Sosiologi Pedesaan - Sejarah dan Pengertian

Sosiologi Pedesaan   

 
     Sosiologi pedesaan sebagai salah satu cabang dari sosiologi, perkembangannya tidak terlepas dari peranan para akademisi di Amerika Serikat. Seperti diketahui bahwa sosiologi pedesaan tumbuh dan berkembang pertama kali di Amerika Serikat, bermula dari para pendeta Kristen yang hidup di daerah pedesaan, (pertanian) yang menuliskan bagaimana kondisi sosial ekonomi masyarakat pedesaan yang hidup di bagian utara negeri itu. Lewat tulisan itu mereka berusaha mencari pemecahan problem yang timbul di dalam masyarakat pedesaan. Sosiologi pedesaan adalah dua isilah yang digabungkan menjadi satu, istilah ini ialah istilah Sosiologi dan Desa. 
    Sosiologi secara umum adalah sebuah bidang ilmu yang mempelajari tentang manusia sebagai mahkluk sosial dan interaksi yang terjadi di dalam lingkungan masyarakat. Desa merupakan tempat sebagian besar penduduk yang bermata pencarian di bidang pertanian dan menghasilkan bahan makanan. Sosiologi pedesaan memiliki beberapa ruang ruang lingkup materi, yaitu kajian mengenai penduduk di pedesaan, system dasar masyarakat, struktur dan organisasi sosial, dan pola pemukiman desa.Kajian mengenai penduduk di pedesaan yaitu perkembangan penduduk mengenai tatacara masyarakat mempertahankan keteraturan sosial, hubungan sosial, dan cara masyarakat desa dalam menghadapi perubahan sosial. Struktur organisasi sosial di pedesaan mempelajari tentang perkembangan organisasi dan struktur sosial seperti aparatur kampung, organisasi pertanian, kepemudaan dan organisasi lainya. Pola pemukiman desa menjadi ruang lingkup kajian yang didalami sosiologi pedesaan. Pola pemukiman ini biasanya dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian sosial sehingga diharapkan bisa menjadi referensi ilmiah dalam memperkaya kajian ilmu sosiologi.

Sosiologi 
     Istilah sosiologi berasal dari kata socius dan logos. Socius (bahasa Latin) berarti kawan dan logos (bahasa Yunani) berarti kata atau berbicara. Dengan demikian, ilmu sosiologi berarti ilmu yang berbicara mengenai masyarakat. Sosiologi lahir tatkala Auguste Comte menerbitkan bukunya yang berjudul ―Positive Philosoph pada tahun 1983. Auguste Comte diakui sebagai Bapak Sosiologi. Sosiologi menjadi lebih populer dan berkembang berkat buku ―Principles of Sociology yang ditulis oleh Herbert Spencer tahun 1876. Sosiologi saat filsafat masih dianggap sebagai induk dari segala macam ilmu pengetahuan (Mater scientiarum) disebut sebagai Filsafat Sosial yaitu ilmu yang membahas masyarakat. Apakah sosiologi dapat dimengerti sekedar ―sebagai ilmu masyarakat‖? Apabila diingat bahwa ―masyarakat adalah merupakan konsep yang mengandung arti luas dan tidak jelas, maka memahami sosiologi sekedar dari batasan ini akan menjadi kurang jelas (Nasehudin, 2014). 
     Pitirim A. Sorokin mengatakan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gelaja sosial (misalnya, gejala ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi), hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dan non-sosial (misalnya, pengungsian dengan bencana alam), dan ciri-ciri umum dari semua gejala-gejala sosial (Maryati & Suryawati, 2012). Sosiologi bermula dari ‘sikap berfikir sosiologis’ yang popular akibat adanya revolusi politik di Perancis pada tahun 1792 sampai tahun 1802 dan revolusi industri di Inggris yang berawal di pertengahan abad 19. Kedua revolusi tersebut, terutama revolusi Perancis mampu menggerakan orang untuk berfikir sosiologis karena revolusi Perancis telah mengakibatkan kerusakan pada struktur sosial yang luar biasa pada masyarakat Perancis dan dampaknya yang meluas ke seluruh daratan Eropa. Ekonomi sulit bangkit kembali dan tidak ada satupun para pemikir ekonomi yang mampu memberi jalan agar ekonomi bias bangkit, semua orang mengalami jalan buntu.Situasi dan kondisi yang demikian mendorong para pemikir sosial memutar otak mereka dan kemudian menjadi berkah bagi sosiologi di kemudian hari. Berkah dari pemikiran sosiologi yang spektakuler adalah lahirnya demokrasi di Perancis dan kemudian menjalar di Eropa, dan kemudian di Amerika menemui lahan suburnya (Rahman, 2009).
Sosiologi sebagai disiplin ilmu tersendiri telah dirongrong secara mendasar karena telah menghilangkan konsep masyarakat itu sendiri yang sudah sejak lama menjadi perhatian utamanya. John Urry dalam Sociology beyond Societies (2000) menguraikan bagaimana sosiologi dalam konteks kekinian mendapatkan tantangan besar terutama sejak globalisasi berlangsung, sehingga secara keilmuan konsep masyarakat tersebut perlu diterjemahkan ulang dengan mengalihkan perhatiannya pada pola-pola interaksi sosial yang semakin canggih, mobilitas orang-perorangan yang semakin cepat, hadirnya berbagai macam bentuk agensi serta persoalan kewarganegaraan (citizenship) dalam lingkup global dan peran dari negara-bangsa dalam menjaga bentuk-bentuk kekuasaan yang ada pada ruang lingkup nasional (Fansuri, 2012).

Pedesaan
     Pedesaan berasal dari kata desa.Kata yang berasal dari bahasa Jawa. Desa dalam bahasa etnik yang terdapat di Indonesia dikenal dalam berbagai istilah, seperti Batak disebut dengan huta atau kuta, Minangkabau dikenal sebagai nagari, Aceh disebut sebagai gampong, Bugis dikenal sebagai matowa, Makassar disebut dengan gukang, atau Minahasa deisebut dengan wanua. Peradaban desa dan kota berhubungan dengan ada atau tidaknya ekonomi pasar. Apa itu ekonomi pasar? Dalam bukunya “The Great Transformation” pada bab Rise and Fall of Market Economy, Karl Polanyi menjelaskan bagaimana muncul ekonomi pasar dalam masyarakat penjelasan Polanyi tentang munculnya ekonomi pasar berangkat dari pendapat Thurnwald dari bukunya Economic in Primitive Comunities, pasar tidak ditemukan dimana-mana. Ketiadaannya menunjukkan adanya isolasi tertentu dan kecenderungan ke arah isolasi, tidak lagi dikaitkan dengan suatu perkembangan khusus sebagaimana halnya yang dapat disimpulkan dari kehadirannya. Polanyi menegaskan  bahwa ada atau tidaknya pasar atau uang tidak perlu mempengaruhi sistem ekonomi suatu masyarakat primitif (Indrayani et al.,, 2016).
      Desa yang dapat dijadikan sebagai modal pembangunan ekonomi, menjadi terhambat karena kondisi desa yang seperti tertinggal. Cara untuk meningkatkanatau menggali potensi ekonomi desa agar tidak tertinggal adalah dengan melakukan pembangunan desa. Manfaat dari dilakukannya pembangunan desa adalah peningkatan ekonomi penduduk desa khususnya di desa tertinggal akan dapat dilakukan sehingga menjadi desa yang tidak tertinggal. Kondisi seperti ini memunculkan sebuah cara ataumetode baru dalam hal membangun ekonomi desa yaitu melalui pemberdayaan masyarakat (Andini et al.,, 2015).
      Menggambarkan situasi pembangunan desa di hari ini tidak dapat dilepaskan begitu saja dari konteks pengalaman di masa pemerintahan Orde Baru yangpernah berkuasa selama tiga dekade. Desa kala itu seringkali diposisikan sebagai perpanjangan tangan pemerintah pada level terbawah, dimana sistem sentralistiklah yang diberlakukan sehingga membatasi banyak hak-hak desa. Terbukti dengan substansi UU No. 5 Tahun 1979 yang menempatkan desa dalam pengertian administratif yang juga telah melakukan perubahan-perubahan struktur desa yaitu penyeragaman struktur pemerintahan desa, ini merupakan strategi dari Orde Baru untuk memberikan legitimasi dalam hal kontrol negara terhadap desa. Pengintegrasian struktur pemerintah desa pada pemerintah nasional, menempatkan pemerintah desa sebagai rantai akhir dan terbawah dari sistem birokrasi pemerintah yang sentralistik, ini menjadikan desa hanya menjadi kepanjangan tangan pemerintah pusat. Terakhir ada penghapusan lembaga perwakilan desa dan sentralisasi kekuasaan desa pada kepala desa (Jahja et al., 2012).

Sosiologi Pedesaan
     Menurut John M. Gillette, Sosiologi Pedesaan adalah cabang sosiologi yang secara sistematik mempelajari komunitas-komunitas pedesaan untuk mengungkapkan kondisi serta kecenderungannya, dan merumuskan prinsip-prinsip kemajuan. Menurut N. L. Sims, Sosiologi Pedesaan adalah studi tentang asosiasi antara orang-orang yang hidupnya banyak tergantung pada pertanian. Menurut Dwight Sanderson, Sosiologi Pedesaan adalah sosiologi tentang kehidupan dalam lingkungan pedesaan. Sosiologi Pedesaan menurut T. Lynn Smith dan Paul E. Zoph adalah kumpulan pengetahuan yang telah disistematisasi yang dihasilkan lewat penerapan metode ilmiah ke dalam studi tentang masyarakat pedesan: organisasi dan strukturnya, proses-prosesnya, sistem sosialnya yang pokok, dan perubahan-perubahannya (Usman, 2012).
     Perbedaan secara lebih spesifik Sayogyo memberikan istilah ekososiologi. Ekososiologi adalah sosiologi terapan dalam arti sosiologi yang diterapkan di kontekstualisasi pada dan berbahan baku dari ekosistem human natural. Kemudian menurut buku pedoman program pascasarjana IPB, tujuan dari program pendidikan sosiologi pedesaan IPB secara normatif diantaranya adalah menganalisis masyarakat pedesaan dengan melukiskan dan menjelaskan dari segi mikro dan makro parameter sosial, ekonomi, budaya, dan politik yang melingkupi masalah pembangunan manusia dan masyarakat pedesaan, dan mengawasi dan memahami proses akibat dan dampak perubahan sosial yang menyertai pembangunan (Setiawan, 2018).
     Sosiologi pedesaan dalam sejarahnya dapat dilihat pada implikasi politis Perang Asia Timur Raya. Perang tersebut bertujuan untuk mempengaruhi mentalitas rakyat Indonesia menuju kesesuaian pandangan tentang cita-cita menuju lingkungan kemakmuran bersama Asia Timur Raya, dampak perang itu yaitu terjadinya perubahan sosial pada masyarakat pedesaan selama berlangsungnya pemerintahan pendudukan Jepang di Indonesia, seperti halnya yang terjadi di Sulawesi Selatan pada masanya. Terlihat dari upaya Jepang memobilisasi penduduk desa dalam bentuk organisasi sosial politik baru, seperti Seinendan (Barisan Pemuda), Keibodan (Barisan Keamanan), Hokokai (Himpunan Kebaktian Rakyat), dan pendidikan di Sekolah (Kamaruddin, 2012).

Daftar Pustaka
Nasehudin, 2014). Nasehudin. 2014. Analisis Kehidupan Masyarakat Melalui Pendekatan Sosiologi Pendidikan. J Edueksos 3(2): 77 – 94.
Maryati & Suryawati, 2012 Maryati K, Juju S. 2014. Sosiologi Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Erlangga.
Rahman, 2009 Rahman, Bustami. 2009. Perkembangan Sosiologi di Indonesia. J. Sosiologi : 1 - 3
Fansuri, 2012 Fansuri, Hamzah. 2012. Globalisasi, Postmoderenisme, dan Tantangan Kekinian Sosiologi Indonesia. J. Sosiologi Islam 2(1): 25-40.
Indrayani et al.,, 2016 Indrayani dan Damsar. 2016. Pengantar Sosiologi Pedesaan . Jakarta: Kencana
Andini et al.,, 2015) Andini, dan Ully Hikmah.2015. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dari Desa Tertinggal Menuju Desa Tidak Tertinggal (Studi di Desa Muktiharjo Kecamatan Mergorejo Kebupaten Pati). J.Administrassantoi Publik 2(12): 7-11. 
Jahja et al., 2012 Jahja, Raggoaini, Haryana, Dina Mariana dan Meldi Rendra. 2012. Sistem Informasi Desa: Sistem Informasi dan Data untuk Pembaruan Desa. Yogyakarta: Combine Resource Institution (CRI).
Kamaruddin, 2012 Kamaruddin, Syamsu A. 2012. Pemberontakan Petani UNRA 1943 (Studi Kasus Mengenai Gerakan Sosial di Sulawesi Selatan pada Masa Pendudukan Jepang). J. Sosial Humaniora 16(1): 19-35.

Post a Comment

© super mipa. All rights reserved.