dan Pemberian Mulsa Bagas Terhadap Populasi Fungi Mikoriza Arbuskula Pada Perkebunan Tebu. Jurnal Agrotropika 18(1): 16-20, Januari-Juni 2013
Papilaya, Pamella Mercy .2013. The Effect Of Arbuscular Mycorrhizae Fungi Toward The Nutrient Availability Of The Gandaria’s Rooting (Boueamacrophylla) In The Different Height Places From The Sea Surface In Ambon Island. Journal Of Science And Research (Ijsr) Volume 4 Issue 9, September 2015
Yunus, M., Syafruddin & Syamsuddin, 2016. Pemanfaatan Fungi Mikoriza Arbuskular Spesifik Lokasi dan Pupuk Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit pada Tanah Ultisol terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.). Jurnal Agrista, 20(3), pp. 150-160.

Post a Comment

© super mipa. All rights reserved.